(Taiwan, ROC) --- Dampak pemanasan global semakin hari semakin jelas, banyak orang juga mulai merasakan bahwa periode musim semi dan musim gugur secara perlahan menghilang, sehingga meningkatkan perhatian masyarakat terhadap perubahan lingkungan.
"Laporan Ilmiah Perubahan Iklim Nasional 2024" yang dirilis oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Dewan Riset Nasional bahkan memperkirakan bahwa setiap tahunnya musim panas di Taiwan akan berlangsung selama lebih dari setengah tahun.
Dalam laporan tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup dan Dewan Riset Nasional menjelaskan bahwa jika emisi gas rumah kaca tidak dapat dikendalikan dengan efektif, maka Taiwan berisiko menghadapi musim panas yang terik dengan suhu melebihi 36°C selama tujuh bulan penuh hingga akhir abad ini.

圖/YAHOO TAIWAN
Terkait dengan hal ini, juru bicara Taiwan Centers for Disease Control, Tseng Shu-hui (曾淑慧), menggarisbawahi pentingnya meningkatkan kewaspadaan terhadap serangan demam berdarah.
Tseng Shu-hui kemudian mengutip data dari Ditjen Klimatologi Sentral (CWA) menjelaskan bahwa saat ini sedang dipertimbangkan langkah-langkah penanganan terhadap "penyakit yang terkait dengan suhu", terutama penyakit demam berdarah yang utamanya ditularkan oleh nyamuk pembawa penyakit.
Di tengah keberadaan nyamuk di seluruh Taiwan, juga akan diperhatikan apakah jumlah nyamuk Aedes aegypti meningkat, serta mengimbau semua orang untuk berhati-hati.

圖/聯合報
Meskipun wabah sebelumnya sebagian besar terkonsentrasi di wilayah selatan Chiayi, tetapi sebuah kasus telah dilaporkan di Kaohsiung pada tahun ini.
Oleh karena itu, CDC akan berupaya maksimal untuk menurunkan indeks nyamuk pembawa penyakit, guna mencegah penyebaran wabah dan terjadinya kluster.
Tseng Shu-hui juga menegaskan bahwa kasus positif bukan tidak pernah terjadi di wilayah utara. Ia mengingatkan kepada para warga akan pentingnya menghilangkan genangan air yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak sumber penyakit.