(Taiwan, ROC) --- Sebuah pesawat Boeing 787-9 Dreamliner milik Air Europa, dalam penerbangan dari Madrid, Spanyol, menuju Montevideo, Uruguay, mengalami turbulensi parah dan terpaksa melakukan pendaratan darurat di Brasil.
Turbulensi yang datang tiba-tiba ini mengakibatkan 40 orang terluka dan harus dilarikan ke rumah sakit. Seorang penumpang bahkan terjebak di kompartemen bagasi di atas kepala.
Kursi di dalam kabin juga patah, dan langit-langit kabin mengalami kerusakan, memperlihatkan betapa kuatnya guncangan yang terjadi.
Menurut data maskapai, 40 penumpang yang terluka berasal dari Spanyol, Uruguay, Israel, Jerman, dan Bolivia. Sebagian besar penumpang dalam kondisi stabil, beberapa mengalami patah tulang, dan beberapa lainnya mengalami cedera di bagian kepala.
Turbulensi pada pesawat Boeing 787-9 Dreamliner milik Air Europa, mengakibatkan kerusakan parah. 圖/翻攝自X @alice958
Penerbangan dengan nomor penerbangan UX045 ini dioperasikan dengan pesawat Boeing 787-9, lepas landas dari Spanyol pada pukul 23:57 waktu setempat pada tanggal 30 Juni 2024, membawa 325 penumpang menuju Montevideo, ibu kota Uruguay di Amerika Selatan.
Namun, saat terbang di wilayah udara Brasil, pesawat tiba-tiba melakukan panggilan darurat ke menara kontrol setempat, meminta untuk segera melakukan pendaratan darurat di bandara terdekat.
Setelah pesawat mendarat di Bandara Natal International Airport - Governador Aluízio Alves, ibu kota negara bagian Rio Grande do Norte di Brasil timur laut, diketahui bahwa UX045 mengalami turbulensi parah selama penerbangan, menyebabkan penumpang dan awak kabin terluka.
Pilot kemudian memilih untuk melakukan pendaratan darurat di Brasil agar korban luka dapat segera mendapatkan pertolongan medis.

Akibat turbulensi parah, penumpang pun terlempar dan ada yang sampai terjepit di kompartemen bagasi. 圖/new york post
Para ilmuwan mengatakan bahwa turbulensi di tengah udara cerah yang tidak terlihat dengan mata telanjang, akan menjadi lebih sering terjadi karena faktor perubahan iklim.
Menurut penelitian oleh University of Reading di Inggris, suhu yang lebih panas akibat perubahan iklim akan mengakibatkan lebih banyak turbulensi terjadi pada jalur penerbangan transatlantik.
Data menunjukkan bahwa antara tahun 1979 hingga 2020, terjadi peningkatan sebesar 55% dalam kejadian turbulensi parah, yang dikaitkan dengan perubahan kecepatan angin di dataran tinggi.