History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Profil Presiden Republik Tiongkok ke-16, William Lai, Anak Seorang Pekerja Tambang yang Sukses Meniti Karier Sebagai Dokter, Kini Memimpin Taiwan

  • 20 May, 2024
  • 尤繼富
Profil Presiden Republik Tiongkok ke-16, William Lai, Anak Seorang Pekerja Tambang yang Sukses Meniti Karier Sebagai Dokter, Kini Memimpin Taiwan
Profil Presiden Republik Tiongkok ke-16, William Lai, Anak Seorang Pekerja Tambang yang Sukses Meniti Karier Sebagai Dokter, Kini Memimpin Taiwan 圖/賴清德 臉書

(Taiwan, ROC) --- William Lai (賴清德), lahir pada tanggal 6 Oktober 1959, adalah politikus Taiwan yang berasal dari Partai Progresif Demokratik (DPP).

Ia adalah terpilih sebagai Presiden Republik Tiongkok (Taiwan) ke-16. Sebelumnya William Lai telah menjabat sebagai Perdana Menteri, Wali Kota Tainan, anggota Yuan Legislatif, dan delegasi Majelis Nasional.

William Lai menyelesaikan pendidikan menengah atasnya di Taipei Municipal Jianguo High School dan memperoleh gelar sarjana dari Departemen Rehabilitasi Medis di Universitas Nasional Taiwan.

Setelah itu, ia meraih gelar pascasarjana dari Fakultas Kedokteran Universitas Nasional Cheng Kung, dan pada tahun 2003, ia memperoleh gelar Master Kesehatan Masyarakat dari Universitas Harvard.

Awalnya bekerja sebagai dokter di Rumah Sakit Universitas Nasional Cheng Kung dan Rumah Sakit Sinlau Christian Hospital, William Lai memulai karier politiknya sebagai koordinator nasional untuk grup pendukung dokter dalam kampanye Chen Ding-nan (陳定南).

William Lai telah terpilih beberapa kali sebagai delegasi Majelis Nasional dan anggota Yuan Legislatif, terpilih sebagai Wali Kota Tainan pada tahun 2010 dan berhasil menjabat kembali pada tahun 2014.

誠實、務實、踏實賴清德打造「健康台灣」 - 醫學有故事

William Lai saat mengabdi menjadi seorang dokter. 圖/醫師有故事

William Lai ditunjuk oleh Presiden Tsai Ing-wen (蔡英文) sebagai Perdana Menteri pada tahun 2017, tetapi kemudian mengundurkan diri pada 14 Januari tahun berikutnya setelah Partai Progresif Demokratik (DPP) mengalami kekalahan besar dalam pemilihan kepala daerah pada November 2018.

Pada tahun 2019, William Lai ikut serta dalam pemilihan pendahuluan internal partai DPP untuk Pemilihan Presiden Republik Tiongkok 2020, tetapi kalah dari Tsai Ing-wen yang mengusung periode kedua.

Setelah itu, ia menjadi calon wakil presiden dan terpilih pada 11 Januari 2020, kemudian dilantik sebagai Wakil Presiden pada tanggal 20 Mei 2020.

醫學教育啟發從政3精神賴清德盼成為金庸小說的「他」 - 政治- 自由時報電子報

William Lai 圖/自由時報

Pada November 2022, setelah DPP kembali mengalami kekalahan dalam pemilihan kepala daerah, William Lai terpilih sebagai Ketua DPP. Pada 12 April 2023, William Lai menerima nominasi DPP untuk maju dalam Pemilihan Presiden Republik Tiongkok 2024.

Pada 20 November 2023, ia dan calon wakil presidennya, Hsiao Bi-khim (蕭美琴), mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (CEC).

Pada 13 Januari 2024, William Lai terpilih sebagai Presiden dengan 40.05% suara, menjadikannya presiden pertama dari Taiwan yang berlatar belakang sebagai dokter dan presiden pertama yang terpilih dari posisi Wakil Presiden.

Sementara itu, DPP berhasil mempertahankan pemerintahan untuk periode ketiga secara berturut-turut, mencatat rekor terlama pemerintahan berkelanjutan oleh satu partai sejak Pemilihan Presiden Republik Tiongkok dimulai pada tahun 1996.

