(Taiwan, ROC) --- Mahalnya harga rumah membuat banyak orang yang keluarganya sudah memiliki properti, memilih untuk menunggu pembagian warisan.
Namun, dengan meningkatnya kesadaran akan kesehatan dan lingkungan medis yang baik di Taiwan, membuat angka harapan hidup pun ikut meningkat. Hal ini membuat "generasi penunggu (warisan) rumah" kesulitan untuk mewarisi properti dari generasi sebelumnya.
Seorang pengguna forum online berbagi pengalaman keluarganya di platform media sosial lokal Taiwan, PTT, sebut saja namanya Lin.
Kakek Lin membeli apartemen seluas 50 ping (sekitar 165 meter persegi) di lantai empat di salah satu kawasan elit Yonghe. Sejak saat itu, apartemen tersebut ditinggali oleh keluarga Lin.
Sang kakek berjanji akan mewariskan apartemen itu kepada ayah Lin, dan semenjak saat itu, ayah Lin memutuskan untuk tidak membeli rumah.
Setiap kali sang ibu mengusulkan untuk membeli apartemen dengan lift untuk masa pensiun, mereka pasti akan bertengkar hebat. Sang ayah tetap bersikeras untuk tidak membeli rumah, sebaliknya menunggu sang kakek mewarisi tempat tinggalnya
Tanpa disangka, penantian itu berlangsung dari usia 55 hingga 70 tahun. Seiring bertambahnya usia, mereka merasa apartemen itu semakin tidak praktis.
圖/YAHOO股市
Setelah Lin tumbuh besar dan menikah, ia pun memutuskan untuk pindah. Kedua orang tuanya pun kesulitan mengurus apartemen.
Akhirnya, setahun sebelum sang ibu memasuki masa pensiun, mereka memaksakan diri untuk membeli apartemen bekas dengan lift selagi masih bisa mengajukan kredit.
Sang ayah sering mengeluh, "Kenapa di usia senja masih harus menanggung cicilan rumah?"
Kini, sang ayah telah berusia 80 tahun, sementara sang kakek memasuki usia 104 tahun.
Meski berusia 104 tahun, tetapi kondisi sang kakek masih sehat dan bugar, bahkan lebih kuat daripada anaknya (sang ayah) yang sudah harus berjalan dengan tongkat. Sedangkan, sang kakek masih bisa berjalan dan hidup mandiri.
Lin menyatakan bahwa jika ayahnya tidak memaksakan diri untuk membeli rumah pada usia 70 tahun, maka 10 tahun kemudian mereka tidak hanya akan kehilangan warisan, tetapi harga rumah juga akan melonjak dan tidak terjangkau.
Lin menyarankan agar orang-orang membeli rumah sendiri selagi masih muda dan mampu mengajukan kredit.
"Mengandalkan warisan berarti bertaruh dengan risiko waktu dan kesehatan orang tua," lanjut Lin.

圖/EBC地產網
Melihat postingan Lin, tidak sedikit netizen yang sependapat. "Benar, orang-orang sekarang berumur panjang. Kecuali orang tua memiliki lebih dari dua properti, maka menunggu warisan akan sangat berisiko. Apalagi lansia sekarang sangat pintar. Mereka takut tidak ada yang merawat mereka di masa depan, jadi mereka tidak akan sembarangan memberikan harta mereka," tulis salah seorang netizen.
"Untuk bertaruh seperti ini, Anda harus pandai memilih orang tua saat lahir. Jika tidak, Anda mungkin hanya akan mewarisi apartemen tua di kota dan harus membaginya dengan saudara kandung. Apa gunanya?" tambah netizen lainnya.
Menanggapi munculnya fenomena “tunggu warisan (properti)” di atas, Ho Shih-chang (何世昌), salah seorang pakar properti di Taiwan, sebelumnya pernah menyampaikan bahwa jika orang tua memberikan propertinya saat mereka masih hidup, maka sang penerima akan menunggu dalam waktu yang lebih singkat dan dapat menerima properti tersebut, saat orang tua mereka masih hidup.
Namun, saat ini jumlah warisan jauh lebih tinggi daripada hibah. Ini berarti lebih banyak orang tua yang menyimpan properti mereka sendiri dan baru memberikannya kepada generasi berikutnya setelah mereka meninggal.
Akibatnya, sang penerima warisan baru akan mendapatkan warisan properti di usia yang lebih tua, dan waktu menunggu warisan pun semakin lama.