(Taiwan, ROC)-- Radio Taiwan International (Rti) pada 7 April mengadakan Forum Taiwan di Kantor Perwakilan Taiwan di Jerman dengan tema "Strategi Taiwan di Tengah Ketidakstabilan Global". Mereka mengundang CEO The Prospect Foundation Lai I-Chung (賴怡忠), Jurnalis Der Spiegel, Cornelius Dieckmann, dan lainnya untuk membahas tantangan domestik dan internasional yang dihadapi Taiwan pasca pemilihan presiden, serta kekuatan lunaknya. Acara tersebut dihadiri oleh lebih dari 60 akademisi dan media lokal dan diskusi di lokasi berlangsung sangat meriah.
Menanggapi pemilihan umum presiden Taiwan yang berlangsung dengan damai, Profesor Ming-chin Monique Chu (朱明琴) yang mengajar di Universitas Southampton di Inggris mengungkapkan bahwa di tengah kemunduran demokrasi global, sistem demokrasi Taiwan semakin solid, yang dapat dikatakan sebagai makna utama dari pemilihan ini. Karena Taiwan berbagi nilai-nilai yang sama dengan negara-negara Barat dan menempati posisi kunci dalam industri semikonduktor, Taiwan semakin dihargai di dunia internasional dalam beberapa tahun terakhir.
Cornelius Dieckmann menyebutkan, setelah perang Rusia-Ukraina, Taiwan lebih dihargai di Eropa daripada sebelumnya. Dia menganalisis bahwa Jerman awalnya bersikap ramah terhadap Rusia dan melihat Tiongkok sebagai mitra. Namun, setelah invasi militer Rusia ke Ukraina, Tiongkok mengabaikan ancaman keamanan yang dirasakan oleh negara-negara Eropa dan berpihak pihak Rusia. Akibatnya, Jerman mengubah sikapnya terhadap Rusia dan Tiongkok, dan memberikan lebih banyak perhatian kepada Taiwan yang terancam oleh kekuatan militer Tiongkok.
Namun, Lai I-Chung mengingatkan bahwa sistem demokrasi Taiwan masih menghadapi tantangan besar. Pertama, Tiongkok menggunakan platform media sosial seperti TikTok untuk mempengaruhi keinginan memilih masyarakat. Kedua, banyak berita palsu yang tersebar. Menurutnya, dari sudut media, demokrasi di Taiwan belum sepenuhnya solid, dan negara-negara demokratis yang terbuka mengalami masalah yang sama, yakni bagaimana cara mereka menghadapi campur tangan negara otoriter dalam pemilihan mereka.
Setelah pembahasan serius tentang isu-isu diplomatik, forum memasuki tahap kedua yang lebih santai. Pertama-tama, Musisi Wu Ruei-ran (吳睿然) yang tinggal di Wina tampil memainkan piano dan akordeon, sambil menyanyikan lagu mengenai kisah hidupnya di Filipina, Taiwan, Austria, hingga Jepang, yang menyoroti identitas budaya yang beragam dan sikap inklusif Taiwan.
Kemudian, Chen Ting-jung (陳庭榕) yang juga tinggal di Austria dan pernah mendapatkan Taishin Arts Award menjelaskan bahwa ia menciptakan karya seni yang menggunakan suara sebagai medium untuk mengeksplorasi efek "pencucian otak" dari propaganda politik. Karya seninya tersebut terinspirasi dari Tembok Siaran Berishan di Kinmen dan propaganda yang disiarkan oleh Rti kepada Tiongkok selama era Perang Dingin.
Forum ini kemudian ditutup oleh Chairwoman Rti Cheryl Lai (賴秀如). Ia mengenang perjalanan panjang Rti, dari misi propaganda anti-komunis, mendorong warga Tiongkok pindah ke Taiwan, hingga menjadi media publik yang dimiliki oleh seluruh masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, Rti juga membuka layanan bahasa Myanmar dan Ukraina untuk mengikuti perubahan drastis di kedua negara tersebut.