(Taiwan, ROC) -- Kementerian Pendidikan (MOE) Taiwan mendorong calon guru untuk melakukan magang kependidikan di luar negeri. Sejak tahun 2016, program ini telah memberikan subsidi kepada 309 siswa untuk magang ke luar negeri, seperti Amerika Serikat, Jepang, Vietnam, dan Indonesia guna memahami karakteristik pendidikan di sana.
Pada 22 Mei, MOE mengeluarkan siaran pers yang memperkenalkan tujuh rencana magang kependidikan luar negeri untuk tahun ajaran 2023-2024. Universitas Seni Nasional Taipei (TNUA) untuk pertama kalinya mengirimkan tiga mahasiswa magang ke Sekolah Waldorf Cincinnati di Amerika Serikat untuk mempelajari bagaimana daerah tersebut berfokus pada pendidikan holistik melalui desain kurikulum yang beragam, serta menggunakan kelas seni untuk memupuk pengembangan karakter siswa.
Pertukaran budaya merupakan salah satu fokus utama magang ke luar negeri ini. Mahasiswa dari TNUA, Tang Ning-yi (唐寧憶) dan Xie Ci-yu (謝慈彧), menggunakan keahlian pendidikan seni mereka untuk memperkenalkan Festival Musim Semi Taiwan dan budaya suku Tao melalui desain pencahayaan dan kostum kepada siswa setempat. Sementara itu, Wang Pin-qi (王品琪) memperkenalkan latar belakang sejarah Taiwan melalui lagu "Bāng Tshun-hong " (望春風).
TNUA menjelaskan bahwa ketiga mahasiswa magang tersebut terlibat dalam manajemen kelas, membantu guru dalam manajemen ketertiban kelas, menjaga kebersihan lingkungan, dan pembagian tugas kelas. Mereka juga aktif berpartisipasi dalam administrasi sekolah, membantu mengurus pertunjukan drama, karyawisata, rapat orang tua, dan rapat guru, yang secara keseluruhan dapat meningkatkan kemampuan mereka sebagai calon guru di masa depan.
Universitas Bahasa Wenzao Ursulin (WZU) mengirimkan tiga mahasiswa untuk melakukan magang selama dua bulan di Sekolah Taiwan di Ho Chi Minh City, Vietnam. Mahasiswanya, Zhang Yi-lin (張逸琳) menjelaskan bahwa Sekolah Taiwan di Vietnam menggunakan buku cetak Taiwan, tetapi bahasa yang digunakan sehari-hari oleh siswa tidak selalu bahasa Mandarin.
Dalam belajar sistem fonetik Mandarin Bopomofo, metode memori gambar yang umum digunakan di Taiwan sulit diterapkan di Vietnam. Guru setempat menggunakan cerita Bopomofo untuk membantu siswa mengingat cara membaca fonetik. Perbedaan ini lah yang membuat Zhang Yi-lin menyadari pentingnya "mengajar sesuai dengan kebutuhan siswa".
Magang pendidikan di WZU dirancang dengan model sandwich, yaitu magang dilakukan selama dua bulan di Taiwan, kemudian dua bulan di Vietnam, dan kembali lagi dua bulan di Taiwan. Mahasiswa magang Wang Yi-jun (王奕鈞) dan Yang Jun-ping (楊竣評) menyebutkan bahwa pengalaman di luar negeri membuat demonstrasi pengajaran mereka di Taiwan lebih lancar. Mereka juga dapat berbagi pengalaman hidup di luar negeri serta memperkenalkan budaya Vietnam kepada siswa di Taiwan.