(Taiwan, ROC) -- Asia Pacific Social Innovation Summit ke-7 untuk tahun ini berlangsung mulai hari ini (4/5) selama 2 hari berturut-turut di National Chi Nan University (NCNU) Nantou Taiwan, kali ini khusus mengundang Melati Riyanto Wijsen, seorang generasi Z asal Indonesia untuk berbagi gerakan yang sudah ia mulai sejak berusia 12 tahun, sehingga membuat pemerintah Indonesia mengumumkan larangan penggunaan kantong plastik. Melati Riyanto Wijsen yang menjadi salah seorang penceramah dalam kegiatan tahunan ini mengemukakan, setiap hembusan napas kita semua berhubungan dengan samudera, manusia harus peduli dan menjaga lingkungan tanpa membedakan usia. Melati beranggapan bahwa kunci dari dia dan adiknya yang akhirnya bisa mengerakan pemerintah Indonesia untuk melakukan perubahan adalah harus bersikeras, konsisten dan jelas dengan rencana dan target, dan juga harus tetap pada prinsip, jangan putus asa atau tidak disiplin, harus bisa menjadi contoh bagi tim kerja samanya, dengan demikaina barulah semua percaya dan yakin bahwa perubahan bukanlah hal yang tidak mungkin.
Melati Riyanto Wijsen di usianya yang baru genap 12 tahun bersama adiknya Isable Wijsen yang pada waktu itu baru berusia 10 tahun melihat sampah plastik berserakan di kampung halamannya yaitu Bali, Indonesia, untuk itulah ia mendirikan organisasi “Bye Bye Plastic Bags” mempelopori gerakan penghentian pemakaian kantong plastik, dengan menggunakan berbagai aksi seperti petisi, membersihkan pantai bahkan sampai mogok makan dan lainnya sehingga akhirnya bisa memengaruhi pemerintah Indonesia untuk mengumumkan larangan penggunaan kantong plastik Jakarta dan Bali, hal ini menjadi perhatian mata dunia internasional.
Melati Wijsen yang tahun ini berusia 23 tahun diundang secara khusus untuk berbicara dalam Asia Pacific Social Innovation Summit ke-7 pada hari Sabtu (4/5) siang, Melati sendiri menyampaikan bahwa ia adalah perwakilan dari generasi Z, untuk melakukan perubahan, sekarang adalah waktunya. Setelah Melati memulai gerakannya pada usia 12 tahun, dalam waktu singkat 2 tahun saat ia baru berusia 14 tahun, Melati untuk perdana menginjakkan kaki di sidang Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), seterusnya ia juga bertemu dengan mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama, dan bertemu dengan orang-orang penting dunia.
Melati Wijsen menyampaikan, populasi dunia sudah ada 600 juta jiwa pasa saat ia dilahirkan, sekarang ini sudah bertambah banyak, ilmuwan menyebutkan bahwa keadaan ini sudah tidak bisa mencapai keseimbangan dengan alam, memerlukan 1,7 kali bumi baru dapat memenuhi kebutuhan konsumsi manusia, tetapi masalahnya bumi kita ini hanya 1 saja, dan setiap kali kita menghirup napas sudah pasti berkaitan dengan samudera, untuk itu manusia tanpa membedakan usia harus menyayangi dan menjaga bumi ini.
Melati Wijsen beranggapan bahwa ada dua kunci utama yang dapat membuat dia akhirnya ia bisa melakukan perubahan, yang pertama adalah harus tegar dan tegas serta jelas dengan rencana dan target yang ingin dicapai, Pada saat itu sudah lebih dari 40 negara di dunia yang melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai, ia menanyakan pada dirinya sendiri, mengapa Bali tidak bisa, oleh karena itu ia mulai menargetkan gerakan yang dilakukan dengan jelas dan yang kunci utama yang kedua adalah perlu untuk menjadi model agar orang lain yakin dan percaya bahwa perubahan itu bukanlah hal yang mustahil.

Kru RtiSI dan Melati (baju hijau)
