(Taiwan, ROC) --- Taiwan sedang menuju masyarakat yang sangat tua, di mana jumlah penduduk lanjut usia yang hidup sendiri terus meningkat.
Data dari Kementerian Dalam Negeri (MOI) menunjukkan bahwa jumlah rumah tangga yang hanya dihuni oleh satu orang lansia berusia 65 tahun ke atas meningkat dari 294.000 rumah pada tahun 2013, menjadi 528.000 rumah pada tahun 2022, atau dengan kata lain meningkat hampir 80% dalam 10 tahun.
Dengan semakin banyaknya jumlah rumah tangga yang tinggal sendiri, membuat kasus "mati kesepian" juga menunjukkan tren yang meningkat.
Di antara enam kota utama di Taiwan, jumlah rumah tangga yang ditempati oleh penduduk lansia terbanyak berada di Kota New Taipei, dengan 106.000 rumah tangga, diikuti oleh Taipei dengan 79.000 rumah tangga, dan Tainan dengan sekitar 49.000 rumah tangga.
示意圖 pixabay
Pada bulan Oktober tahun lalu, Kota New Taipei mengalami tiga kasus dalam satu hari di mana lansia yang tinggal sendirian ditemukan meninggal di rumah setelah beberapa waktu tanpa diketahui.
Sementara itu, di Hsinchu pada bulan September tahun lalu, seorang lansia yang tinggal sendiri ditemukan meninggal di rumahnya dengan tubuh yang telah dimakan oleh anjingnya.
Kepala Desa Chenggong di Distrik Rende, Tainan, Zheng Qing-er (鄭晴而), telah menangani beberapa kasus "mati kesepian" sejak akhir tahun lalu. Dalam beberapa kasus, jenazah baru ditemukan setelah mengeluarkan bau busuk. Dan bahkan setelah dikirim ke rumah duka, tidak ada keluarga atau teman yang muncul, sehingga jenazah harus disimpan dalam lemari pendingin.
Bahkan, ada industri pemakaman yang menargetkan orang tua yang meninggal sendirian tanpa keluarga yang mengurusinya. Mereka turun tangan untuk "mengambil jenazah" dengan dalih membantu menyelenggarakan pemakaman bagi orang miskin, dan mencari sumbangan di mana-mana untuk mengumpulkan uang.

示意圖 pixabay
Zheng Qing-er mengungkapkan keprihatinannya bahwa meskipun jaringan kesejahteraan sosial terlihat lengkap, tetapi aturan hukum yang kaku dan tidak fleksibel sering kali membuatnya sulit untuk membantu.
"Jika bukan keluarga, sulit untuk membantu meskipun ada niat baik," ujarnya.
Ia memberikan contoh seorang warga yang ditemukan meninggal di rumahnya setelah beberapa hari, dengan jenazah yang telah membusuk. Meskipun identitas almarhum diketahui, karena wajah yang rusak dan kurangnya dokumen identitas, rumah duka kemudian menolak menerima jenazah.
Akhirnya, setelah menghubungi Dinas Sosial dan membuktikan bahwa almarhum adalah penerima bantuan sosial, jenazah baru berhasil diterima oleh rumah duka.
Namun, seorang pengurus rumah duka mengatakan bahwa jika sejak awal jenazah dianggap sebagai "jenazah tak dikenal", maka tidak akan ada penolakan.
"Mengetahui identitas tetapi berpura-pura jenazah tak dikenal, bukankah ini sangat kontradiktif?" lanjut Zheng Qing-er.
Zheng Qing-er juga mengkritik, bahwa banyak pusat peduli sosial yang berada di komunitas masyarakat hanya menjalankan formalitas, seperti mengukur tekanan darah dan mengisi formulir, tanpa benar-benar melakukan kunjungan perhatian.
"Pemerintah mengalokasikan anggaran besar setiap tahun, tetapi uang dan sistem tidak diikuti dengan pelaksanaan yang efektif. Apakah pemerintah sudah mengevaluasi dengan serius?" tanyanya.
Dia menyarankan agar pemerintah kota menugaskan satu pegawai negeri untuk mengelola 10 hingga 20 pusat peduli sosial, guna memastikan kunjungan perhatian harus dilaksanakan dengan baik.

圖/聯合報
Ketua Jurusan Pekerjaan Sosial Universitas Chia Nan, Wu Min-hsin (吳敏欣), mengatakan bahwa ketua lingkungan dan ketua RT lebih mampu memahami kondisi lingkungan masing-masing.
Mereka berperan penting dalam menjaga dan memantau situasi. Bahkan, relawan yang mengantarkan makanan atau petugas pos yang mengirim surat dapat mendeteksi ketidakwajaran, seperti "makanan tidak diambil" atau "surat tidak diambil".
Wu Min-hsin menyebutkan bahwa tidak semua orang yang tinggal sendirian adalah orang yang tidak berdaya atau kurang mampu. Beberapa mungkin lebih suka hidup mandiri dan tidak ingin tinggal bersama anak-anak mereka atau di panti jompo.
Meski mereka merasa bisa mengurus diri sendiri, orang luar tidak dapat memaksa mereka untuk "menghindari hidup sendiri." Dan disinilah, perhatian dari luar lingkungan semakin diperlukan.
Melalui ketua lingkungan, ketua RT, relawan, atau tetangga, mereka dapat menjadi penjaga terbaik dengan memperhatikan tanda-tanda, seperti tetangga yang tidak terlihat atau tidak keluar rumah.
圖/YAHOO TAIWAN
Wu Min-hsin memberikan contoh dari Jepang, di mana lansia yang tinggal sendirian setiap hari memasang bendera di depan pintu rumah mereka untuk menunjukkan bahwa mereka dalam keadaan sehat.
Jika bendera tidak dipasang, itu menandakan bahwa mereka sedang tidak sehat dan membutuhkan perhatian segera.
Namun, cara ini juga mendapat kritik karena dianggap terlalu melabelkan kaum lansia. Konsep serupa bisa diterapkan, tetapi detail pelaksanaannya masih bisa dibahas lebih lanjut.