(Taiwan,ROC) —- Laporan terbaru memprediksi gelombang migrasi miliarder global yang memecahkan rekor tahun ini, didorong oleh faktor-faktor seperti risiko geopolitik.
Para miliarder ini diperkirakan akan "melarikan diri" secara massal dari Tiongkok, Inggris, dan India.
Taiwan diperkirakan akan kehilangan bersih 400 miliarder, menempati urutan kedelapan secara global, sementara Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, dan Singapura terus menjadi magnet bagi orang kaya.
Laporan tersebut juga mencatat bahwa Taiwan memiliki lebih dari 62.000 miliarder tahun lalu.
Pada tanggal 18 Juni 2024, perusahaan konsultan investasi lintas negara, Henley & Partners, menggunakan data dari perusahaan intelijen kekayaan New World Wealth, merilis "Laporan Migrasi Kekayaan Pribadi Henley", yang mencantumkan perkiraan arus keluar dan arus masuk dari pemasukan bersih miliarder (individu dengan kekayaan bersih yang dapat diinvestasikan lebih dari US$1 juta) di berbagai lokasi.
Tiongkok diperkirakan akan mengalami arus keluar bersih 15.200 miliarder tahun ini, tetap menjadi yang tertinggi secara global, dan laju arus keluarnya dipercepat dari 13.800 orang tahun lalu.
Jumlah miliarder yang keluar dari Inggris diperkirakan akan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun lalu menjadi 9.500, yang mana angka ini adalah tertinggi sepanjang masa, memecahkan rekor arus keluar bersih 1.600 orang pada tahun 2022.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa sejak Brexit, total 16.500 miliarder telah pindah dari Inggris antara tahun 2017 dan 2023.

圖/UDN
Tiongkok dan India Akan Kehilangan Banyak Miliarder Tahun Ini
Kecepatan arus keluar miliarder dari India diperkirakan akan melambat tahun ini, dengan 4.300 orang diperkirakan akan pergi, turun dari 5.100 orang tahun lalu, tetapi masih menempati urutan ketiga secara global.
Negara atau wilayah dengan arus keluar miliarder terbanyak keempat hingga kesepuluh adalah Korea Selatan (1.200 orang), Rusia (1.000 orang), Brasil (800 orang), Afrika Selatan (600 orang), Taiwan (400 orang, naik dari 300 orang tahun lalu), Nigeria, dan Vietnam (masing-masing 300 orang).
Direktur Eksekutif wadah pemikir think tank independen London, Institute for Government, Will Tanner, menunjukkan bahwa alasan kepergian miliarder dari berbagai tempat berbeda-beda.
Karena skala ekonomi yang besar, Tiongkok dan India telah berhasil menciptakan banyak miliarder. Alasan kepergian miliarder dari India, Brasil, Vietnam, Afrika Selatan, dan Nigeria sering kali adalah untuk mengejar gaya hidup yang lebih baik, lingkungan yang lebih aman dan bersih, serta layanan kesehatan dan pendidikan yang lebih berkualitas.
Sedangkan, di tempat lain, hal ini disebabkan oleh ancaman regional atau ketidakpastian atas posisi keamanan Amerika Serikat, seperti Taiwan dan Korea Selatan.
Menurut laporan tersebut, jumlah miliarder di Taiwan meningkat sebesar 42% antara tahun 2013 hingga 2023, yakni mencapai 62.600 orang.
Jumlah orang dengan kekayaan bersih yang dapat diinvestasikan lebih dari US$100 juta mencapai 135 orang tahun lalu, dan mereka yang memiliki kekayaan bersih yang dapat diinvestasikan lebih dari US$1 miliar berjumlah 23 orang.

圖/wourld journal
Uni Emirat Arab Terus Menjadi Magnet Bagi Para Miliarder
Uni Emirat Arab diperkirakan akan menarik rekor arus masuk 6.700 miliarder pada tahun ini, menduduki puncak dunia untuk tiga tahun berturut-turut.
Selain terus mengalirnya miliarder dari India, Timur Tengah, Rusia, dan Afrika, arus masuk dari Inggris dan Eropa juga akan meningkat.
Amerika Serikat diperkirakan akan menarik 3.800 miliarder tahun ini, menempati urutan kedua, diikuti Singapura dengan 3.500 orang.
Urutan keempat hingga kesepuluh adalah Kanada (3.200 orang), Australia (2.500 orang), Italia (2.200 orang), Swiss (1.500 orang), Yunani (1.200 orang), Portugal (800 orang), dan Jepang (400 orang). Israel diperkirakan akan keluar dari sepuluh besar untuk pertama kalinya dalam hal jumlah miliarder yang datang.
Dominic Volek, Kepala Divisi Klien di Henley & Partners, mengatakan bahwa tahun ini akan menjadi tahun yang penting bagi migrasi kekayaan global.
"Jumlah miliarder yang pindah diperkirakan akan mencapai rekor 128.000 orang tahun ini, jauh melampaui rekor 120.000 orang tahun lalu," katanya.
"Dengan dunia yang terperangkap dalam badai yang sempurna dari ketegangan geopolitik, ketidakpastian ekonomi, dan gejolak sosial, rekor jumlah miliarder memberikan suara mereka dengan kaki mereka," tambah Dominic Volek.
Ia percaya bahwa dalam banyak hal, gelombang besar migrasi miliarder ini adalah indikator utama, yang menunjukkan perubahan besar dalam lanskap global dan lempeng kekayaan, yang akan berdampak besar pada masa depan berbagai negara.
Migrasi miliarder juga sering kali membawa serta gelombang relokasi investasi yang sesuai.
Andrew Amoils, Kepala Penelitian di New World Wealth, percaya bahwa manfaat yang diperoleh daerah-daerah yang diuntungkan dari gelombang migrasi kekayaan dan bakat ini sangat besar dan luas, tidak hanya menguntungkan penerimaan pajak, tetapi juga membantu ekonomi dan lapangan kerja lokal.
Di antara program izin tinggal yang paling populer di kalangan klien Henley & Partners, program Golden Visa Portugal tetap menjadi yang paling populer untuk tahun ini, sementara program kewarganegaraan yang paling disukai adalah program naturalisasi melalui investasi langsung di Malta.