(Taiwan, ROC) -- "Asosiasi Parlemen Taiwan-Swedia" menggelar seminar tentang partisipasi Taiwan dalam WHO pada tanggal 24 April 2024. Ambasador Taiwan untuk Swedia, Klement Gu Ruey-sheng diundang untuk menghadiri dan memberikan ceramah, beliau mengimbau semua lapisan masyarakat untuk mendukung partisipasi Taiwan dalam Organisasi Kesehatan Dunia (WHO ).
Seminar tersebut diadakan di parlemen Swedia pada tanggal 24 April dan dipimpin oleh Boriana Åberg, Ketua Asosiasi Parlemen Swedia-Taiwan (STPA); Ambasador Taiwan untuk Swedia, Klement Gu Ruey-sheng; juru bicara Dewan Urusan Luar Negeri Swedia dan Partai Liberal, Joar Forssell; Komisaris kesehatan masyarakat di wilayah otonom Åland di Finlandia, Birger Forsberg dan editor surat kabar NWT, Henrik Lars Barvå, untuk menjadi nara sumber.
Seminar ini menarik hampir 20 anggota parlemen dari empat partai politik besar di Swedia. Para pembicara dari berbagai bidang memberikan interpretasi yang beragam. Anggota Kongres juga menyatakan ketidakpuasan mereka karena campur tangan politik RRT selama bertahun-tahun membuat Taiwan terpinggirkan dari WHO.
Para peserta juga membahas isu-isu seperti sejarah partisipasi Taiwan dalam Majelis Kesehatan Dunia (WHA), mekanisme operasional WHA serta permasalahan keanggotaan Taiwan yang belum terselesaikan. Hal ini menunjukkan bahwa anggota parlemen Swedia menaruh perhatian besar dan mendukung partisipasi Taiwan dalam WHO.
Dalam ceramah yang disampaikan Ambasador Taiwan untuk Swedia, Klement Gu bertemakan "Kesehatan dan kesejahteraan manusia melampaui politik", menekankan bahwa plakat WHO dengan jelas menyatakan bahwa manusia dapat menikmati kesehatan dan kesejahteraan tanpa dipengaruhi politik, ras, agama dan lainnya. Meskipun di masa pandemi COVID-19, masih mengecualikan Taiwan dalam partisipasi dalam WHO karena alasan politik, sehingga tidak memungkinkan Taiwan mendapat informasi pengawasan virus melalui sistem pengawasan dan respons influenza global (GISRS) dari WHO.
Selain itu, Taiwan tidak dapat ikut serta dalam Jaringan Sertifikasi Kesehatan Digital Global (GDHCN), sehingga tidak termasuk dalam negosiasi perjanjian epidemi yang ditetapkan oleh WHO.
Klement Gu mengatakan kinerja luar biasa Taiwan dalam menanggapi epidemi COVID-19 dan layanan kesehatan yang menunjukkan bahwa Taiwan dapat memberikan kontribusi besar terhadap sistem kesehatan internasional. Ia juga berterima kasih kepada pemerintah Uni Eropa dan Swedia atas dukungan historis mereka terhadap partisipasi Taiwan yang berarti , mendukung dan menyerukan partisipasi Taiwan dalam WHO yang terus digalakkan hingga tahun ini.
Joar Forssell mengamati dari perspektif geopolitik dan menjelaskan bahwa negara-negara otoriter seperti Rusia dan RRT semakin gencar memberikan ancaman terhadap kubu demokrasi. Swedia dan negara-negara Uni Eropa lainnya harus secara menegaskan dukungan mereka terhadap partisipasi Taiwan dalam organisasi internasional seperti WHO sebagai bentuk dukungan untuk HAM kepada negara-negara yang memiliki pandangan serupa.
Birger Forsberg melihat sistem layanan kesehatan dan kesehatan masyarakat Taiwan yang sudah mapan dan terpercaya, maka diyakini partisipasi Taiwan dalam WHO akan memungkinkan dunia untuk belajar dari pengalaman Taiwan dan meningkatkan lingkungan kesehatan masyarakat global.
Henrik Lars Barvå menunjukkan bahwa Taiwan yang terpinggirkan dari WHO selama bertahun-tahun disebabkan oleh faktor RRT. Sekarang, di saat perang Rusia-Ukraina, negara-negara demokratis harus semakin kuat mendukung Taiwan dan menunjukkan sokongan kuat untuk negara-negara demokratis.