Kehidupan Awal dan Masa Kecil

William Lai lahir di kawasan Wanli, Kota New Taipei dan tumbuh di pesisir utara Taiwan. Ayahnya, Lai Chao-jin (賴朝金), adalah penduduk asli Wanli dan berprofesi sebagai penambang.

Pada tanggal 8 Januari 1960, ayahnya meninggal karena keracunan monoksida karbon saat bekerja di tambang batu bara di Kabupaten Wanli pada usia 33 tahun.

Saat itu, William Lai baru berusia 95 hari. Setelah kematian mendadak ayahnya, ibunya, Lai Tong-hao (賴童好), membesarkan enam anaknya sendirian.

憶賴清德老家「殘破不堪」 國小同學爆:他綽號「大頭德」

William Lai kecil lahir di tengah ekonomi keluarga pas-pas-an, ayahnya adalah seorang pekerja tambang di Wanli. 圖/華視

William Lai menyelesaikan pendidikannya di Wanli Elementary School dan Wanli Junior High School di Kota New Taipei, dan kemudian melanjutkan ke Taipei Municipal Jianguo High School, menjadi siswa pertama dari Wanli yang bersekolah di Jianguo High School.

Setelah lulus sekolah menengah, William Lai melanjutkan studinya di Universitas Nasional Taiwan (NTU), di mana ia memperoleh gelar sarjana dari Departemen Rehabilitasi Medis.

Setelah lulus dari universitas, William Lai menunaikan wajib militer dan bertugas di Pulau Kinmen. Selama wajib militer, ia menjabat sebagai komandan kesehatan di Batalyon Infanteri ke-5, dan terpilih sebagai salah satu dari sepuluh perwira terbaik di wilayah pertahanannya.

當年辜負母親期待礦工之子賴清德棄醫從政的政壇之路

William Lai berfoto dengan sang ibunda Lai Tong-hao (賴童好). 圖/財訊

Setelah menuntaskan wajib militer, ia bekerja sebagai fisioterapis di Renji Hospital di Distrik Wanhua, Kota Taipei, selama setahun sebelum lulus dari program pascasarjana di Fakultas Kedokteran Universitas Nasional Cheng Kung, di mana ia kemudian bekerja sebagai dokter di Cheng Kung Hospital dan Sinlau Christian Hospital.

Pada tahun 1994, William Lai mulai terlibat dalam pelayanan publik. Ia menerima nominasi dari Partai DPP untuk menjadi kepala "Asosiasi Dokter Nasional" untuk kampanye Chen Ding-nan (陳定南), dan mulai menjadikan Tainan, tempat ia bekerja sebagai dokter, sebagai panggung politiknya.

Terpilih Menjadi Wakil Rakyat

Pada tahun 1996, William Lai terpilih sebagai anggota Majelis Nasional ketiga mewakili Distrik Pemilihan Pertama Kota Tainan.

Pada tahun 1998, ia terpilih sebagai anggota legislatif untuk Kota Tainan. Selama masa jabatannya empat periode berturut-tururt, William Lai dinobatkan sebagai "Peringkat Pertama Komite Dalam Negeri Yuan Legislatif" oleh Aliansi Pemantau Yuan Legislatif Warga Negara.

Pada tahun 2004, William Lai mengikuti program kunjungan "Elite Program" Kementerian Luar Negeri AS.

Selama Pemilihan Anggota Legislatif tahun 2008, pesaing William Lai dari Partai Kuomintang, Kao Su-po (高思博), menuduh William Lai mengalami peningkatan kekayaan yang mencurigakan dan diduga menerima sumbangan politik ilegal.

Selain itu, William Lai juga dituduh terlibat dalam skandal lobi oleh Asosiasi Dokter Gigi terkait dengan undang-undang "Hukum Kesehatan Mulut."

Namun, karena William Lai tidak aktif dalam mempromosikan legislasi "Hukum Kesehatan Mulut" dan tidak ada bukti yang cukup terkait tuduhan suap atau sumbangan politik, maka jaksa memutuskan untuk tidak mendakwa Lai atas tuduhan korupsi.

