(Taiwan, ROC) --- Pada Rabu pagi hari ini (3/4), terjadi gempa berkekuatan magnitudo 7.2SR di lepas pantai Hualien, yang getarannya dirasakan kuat oleh penduduk di seluruh Taiwan.
Mantan Ketua Pusat Gempa Bumi Ditjen Klimatologi Sentral, Kuo Kai-wen (郭鎧紋), menyampaikan bahwa area Hualien dan Taitung berada di perbatasan antara lempeng Filipina dan Eurasia, dengan aktivitas gempa yang cukup sering terjadi.
Dalam beberapa tahun terakhir, gempa di area Hualien dan Taitung cenderung terjadi di sisi barat Lembah Taitung. Gempa kali ini terjadi di sebelah timur Lembah Taitung, dekat Hualien, dengan magnitudo 7.2SR.
Kuo Kai-wen menambahkan, guncangan kali ini diperkirakan terjadi karena untuk mencapai keseimbangan di antara kedua sisi Lembah. Gempa ini melepaskan energi yang setara dengan 32 bom atom.

Gempa berkekuatan 7.2SR yang terjadi pagi ini di lepas pantai Hualien merupakan gempa terbesar sejak gempa besar 921, dan Pusat Gempa Bumi Ditjen Klimatologi Sentral juga mengingatkan bahwa dalam 3 hingga 4 hari ke depan, mungkin terjadi gempa susulan dengan kekuatan antara 6.5SR hingga 7.0SR.
Kuo Kai-wen menjelaskan, gempa berkekuatan 7.2SR melepaskan energi setara dengan 32 bom atom, sedangkan gempa 921 melepaskan 46 bom atom.
Namun, beruntungnya kali ini pusat gempa tidak berada di daratan dan kedalaman gempa juga lebih dalam dibandingkan dengan gempa 921, sehingga kerusakan yang dihasilkan seharusnya tidak lebih buruk dari gempa 921.
Kuo Kai-wen kembali menerangkan bahwa wilayah Hualien dan Taitung terletak di perbatasan antara Lempeng Laut Filipina dan Lempeng Eurasia, karena Lempeng Laut Filipina menyusup di bawah Lempeng Eurasia, sehingga gempa sering terjadi.
Dalam beberapa tahun terakhir, gempa di wilayah Hualien dan Taitung umumnya terjadi di sisi barat Lembah Taitung.
"Gempa membutuhkan keseimbangan, jadi kali ini terjadi di sisi timur Lembah Taitung, yaitu di dekat Hualien, untuk mencapai keseimbangan tersebut." ujar Kuo Kai-wen