(Taiwan, ROC) -- Menanggapi pidato pelantikan Presiden William Lai (賴清德) yang menyinggung hubungan lintas selat, para ahli menganalisis bahwa kebijakan lintas selat milik William Lai bersifat "tegas dan realistis, proaktif tetapi bijaksana". William Lai secara khusus, menyebutkan bahwa Republik Tiongkok dan Republik Rakyat Tiongkok tidak saling tunduk. Penyebutan ini adalah pengakuan atas realitas operasional konstitusional Republik Tiongkok, dan bukan merupakan provokasi. Di sisi lain, Kepala Negara menyerukan kepada Tiongkok untuk memulai kembali pertukaran sipil berdasarkan prinsip kesetaraan dan martabat, seperti pariwisata dan studi mahasiswa, yang mana ini adalah niat baik yang diperlihatkan oleh William Lai. Dan Tiongkok kini harus menunjukkan apakah mereka bersedia menanggapinya dengan niat baik yang sama.
Pakar hubungan lintas selat yang juga adalah profesor di Institut Penelitian Sosial Universitas Nasional Tsing Hua, Chen Ming-chi (陳明祺), memberikan apresiasi tinggi kepada William Lai. Ia menilai bahwa Presiden William Lai memiliki sikap yang tegas dan bijaksana dalam menghadapi isu lintas selat. Di satu sisi, William Lai dengan gamblang menyebutkan tiga alasan mengapa dunia membutuhkan Taiwan. Pertama karena Taiwan adalah rantai demokrasi dunia, kedua, Taiwan merupakan rantai keamanan Asia-Pasifik, dan ketiga, Taiwan adalah rantai pasokan demokrasi. William Lai juga menyampaikan, "Kita memiliki cita-cita untuk mengejar perdamaian, tetapi tidak boleh berilusi." Hal ini jelas menunjukkan sikap realistisnya terhadap isu lintas selat.
Di sisi lain, Presiden William Lai juga mengusulkan dimulainya kembali pariwisata bilateral yang setara serta pertukaran mahasiswa di Taiwan, yang mana ini jelas menunjukkan niat baik yang nyata kepada Tiongkok. Chen Wen-chia (陳文甲), Direktur Pusat Penelitian Nasional dan Pengembangan Regional Universitas Kainan, juga sependapat bahwa sikap dasar Presiden William Lai terhadap hubungan lintas selat adalah kelanjutan dari kebijakan mantan Presiden Tsai Ing-wen (蔡英文), tetapi sedikit lebih lugas dan pragmatis.
Chen Wen-chia mengatakan, “Presiden Lai dan mantan Presiden Tsai memiliki kesamaan dalam kebijakan lintas selat mereka, yang sama-sama menekankan 'Empat Kegigihan', mempertahankan status quo dan pengelolaan lintas selat, serta mengejar perdamaian dan stabilitas. Namun, pernyataan William sedikit lebih lugas dan pragmatis. Terutama ketika dalam pidato pelantikannya, ia dengan tegas mengingatkan rakyat untuk tidak berilusi, serta secara jelas menyebutkan bahwa ambisi Tiongkok untuk menguasai Taiwan tidak akan hilang.”
Direktur Pusat Penelitian Tiongkok di Taiwan Think Tank, Wu Se-chih (吳瑟致), mengatakan bahwa pembahasan mengenai kedaulatan sering dianggap sebagai wilayah sensitif yang banyak dihindari orang. Namun, dalam pidato pelantikan kemarin, William Lai, berbicara dengan lebih jelas. Wu Se-chih menegaskan, pernyataan bahwa "Republik Tiongkok dan Republik Rakyat Tiongkok tidak saling tunduk" bukanlah bentuk provokasi, melainkan pengakuan atas kenyataan operasional konstitusional yang ada.
Wu Se-chih mengatakan, "Menurut saya, Taiwan sudah sampai pada titik di mana fakta hubungan lintas selat harus dijelaskan dengan gamblang. Apa yang sebenarnya kita lihat dalam kehidupan sehari-hari? Konsep negara apa yang dirasakan masyarakat? Bagaimana perbedaan ini memproyeksikan kenyataan dalam imajinasi negara? Oleh karena itu, saya rasa William Lai telah melangkah lebih jauh dalam hal ini. Namun, saya tidak menganggap ini sebagai provokasi karena pada dasarnya dia mengakui kenyataan yang ada. Dalam situasi ini, mempertahankan status quo di Selat Taiwan juga sejalan dengan batasan yang dipegang oleh Amerika Serikat saat ini."
Wu Se-chih juga menekankan bahwa dalam pidato pelantikannya, Presiden William Lai menyebutkan perihal memulai kembali pariwisata dan pertukaran mahasiswa di Taiwan. Pertukaran yang ada juga tidak seharusnya berdasar pada prasyarat politik tertentu. William Lai hanya menekankan prinsip "kesetaraan dan martabat", yang menunjukkan fleksibilitas dan niat baik. Wu Se-chih menganalisis bahwa dalam situasi internasional saat ini, di mana banyak negara menekankan pentingnya menjaga jarak aman dengan Tiongkok tanpa memutus hubungan, Taiwan juga tidak mungkin mengadakan pertukaran resmi yang komprehensif dengan Tiongkok. Terutama dalam beberapa tahun terakhir, pertukaran resmi lintas selat hampir terhenti, sehingga sulit untuk segera memulihkannya. Namun, ada kemungkinan bahwa pertukaran antar masyarakat sipil dapat mencapai terobosan tertentu, dan hal ini tergantung pada apakah Tiongkok bersedia menanggapinya dengan niat yang baik.