(Taiwan, ROC) --- Belakangan ini, kasus keracunan makanan di Taiwan sering terjadi. Wakil Direktur Jenderal Food and Drug Administration (FDA), Lin Chin-fu (林金富), pada Rabu hari ini (10/4) menyatakan, jumlah laporan keracunan makanan dari Januari hingga Maret tahun 2024 ini mencapai 446 kasus, mencetak rekor tinggi baru dalam tiga tahun terakhir, dengan peningkatan hampir dua kali lipat.
Mengenai kasus dugaan keracunan makanan di restoran True WOW 初瓦dan Xiangla 嚮辣, seorang dokter menduga bahwa kasus tersebut disebabkan oleh koki yang tetap masuk kerja meski dalam keadaan sakit.
Lin Chin-fu mengatakan, jika inspeksi membuktikan terdapat fakta kebenaran terkait kejadian ini, maka dapat dikenakan denda sesuai hukum dan diserahkan ke pihak berwenang untuk penyelidikan.
Restoran True WOW dan Xiangla di bawah naungan Wow Prime yang berlokasi di cabang Ximen mengalami kasus dugaan keracunan makanan, dengan total 82 orang melaporkan ketidaknyamanan pada tubuh, dan beberapa pasien dites positif Norovirus.
Wakil Ditjen FDA, Lin Chin-fu dalam konferensi pers pagi ini menyampaikan bahwa sesuai dengan SOP penanganan keracunan makanan, otoritas kesehatan lokal tidak hanya akan memeriksa pasien, tapi juga akan mengambil sampel dari tangan, anus, muntahan, serta sampel dari talenan, pisau, dan lain-lain di area dapur.
Seorang dokter menduga bahwa koki mungkin mengidap gastroenteritis, tetapi tetap masuk yang kemudian menyebabkan infeksi.
Lin Chin-fu menyampaikan bahwa "Undang-undang Pengelolaan Keamanan dan Kesehatan Makanan" dengan jelas menetapkan bahwa koki atau pekerja makanan yang sakit harus mengambil cuti untuk mencegah risiko penyebaran penyakit.
Jika hasil pemeriksaan terbukti benar dan terdapat hubungan sebab akibat yang jelas, maka pelanggaran tersebut dapat dikenai sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku. Kasus ini juga akan diserahkan kepada pihak kejaksaan dan penyidik untuk proses hukum lebih lanjut.
Lin Chin-fu mengatakan, "Jika virus ditemukan, maka penelusuran harus dilakukan untuk membangun hubungan sebab akibat. Apakah virus itu ada pada bahan bakunya atau pada koki itu sendiri? Hubungan sebab akibat harus dibuktikan. Jika penyelidikan epidemiologi menunjukkan hubungan sebab akibat yang benar, maka kasus ini dapat dirujuk ke pihak berwenang sesuai dengan Undang-undang Keamanan Pangan. Kasus ini bukan hanya tentang denda administratif. Berdasarkan Pasal 49 Undang-undang Keamanan Pangan, kasus ini dapat melibatkan unsur pidana dan harus dilimpahkan ke kejaksaan dan penyidik untuk ditindaklanjuti. Kasus serupa sebelumnya juga pernah dilimpahkan oleh dinas kesehatan setempat."
Wakil Kepala Seksi Makanan di FDA, Cheng Wei-chih (鄭維智), menunjukkan bahwa belakangan ini banyak laporan perihal keracunan makanan. Musim gugur hingga akhir musim semi adalah periode tertinggi bagi penyebaran Norovirus.
Selain Norovirus, insiden keracunan makanan lainnya juga disebabkan oleh beberapa bakteri lainnya, termasuk Salmonella, Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus. Perbedaannya adalah bahwa inang Norovirus adalah manusia, yang dapat menular ke makanan siap saji, sehingga sangat penting untuk mengendalikan kebersihan dan kesehatan personel terkait.
Lin Chin-fu melanjutkan, pada 3 tahun belakangan, sementara bulan Januari hingga Maret, kasus keracunan makanan berkisar antara 200 hingga 300 kasus, dengan jumlah pasien sekitar 1.500 hingga 2.500 orang. Tahun ini, dari Januari hingga Maret, jumlah laporan sudah mencapai 446 kasus, hampir dua kali lipat lebih banyak, dengan total 2.504 pasien. Ini adalah angka terbanyak dalam 3 tahun terakhir.