History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Gempa Kuat di Hualien: Evakuasi Cepat Taiwan Patut Dicontoh, Pusat Evakuasi Berhasil Dipersiapkan dalam Kurun 3 Jam

  • 09 April, 2024
  • 尤繼富
Gempa Kuat di Hualien: Evakuasi Cepat Taiwan Patut Dicontoh, Pusat Evakuasi Berhasil Dipersiapkan dalam Kurun 3 Jam
Gempa Kuat di Hualien: Evakuasi Cepat Taiwan Patut Dicontoh, Pusat Evakuasi Berhasil Dipersiapkan dalam Kurun 3 Jam 圖/東森

(Taiwan, ROC) --- Berdasarkan data Pusat Tanggap Bencana Nasional per tanggal 7 April 2024, gempa besar di Hualien telah menyebabkan 13 orang meninggal dunia, 1140 orang cedera, dan masih ada 6 orang yang belum ditemukan.

Namun, sesaat setelah gempa terjadi, fasilitas dan bantuan di tempat-tempat evakuasi dengan cepat dapat tersedia.

Menurut ahli mitigasi bencana Jepang, Kunisaki Nobue, ini adalah bukti kerja sama yang erat antara pemerintah dengan masyarakat.

"Ini juga sesuatu yang seharusnya Jepang pelajari," tutur Kunisaki Nobue.

花蓮強震後3小時「避難所開始收人」 日本防災專家:台灣官民合作值得學習

Media Jepang yang mengunjungi Hualien setelah gempa terjadi, menemukan bahwa fasilitas seperti tenda luar, kamar mandi portabel, dan toilet portabel di tempat evakuasi sudah siap beberapa jam setelah gempa.

Di tempat penampungan, juga tersedia cukup persediaan kebutuhan sehari-hari dan makanan, bahkan ada "Stasiun Relaksasi" yang menawarkan layanan pijat, mainan elektronik untuk anak-anak, serta layanan pengisian baterai handphone dan Wi-Fi.

Ahli mitigasi bencana dan konsultan dari Jepang, Kunisaki Nobue, dalam sebuah wawancara menyoroti bahwa Taiwan telah mengambil pelajaran dari pengalaman Jepang saat gempa besar 311 dan gempa Kumamoto mengguncang.

Taiwan mengadopsi praktik yang dianggap layak dari tempat evakuasi di Jepang.

"Namun sayang, di Jepang, fasilitas dan persediaan bantuan, baru akan tersedia sekitar 2 sampai 3 minggu setelah bencana. Sementara itu, Taiwan berhasil mempersiapkan segala sesuatunya dalam 2 jam setelah gempa, dan mulai menampung korban dalam waktu 3 jam. Hal ini berhasil dilakukan, berkat kolaborasi erat antara pemerintah lokal dan komunitas masyarakat. Kini, giliran kami (Jepang) untuk belajar dari Taiwan," terang Kunisaki Nobue.

Kunisaki melanjutkan, salah satu alasan pembangunan tempat evakuasi di Jepang memakan waktu lebih lama setelah bencana, adalah karena beban kerja staf pemerintah daerah yang berat.

Di Jepang, tempat penampungan atau evakuasi didirikan dan dioperasikan oleh staf pemerintah daerah, bukan oleh kelompok masyarakat sipil, dan tenda serta tempat tidur darurat dikelola oleh pemerintah daerah pada hari biasa.

Setelah bencana terjadi, staf pemerintah yang mengirimkan barang-barang ini, akan sambil memantau kondisi jalan pasca-bencana dan memastikan truk pengangkut serta bahan bakar berada dalam kondisi aman.

花蓮強震後「日本悲報」衝熱搜!網揪台灣避難所「3優勢」:雜魚寢完敗

Pusat evakuasi di Taiwan (kiri) dan di Jepang (kanan), yang kemudian menjadi perdebatan hangat antara Warganet Jepang. 圖/民視

Terkadang, staf pemerintah daerah tidak dapat berkumpul, dan hampir tidak ada persiapan atau simulasi untuk skenario terburuk, sehingga koordinasi dan pengiriman barang bantuan menjadi lebih memakan waktu.

Seorang staf dari Kantor Sosial Kota Hualien mengatakan, "Pihak berwenang menyiapkan grup LINE untuk mitigasi bencana, di mana foto-foto kondisi bencana dan penilaian tindakan responsif diunggah secara real-time, sehingga unit terkait dapat langsung merespons. Anggota grup juga termasuk organisasi masyarakat sipil."

Upaya penyelamatan dan rekonstruksi pasca bencana di Taiwan, menggabungkan unit administrasi terkait dan kelompok masyarakat sipil. Ini merupakan contoh kerja sama yang baik antara pemerintah dengan masyarakat.

花蓮地震收容所淋浴間帳篷4小時到位日媒:速度快得驚人| 生活| 中央社CNA

Sementara itu, Direktur Penelitian Institute for Taiwan-Japan Studies, Fuji Jyuuta, menunjukkan bahwa Taiwan memiliki banyak kelompok sukarelawan yang bertanggung jawab untuk mendirikan tempat evakuasi dengan fasilitas dan persediaan yang lengkap, termasuk kelompok agama, baik Buddha dan Kristen.

Misalnya, tim lingkungan "Jing Si Fu Hui" yang dirancang oleh Yayasan Buddha Tzu Chi untuk memastikan privasi pengungsi, yang kemudian menjadi topik diskusi hangat di Jepang pasca gempa.  

Fuji Jyuuta juga menambahkan bahwa kelompok sukarelawan ini umumnya telah dilatih dan secara rutin mengadakan pertemuan terkait mitigasi bencana untuk memastikan kesiapsiagaan dari para staf.

Dan setiap kelompok sukarelawan telah memiliki tugas yang ditentukan sebelum terjadi situasi darurat, sehingga tidak perlu menunggu instruksi dari pemerintah untuk bertindak, membuat kinerja mereka sangat efisien.

Komentar

Terbarumore