(Taiwan, ROC) -- Pada Senin hari ini (17/6), Komite Transportasi di Yuan Legislatif Yuan hari ini (17) menginspeksi National Institute of Cyber Security (NICS), badan hukum administratif yang berada di bawah naungan Kementerian Pengembangan Digital (MODA). Selain menjelaskan ancaman keamanan siber global yang saat ini dihadapi Taiwan, Kepala NICS, Ho Chuan-Te (何全德), juga menerangkan bagaimana institut tersebut membantu pemerintah dan perusahaan membangun ketahanan keamanan siber dan mengembangkan talenta keamanan siber. Ia juga menyampaikan bahwa NICS telah berhasil mempromosikan diplomasi digital, yang mana berdampak positif pada peningkatan kerja sama antara Taiwan dengan komunitas internasional.
Pada tanggal 17 Juni 2024, Ho Chuan-te, mengemukakan bahwa Laporan Risiko Global yang dirilis oleh Forum Ekonomi Dunia tahun lalu menunjukkan bahwa risiko terbesar yang menjadi perhatian internasional adalah serangan siber terhadap infrastruktur penting negara. Risiko lainnya termasuk kebocoran data pribadi, kerentanan sistem yang diretas, teknologi sosial deepfake rekayasa AI, rantai pasokan keamanan siber, dan pengembangan AI generatif. Selain itu, situasi Taiwan yang unik membuatnya semakin perlu untuk bekerja sama dengan komunitas internasional dan bersama-sama membangun pertahanan. Lebih lanjut Ho Chuan-te menunjukkan bahwa NISC saat ini memiliki 246 staf dengan usia rata-rata 38,5 tahun. Semuanya memiliki persamaan misi yang kuat.
Selain berpartisipasi dalam banyak organisasi internasional dan menandatangani MOU serta melakukan pertukaran intelijen, banyak cendekiawan global bahkan Uni Eropa telah mengirimkan para ahli mereka untuk ditempatkan di institut tersebut, guna berbagi perihal teknologi dan intelijen keamanan siber dengan Taiwan. Ho Chuan-Te menekankan bahwa rasa saling percaya adalah dasar yang sangat penting untuk pertukaran keamanan siber internasional. Terutama dalam beberapa tahun terakhir, teman-teman internasional sangat mementingkan upaya Taiwan di sektor keamanan siber dan ketahanan digital nasional secara keseluruhan. Hal ini memungkinkan Taiwan untuk memperdalam hubungan bilateral dengan Amerika Serikat, Eropa, Asia, dan negara-negara seperti Australia dan Selandia Baru.
Ia mencontohkan kunjungan Menteri Komunikasi Paraguay baru-baru ini, dengan mengatakan bahwa kedua negara telah membuat terobosan besar dalam diplomasi digital.
Ho Chuan-Te mengatakan, "Saya pikir terobosan besar bagi kami kali ini adalah Paraguay. Beberapa bulan yang lalu, Menteri Komunikasi mereka secara khusus datang ke Taiwan untuk berkunjung. Apa yang dilakukan institut kami untuk Paraguay saat ini? Kami memberikan konsultasi untuk sistem medis dan keamanan siber mereka. Kedua, Paraguay berharap Taiwan dapat membantu mereka melatih talenta keamanan siber. Saya mengambil contoh ini untuk menunjukkan bahwa dalam diplomasi digital, Taiwan dapat menggunakan pengalaman dan bakat serta teknologi yang ada untuk membantu negara-negara sahabat, sehingga meningkatkan hubungan kerja sama internasional yang lebih baik antara Taiwan dengan negara-negara sahabat!"
Selain itu, Ho Chuan-Te juga menyatakan bahwa untuk melindungi sektor digital Taiwan, maka pihaknya akan mengembangkan teknologi keamanan siber yang dapat diterapkan dalam waktu 4 tahun. Selain itu, NICS juga akan merujuk pada standar Eropa dan Amerika Serikat untuk membangun kompetensi bakat keamanan siber, serta bekerja sama dengan perguruan tinggi dan universitas untuk memprioritaskan pelatihan Chief Information Security Officer (Kepala Petugas Keamanan Informasi) dan insinyur respons insiden keamanan siber, guna membantu tim profesional yang dibutuhkan oleh sektor perindustrian di berbagai wilayah di Taiwan. Pada saat yang sama, NICS akan membangun ekosistem perlindungan informasi digital, sehingga AI dapat dimaksimalkan untuk memerangi informasi yang salah dan penipuan online.