(Taiwan, ROC) --- Asia, benua dengan populasi terpadat di dunia, menawarkan iklim hangat, pemandangan unik, dan budaya yang beragam, menjadikannya tujuan favorit wisatawan global.
Industri pariwisata di Asia telah berkembang pesat selama beberapa dekade terakhir. Potensi ekonomi yang besar di Asia diproyeksikan akan meningkatkan kontribusinya terhadap PDB global menjadi lebih dari 50% pada tahun 2040.
Media asing merilis daftar 20 negara terfavorit di Asia, dengan Taiwan menempati peringkat ke-2 dan Jepang di peringkat ke-4.
Tiongkok, yang mendapat peringatan perjalanan Level 3 dari Amerika Serikat karena penegakan hukum yang sewenang-wenang oleh pemerintah, tidak masuk dalam daftar.

圖/三立新聞
Insider Monkey merilis daftar 20 negara/wilayah terfavorit, yaitu:
1. Malaysia
2. Taiwan
3. Singapura
4. Jepang
5. Uni Emirat Arab
6. Korea Selatan
7. Filipina
8. Israel
9. Turki
10. Arab Saudi
11. Thailand
12. Indonesia
13. Vietnam
14. Nepal
15. Yordania
16. Bahrain
17. Sri Lanka
18. Hong Kong
19. India
20. Oman.

圖/中央社
Insider Monkey mencatat bahwa ekonomi pasar bebas Taiwan yang sangat meningkat telah diklasifikasikan sebagai ekonomi maju oleh Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional, dengan perkiraan PDB per kapita sebesar US$72.490 (sekitar NT$2,35 juta) pada tahun 2023.
Taiwan juga merupakan negara paling demokratis di Asia, dan keramahan penduduknya sudah terkenal. Semua faktor ini menjadikan Taiwan negara terfavorit kedua di Asia.
Insider Monkey menekankan bahwa setiap negara menawarkan pengalaman yang unik. Namun, ada beberapa negara yang lebih disukai karena arsitektur, pemandangan, budaya, dan kulinernya, atau karena interaksi positif dengan penduduk setempat. Faktor penting lainnya adalah peluang ekonomi yang tersedia. Semua faktor ini bergabung untuk membentuk persepsi jangka panjang tentang negara-negara ini.
Artikel ini juga menyoroti peringatan perjalanan yang dikeluarkan oleh otoritas AS terkait terhadap Tiongkok. Setelah diberlakukannya "Undang-Undang Hubungan Luar Negeri" dan revisi "Undang-Undang Anti-Spionase" Tiongkok tahun lalu, warga AS disarankan untuk "mempertimbangkan kembali" perjalanan ke Tiongkok.
Hal ini untuk menghindari risiko penegakan hukum yang sewenang-wenang, larangan keluar, dan penahanan yang salah oleh otoritas Tiongkok.
圖/三立新聞
Peringatan perjalanan AS menyatakan, "Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok secara sewenang-wenang menegakkan hukum lokal, termasuk mengeluarkan larangan keluar terhadap warga negara AS dan warga negara asing lainnya, tanpa proses hukum yang adil dan transparan."
Peringatan tersebut juga menyebutkan bahwa otoritas Tiongkok tampaknya memiliki keleluasaan yang luas untuk menetapkan berbagai dokumen, data, statistik, atau materi sebagai rahasia negara dan untuk menahan dan menuntut warga negara asing berdasarkan tuduhan spionase.
Peringatan tersebut juga mencantumkan serangkaian kegiatan yang dapat dianggap sebagai kejahatan oleh Beijing, termasuk berpartisipasi dalam demonstrasi, mengirim pesan yang mengkritik kebijakan Tiongkok, dan melakukan penelitian di bidang-bidang sensitif.
Departemen Luar Negeri AS telah mengeluarkan peringatan perjalanan serupa untuk Hong Kong dan Makau, masing-masing menyarankan "peningkatan kehati-hatian exercise increased caution " (Level 2) untuk Hong Kong dan "mempertimbangkan kembali perjalanan" untuk Makau.