(Taiwan, ROC) --- Drakesbrook Weir, sebuah danau renang populer di Australia Barat, telah ditutup untuk ketiga kalinya tahun ini karena risiko "ameba pemakan otak". Otoritas setempat pun sedang melakukan pemeriksaan.
Tahun lalu, sebuah kasus infeksi serupa juga terjadi di Taiwan, di mana seorang wanita berusia 30 tahun-an mengalami gejala radang otak (ensefalitis), seperti sakit kepala dan kekakuan leher setelah mengunjungi fasilitas rekreasi air. Penyakitnya berkembang dengan cepat dan dia meninggal seminggu setelah muncul gejala.
Menurut laporan lokal, Drakesbrook Weir yang terletak 100 kilometer selatan Perth di Australia Barat, telah ditutup untuk ketiga kalinya tahun ini karena risiko ameba.

圖/CTWANT
Otoritas setempat melakukan lebih pemeriksaan berulang kali sampai keberadaan Naegleria fowleri, ameba yang dapat menyebabkan ensefalitis mematikan, dapat disingkirkan. Danau renang yang populer ini tidak akan dibuka kembali sampai dipastikan aman.
Naegleria fowleri dapat berkembang menjadi "ameba pemakan otak" yang mematikan dengan memasuki otak melalui hidung, berkembang biak secara massal di dalam otak, dan mengonsumsi jaringan otak.
Meskipun kasus infeksi ameba ini sangat jarang, tetapi tingkat kematian dari infeksi tersebut mencapai 99%. Telah diketahui ada tiga kasus terkait di Australia Barat sejak dekade 1980-an.
Para ahli menyatakan bahwa meskipun hanya sedikit orang yang terinfeksi, tetapi jika terserang ameba ini, mayoritas dari mereka tidak dapat bertahan hidup, dan pasien biasanya akan meninggal dalam tiga minggu.

圖/星島日報
Pemerintah menyarankan bahwa siapa saja yang merendamkan kepala di danau dan merasa tidak nyaman harus segera mendapatkan perawatan medis.
Para ahli dari Departemen Kesehatan Australia menyatakan bahwa ameba dapat ditemukan di kolam anak-anak dan kolam renang yang klorinasi tidak memadai.
Jika air kolam hangat, tidak mengandung klorin, dan sedikit kotor, maka risiko infeksi ameba meningkat, sehingga perlu untuk secara rutin mengganti air kolam.
Departemen Kesehatan Amerika Serikat dalam sebuah laporan menyebutkan bahwa Naegleria fowleri jika tertelan melalui mulut tidak akan menyebabkan penyakit, tetapi jika masuk melalui hidung bisa fatal, seperti yang mungkin terjadi saat menyelam, ski air, atau kegiatan air lainnya.

圖/台視新聞
Taiwan juga mengalami kasus kematian akibat infeksi Naegleria fowleri tahun lalu, yang merupakan kasus kedua dalam sejarah Taiwan. Seorang wanita berusia 30 tahun-an dua kali mengunjungi fasilitas rekreasi air indoor dan kemudian mengalami gejala sakit kepala, demam, menggigil, nyeri leher, dan kejang.
Wanita bersangkutan dilarikan rumah sakit dengan gejala radang otak yang tidak diketahui penyebabnya, dan penyakitnya berkembang cepat, dengan kematian terjadi satu minggu setelah gejala muncul.
Sampel diambil oleh rumah sakit dan diuji di laboratorium CDC (Pusat Pengendalian Epidemi), memastikan infeksi Naegleria fowleri.
Sebanyak 642 orang yang telah mengunjungi fasilitas air indoor tersebut dilacak dan tidak ada yang menunjukkan gejala yang mencurigakan.
Menurut data pemantauan dari Taiwan CDC, kasus manusia pertama yang terinfeksi Naegleria fowleri ditemukan di Australia pada tahun 1965.
Dalam lima tahun terakhir, Pakistan dan Amerika Serikat terus mengalami kasus sporadis, dengan sekitar 10 kasus per tahun di Pakistan dan sekitar 5 kasus per tahun di Amerika Serikat, mayoritas terjadi antara bulan Juli dan Agustus. Thailand dan India juga melaporkan beberapa kasus pada tahun 2022.