History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Tembus 50°C! Panas Ekstrem Filipina Mengganggu Pendidikan dan Pembelajaran Siswa

  • 29 April, 2024
  • 陳柏萇
Tembus 50°C! Panas Ekstrem Filipina Mengganggu Pendidikan dan Pembelajaran Siswa
Tembus 50°C! Panas Ekstrem Filipina Mengganggu Pendidikan dan Pembelajaran Siswa (Sumber foto: Pixabay)

(Taiwan, ROC) – Menurut pemberitaan media Reuters pada hari ini (29/4), panas ekstrem di Filipina akan menghambat produksi pertanian, mengganggu pasokan air dan listrik, serta menciptakan tekanan bisnis. Cuaca panas tersebut juga akan berdampak pada para pelajar, menghalangi upaya pemerintah Filipina untuk mengejar ketertinggalan dalam bidang pendidikan.

Lantaran fenomena cuaca El Nino yang mengintensifkan panas di negara tersebut dari bulan Maret hingga Mei, Indeks Panas (Heat Index, suhu yang dirasakan tubuh) di beberapa wilayah Filipina melonjak hingga ke angka 50°C.

Menurut Programme for International Student Assessment (PISA), Filipina termasuk salah satu negara dengan nilai terendah di dunia dalam bidang matematika, sains, dan membaca, sebagiannya adalah karena kurangnya pendidikan jarak jauh selama beberapa tahun terakhir akibat pandemi.

Seorang siswa SMA, Kirt Mahusay mengemukakan, “cuaca saat ini sangatlah panas, suhu tinggi ini membakar kulit saya, ini tidak seperti suhu tinggi biasaya (musim panas) yang bisa ditoleransi.”

Pendidikan pemuda berusia 23 tahun ini terhenti selama kecamuk pandemi COVID-19.

Menurut data dari Departemen Pendidikan Filipina menunjukkan bahwa ribuan sekolah telah ditutup lantaran suhu tinggi tersebut, serta memengaruhi lebih dari 3,6 juta siswa.

Xerxes Castro, seorang konsultan pendidikan dasar dari Save the Children Philippines menyampaikan, “Hingga bulan Mei, kami memprediksi akan ada lebih banyak penutupan sekolah karena gelombang panas. Kami melihat suhu rata-rata lebih dari 52°C, jadi Anda bisa membayangkan seberapa besar tekanan yang dirasakan oleh para pelajar.

Cuaca panas yang semakin ekstrem akibat perubahan iklim telah memengaruhi sebagian besar negara-negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara, membuat proses pembelajaran siswa menjadi lebih sulit.

Save the Children Philippines menyatakan bahwa anak-anak lebih rentan terhadap penyakit akibat suhu panas tinggi, seperti pusing, mual, dan pingsan ketika terpapar suhu ekstrem yang tinggi dalam waktu yang lama.

Para siswa dan guru telah menyatakan kesulitan dalam penerapan pembelajaran jarak jauh, terutama di daerah-daerah miskin di mana kondisi rumah tidak mendukung proses pembelajaran, atau mungkin karena kurangnya koneksi internet yang baik.

Esmaira Solaiman, seorang siswa SMA berusia 20 tahun yang mengikuti kursus online di rumah mengatakan, “Saya merasa pusing dan tidak bisa berkonsentrasi.”:

Di manila, ibukota Filipina, para siswa yang menghadiri kelas fisik menggunakan kipas angin portabel, buku catatan, atau bahkan kotak karton guna mendapatkan sedikit angin segar sebagai hiburan.

Memia Santos, seorang guru SMP yang berusia 62 tahun, mengatakan, “Saya sudah mengalami hipertensi lantaran suhu tinggi”, “Kami mengeluarkan banyak keringat, kadang-kadang bahkan merasa pusing.”

Komentar

Terbarumore