(Taiwan, ROC) -- Asia Pacific Social Innovation Summit (APSIS) ke-7 berlangsung selama 2 hari berturut-turut pada tanggal 4 – 5 Mei 2024. Acara ini menghadirkan 114 pembicara dari 13 negara dan wilayah.
Forum tersebut menghadirkan beberapa sesi acara yang berlangsung selama 2 hari, selain juga memberikan penghargaan untuk organisasi atau komunitas yang berjasa dalam inovasi sosial, untuk lingkungan hidup dan masyarakat.
Salah satu sesi acara menghadirkan aktivis lingkungan dari Taiwan bernama Chen Ren-ping. Ia memberikan pembahasan tentang pulau kecil yang diminati oleh para wisatawan, baik domestik maupun internasional, yaitu Xiao Liug Qiu. Terkait dengan hal tersebut, ia pun membentuk gerakan khusus. Selain melakukan pembersihan sampah pantai, Chen bersama keluarga dan teman-temannya bekerja sama dengan seniman lokal membuat “batu uang” yang dapat ditukar dan dijadikan kenang-kenangan, menarik para wisatawan untuk turut bersumbangsih dalam pembersihan lingkungan di Xiao Liu Qiu.
Apa yang dimaksud dengan “batu uang”? Batu uang ini sejatinya merupakan batuan kaca yang berasal dari pecahan botol, toples, piring, jendela, hingga aneka perabot berbahan kaca yang kemudian menjadi sampah dan dibuang sembarangan hingga terbawa ke laut.
Batuan ini menjadi sangat menarik karena dapat ditemukan di berbagai wilayah pantai setelah tergerus oleh ombak lautan. Masyarakat yang menemukan bebatuan ini biasanya akan mengambilnya sebagai kenang-kenangan, menjadikannya hiasan akuarium, atau bahkan dijual kembali karena bernilai ekonomi.
Terkait dengan hal ini, Chen Ren-ping pun melihat kesempatan emas untuk mengajak masyarakat dan wisatawan bekerja sama dalam membersihkan pantai dan lingkungan di sekitar Xiao Liu Qiu.
Bekerja sama dengan para seniman lokal, ia membentuk gerakan, jika Anda mengikuti kegiatan pembersihan lingkungan dan menemukan batuan kaca, maka batuan tersebut dapat diberikan kepada seniman yang bekerja sama dengannya untuk dihias, kemudian dijadikan kenang-kenangan.
Dirasa hal tersebut belumlah cukup, batuan kaca ini kemudian tidak hanya dapat dijadikan kenang-kenangan. Para pemilik usaha lokal sekitar selanjutnya juga diajak bekerja sama, di mana batuan kaca tersebut dapat dijadikan alat tukar selayaknya uang untuk digantikan dengan makanan ataupun minuman. Para pebisnis lokal menyambut baik hal ini, bahkan mereka juga turut berkontribusi dengan menghadirkan usaha ramah lingkungan, termasuk menyediakan tempat makan yang dapat disewakan dan digunakan secara berulang.
Usaha ini tidaklah sia-sia, banyak pendatang atau wisatawan yang berkunjung ke Xiao Liu Qiu mengikuti kegiatan ini. Menurut mereka kegiatan ini sangat menarik, selain berwisata, mereka pun dapat berkontribusi pada alam sekitar dan memberikan dampak untuk wisata berkelanjutan di Xiao Liu Qiu.
Namun, bagaimana mengatasi banyaknya sampah stereofoam yang ada di sekitar pantai? Menyikapi hal tersebut, Chen Ren-ping juga memiliki ide menarik, yaitu membentuk streofoam menjadi kenang-kenangan berbentuk penyu khas Xiao Liu Qiu dengan cara melumerkannya sehingga menjadi cairan kental terlebih dahulu, kemudian dicetak dan diberi zat warna-warni yang indah.
Sebagai penutup, ia pun berharap agar masyarakat di wilayah lain dapat mengikuti langkah ini, tidak hanya berwisata, tapi juga berkontribusi bagi lingkungan sekitar dan memberikan dampak positif demi wisata yang berkesinambungan dan keberlanjutan lingkungan.