William Lai saat menjabat anggota Yuan Legislatif 圖/TVBS

Memimpin Kota Tainan

Pada tanggal 21 Januari 2009, Partai DPP memutuskan untuk mencalonkan William Lai dalam Pemilihan Wali Kota Tainan 2009. Setelah proposal penggabungan Kabupaten dan Kota Tainan disetujui, William Lai kembali dipilih melalui survei internal partai untuk mengikuti Pemilihan Walikota Tainan pada tahun 2010.

Selama masa kampanye, lawannya dari Partai Kuomintang, Kuo Tien-tsai (郭添財), menuduh William Lai pernah membantu seorang tersangka pelaku pelecehan seksual mengajukan kompensasi dari negara, dan menjadikan isu ini sebagai bahan kampanye besar-besaran.

Tim kampanye William Lai menuntut Kuo Tien-tsa atas tuduhan ini. Akhirnya, Kuo Tien-tsa mengakui bahwa ia menggunakan data yang salah dan meminta maaf kepada William Lai, yang kemudian mencabut tuntutannya, dan kedua belah pihak berdamai.

Pada 27 November 2010, William Lai berhasil terpilih sebagai Wali Kota Tainan pertama setelah perubahan status menjadi kota langsung di bawah pemerintahan pusat. Ia diundang untuk menghadiri rapat kabinet di Yuan Eksekutif pada tanggal 30 Desember tahun yang sama.

賴清德公開宣示:我主張台灣獨立! - 鯨魚網站

William Lai saat menjabat posisi Wali Kota Tainan 圖/中央社資料照

Karier Politik dan Kepemimpinan di Partai Progresif Demokratik

Setelah Partai DPP mengalami kekalahan dalam Pemilihan Presiden tahun 2012, Ketua DPP di kala itu, Tsai Ing-wen, mengundurkan diri sebagai bentuk tanggung jawab.

William Lai, yang saat itu menjabat sebagai Wali Kota Tainan, menjadi salah satu kandidat terkuat untuk posisi ketua partai berikutnya.

Selain William Lai, Wali Kota Kaohsiung, Chen Chu (陳菊), juga dianggap sebagai salah satu pejabat tertinggi di DPP dan secara otomatis diundang untuk menghadiri rapat kabinet Yuan Eksekutif. Namun, Chen Chu kemudian ditunjuk sebagai ketua sementara, dan William Lai tidak mencalonkan diri sebagai ketua partai berikutnya.

Posisi tersebut akhirnya dimenangkan oleh mantan Perdana Menteri Su Tseng-chang (蘇貞昌) dengan mayoritas suara.

Pada tahun 2012, survei "Kota Paling Bahagia" yang dilakukan oleh CommonWealth Magazine menempatkan William Lai sebagai wali kota dengan tingkat kepuasan tertinggi di seluruh Taiwan.

Pada tahun 2012, survei "Kota Paling Bahagia" yang dilakukan oleh CommonWealth Magazine menempatkan William Lai sebagai wali kota dengan tingkat kepuasan tertinggi di seluruh Taiwan.

Dalam Pilkada tahun 2014, William Lai mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua sebagai Wali Kota Tainan. Dengan slogan kampanye "Bersih, Bertanggung Jawab, Inovatif", ia berjanji untuk menjalankan kampanye yang progresif, bertanggung jawab, dan positif.

Strategi kampanyenya meliputi tidak mendirikan markas kampanye, tidak memasang papan reklame, tidak menancapkan bendera, tidak menggunakan mobil kampanye, dan memastikan pemerintahan tidak terganggu.

Pada saat itu, Ko Wen-je (柯文哲), yang juga berlatar belakang medis, juga mencalonkan diri untuk ikut dalam nominasi Wali Kota Taipei.

Pada pemungutan suara tanggal 29 November 2014, William Lai terpilih kembali dengan mudah, dengan persentase suara tertinggi dalam sejarah pemilihan walikota di Taiwan sejak pencabutan darurat militer pada tahun 1987.

