(Taiwan, ROC) Badan Karantina Hewan dan Tumbuhan kemarin (23/4) mengatakan, beberapa hari ini ada warga yang menemukan 1 ekor kelelawar di distrik Zhonghe, Kota New Taipei, hewan tersebut terdeteksi Lyssavirus, meskipun menurut peraturan bukan penyakit menular, tetapi ada risiko zoonosis, maka mengimbau agar warga tidak berinteraksi dengan hewan liar.
Badan Inspeksi dan Karantina Hewan dan Tumbuhan Kementerian Pertanian mengumumkan bahwa pada tanggal 22 April 2024, Institut Penelitian Hewan, Kementerian Pertanian mendapat laporan ada warga yang menemukan seekor kelelawar (Nyctalus plancyi velutinus), terdeteksi mengandung Lyssavirus, meskipun tidak dikategorikan sebagai penyakit menular, namun berisiko menular ke manusia.
Oleh karena itu, Ditjen Pencegahan dan Pengendalian menyampaikan, kelelawar menjadi host alami Lyssavirus, maka jika mendapati ada kelelawar yang sakit dan mati, jangan disentuh, diharapkan untuk segera melaporkan ke istansi karantina hewan setempat atau organisasi konservasi kelelawar untuk diteliti lebih lanjut, apabila ada yang tercakar atau digigit kelelawar, maka segera berobat ke rumah sakit, untuk mendapat penanganan medis atau vaksin dan lainnya.
Badan Inspeksi Karantina mengatakan, pada tahun 2016-2010 ada 4 ekor kelelawar yang terdeteksi mengandung Lyssavirus tipe 1, pada bulan Juni 2018 mendapati ada kelelawar di Kota New Taipei mengandung Lyssavirus tipe 2, hingga saat ini terakumulasi 6 kasus.
Badan Inspeksi Karantina menambahkan, ada 17 jenis Lyssavirus, salah satunya adalah rabies virus (RABV), namun berbeda dengan Lyssavirus yang terdeteksi dalam kasus ini. Menurut laporan yang disampaikan, hasil pemeriksaan Lyssavirus serupa dengan kasus Lyssavirus pada tahun 2018, melalui perbandingan gen protein menunjukkan, serupa dengan Lyssavirus tipe 2.