Pada 3 Juli 2015, setelah kebakaran besar dalam insiden Ledakan Formosa Fun Coast, William Lai juga turut menyumbangkan satu bulan gajinya untuk membantu korban.

undefined

William Lai saat menjabat sebagai Wakil Presiden ROC. 圖/維基百科

Anak Pekerja Tambang Kini Menjadi Presiden Taiwan, Media AFP: William Lai Bertekad Mempertahankan Demokrasi, Kebebasan dan Melawan Tekanan dari Tiongkok

(Taiwan, ROC) --- Media Agence France-Presse (AFP) mewartakan bahwa William Lai, yang berasal dari latar belakang kurang mampu, resmi menjabat sebagai Presiden Republik Tiongkok (ROC) Taiwan pada tanggal 20 Mei 2024, dengan tanggung jawab besar untuk menjaga demokrasi dan kebebasan Taiwan di tengah meningkatnya tekanan dari Tiongkok.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa William Lai, yang lahir pada tahun 1959, adalah putra seorang penambang dan tumbuh besar di daerah pedesaan di Kota New Taipei.

Ketika masih kecil, ayahnya meninggal dalam kecelakaan tambang, meninggalkan ibunya untuk membesarkan dia dan lima saudara kandungnya sendirian.

William Lai lulus dari Universitas Harvard dengan jurusan Kesehatan Masyarakat dan bekerja di rumah sakit di Taiwan bagian selatan selama bertahun-tahun.

Hingga Krisis Selat Taiwan Ketiga pada tahun 1996, ia akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia politik.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa William Lai pernah menjabat sebagai anggota Yuan Legislatif, Wali Kota Tainan, Perdana Menteri, Wakil Presiden, dan sekarang resmi menjadi Presiden.

Dalam kampanyenya, William Lai berjanji untuk melindungi demokrasi Taiwan dan menolak tekanan Tiongkok terhadap kedaulatan Taiwan, yang membawanya pada kemenangan yang luar biasa.

Dia menyatakan bahwa kemenangan rakyat Taiwan mengirimkan pesan yang jelas kepada Tiongkok bahwa mereka menolak otoritarianisme.

Dalam pidato terbarunya, William Lai mengatakan bahwa meskipun demokrasi Taiwan menghadapi ancaman dari disinformasi luar negeri, ancaman militer, dan paksaan ekonomi, tetapi ancaman dari Tiongkok hanya akan memicu tekad Taiwan untuk mempertahankan demokrasi dan kebebasannya.

Selain itu, William Lai berjanji untuk melanjutkan kebijakan pemerintahan Tsai Ing-wen, memperkuat kekuatan militer Taiwan untuk mencegah potensi invasi dari Tiongkok.

Meskipun dalam beberapa tahun terakhir ia telah melunakkan gaya bicaranya yang tegas, sikapnya terhadap Tiongkok tetap memicu ketidakpuasan dari Beijing.

Tiongkok menganggap William Lai sebagai "ekstremis" yang mendukung Taiwan berdaulat dan "perusak perdamaian", serta memperingatkan bahwa ia akan membawa Taiwan ke dalam "perang dan kehancuran".

William Lai menyatakan bahwa ia bersedia berkomunikasi dengan Tiongkok dengan syarat adanya "kesetaraan dan martabat", tetapi tidak akan mengorbankan kedaulatan Taiwan demi keuntungan ekonomi.

Ia menolak prinsip "Satu Tiongkok" yang dianut oleh Tiongkok, dengan alasan bahwa perdamaian tanpa kedaulatan hanya akan menghasilkan perdamaian yang semu, seperti halnya yang terjadi di Hong Kong.

Mengenai sikap William Lai terhadap masalah Taiwan berdaulat, timbul kekhawatiran tentang bagaimana ia akan menangani hubungan dengan Tiongkok.

Namun, beberapa pengamat politik percaya bahwa pada tahun pemilihan presiden Amerika Serikat, William Lai tidak mungkin mengambil langkah yang akan memicu konsekuensi rumit.

Ryan Hass, seorang peneliti senior di Brookings Institution, mengatakan kepada AFP bahwa William Lai bukanlah seorang ekstremis yang hanya memikirkan Taiwan berdaulat, melainkan seorang politisi profesional yang akan mempertimbangkan kariernya dan kepentingan Taiwan secara keseluruhan.

Komentar

Terbarumore