(Taiwan, ROC) --- Restoran vegetarian Polam Kopitiam yang berada di Far Eastern Department Store di Kota Taipei, dijadwalkan beroperasi hingga 31 Maret 2024.
Namun, restoran tersebut mengalami insiden keracunan makanan skala besar menjelang penutupannya, menyebabkan lebih dari 30 orang sakit dan dua orang meninggal.
Kebanyakan korban mengonsumsi kwetiau goreng, dan di dalam tubuh korban ditemukan senyawa asam bongkrek, suatu kondisi baru yang menimbulkan kecemasan di seluruh Taiwan.
Berdasarkan investigasi yang dilakukan oleh jaksa, polisi, dan dinas kesehatan, ditemukan beberapa faktor yang menyebabkan keracunan massal di restoran tersebut, antara lain adalah pengelolaan restoran yang kurang ketat, pencampuran bahan makanan baru dengan lama, serta liburan panjang koki utama yang berujung pada penggunaan bahan kedaluwarsa oleh koki pengganti.
Saat ini, pemilik restoran, manajer, dan dua koki telah ditetapkan sebagai terdakwa, dengan upaya penyelidikan mencari asal-usul bakteri penyebab toksin untuk mengatasi kekhawatiran keamanan pangan.
Li Fang-xuan (黎仿軒) pendiri restoran Polam Kopitiam. 圖/鏡新聞
Penyelidikan polisi mengesampingkan kemungkinan faktor kesengajaan, karena asam bongkrek tidak bisa dibuat secara artifisial.
Setelah menginterogasi pemilik dan staf restoran, diketahui bahwa pengelolaan dapur yang kurang ketat, serta kurangnya komunikasi antara kedua chef yang berujung pada penggunaan bahan kedaluwarsa, yang akhirnya menyebabkan keracunan makanan.
Diketahui bahwa pada saat kejadian, koki utama bermarga Zhou (周姓) sedang mengambil cuti panjang sehingga digantikan oleh koki pengganti bermarga Hu (胡姓).
Karena manajemen dapur di restoran tersebut yang longgar, membuat Zhou tidak memberikan pengarahan yang baik sebelum mengambil cuti.
Akibatnya, Hu memasak apa adanya, termasuk menggunakan bahan makanan yang sudah kedaluwarsa, yang seharusnya dimusnahkan.
Kini, mereka semua sekarang dilarang meninggalkan Taiwan.
Koki pengganti Hu, yang menggantikan koki utama Zhou. 圖/鏡新聞
Penyelidikan di lapangan mengungkapkan bahwa restoran Polam Kopitiam dijadwalkan tutup pada akhir Maret 2024, dan masih melakukan pemesanan bahan baku secara wajar sebelum penutupan.
Jika terdapat masalah pada bahan baku baru yang dipasok oleh pabrik kwetiau, mengapa hanya Polam Kopitiam yang mengalami kasus keracunan makanan?
Tim investigasi menduga bahwa kwetiau yang dimasak oleh koki bukan kwetiau segar dari pengiriman baru, melainkan kwetiau kedaluwarsa yang telah disimpan entah berapa lama.
Kwetiau yang disimpan tersebut bahkan diduga tidak disimpan dalam kondisi dingin.
Mengingat kembali awal terjadinya peristiwa keracunan makanan ini. Seorang pria bermarga Lu (呂姓) pada tanggal 22 Maret 2024 mengalami ketidaknyamanan setelah makan kwetiau goreng di Polam Kopitiam, dan meninggal dua hari setelahnya.
Setelah kematian Lu, muncul lagi tiga kasus serius dan seorang pria bermarga Yang (楊姓) yang makan kwetiau goreng pada tanggal 19 Maret 2024 mengalami diare parah. Meskipun mendapat perawatan selama tujuh hari, Yang akhirnya meninggal karena kegagalan hebat pada organ hati dan ginjal.
Penyimpanan bahan masakan (kwetiau) yang baru bercampur dengan yang lama, ditemukan saat unit berwenang melakukan sidak lapangan. 圖/鏡新聞
Seiring dengan meningkatnya skala keracunan makanan, pihak Biro Kesehatan Kota Taipei segera menghentikan operasional Polam Kopitiam, dan bekerja sama dengan Administrasi Makanan dan Obat-obatan (FDA) serta Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) untuk melakukan pemeriksaan dan menyita bahan makanan seperti bumbu masak dan kwetiau. Pada hari berikutnya, mereka juga memeriksa pabrik pemasok kwetiau.
Selain itu, ditemukan bahwa polis asuransi dan tanggung jawab umum milik Polam Kopitiam telah kedaluwarsa, akibatnya restoran bersangkutan dikenakan denda sebesar NT$2,5 juta.
Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan (MOHW) kemudian mengonfirmasi bahwa penyebabnya adalah asam bongkrek. Ahli menyatakan bahwa asam bongkrek sangat beracun, tidak berwarna, tidak berbau, dan mulai berkembang biak pada suhu di atas 26C.
Senyawa asam bongkrek tahan terhadap suhu tinggi dan memiliki tingkat mematikan yang tinggi. Ia sering ditemukan pada produk kelapa, produk beras fermentasi, produk biji-bijian, dan jamur yang mengembang.
Dokter mengatakan, saat ini, tidak ada obat khusus untuk keracunan asam bongkrek. Keparahan penyakit tergantung pada jumlah racun yang tertelan dan sistem kekebalan tubuh pasien.
MOHW menekankan bahwa kasus insiden keracunan tampaknya hanya terbatas pada restoran Polam Kopitiam, sehingga masyarakat tidak perlu terlampau panik.
Kwetiao goreng yang sempat menjadi menu andalan dari restoran Polam Kopitiam. 圖/鏡新聞
Kepala Divisi Nutrisi dari Rumah Sakit Universitas Nasional Taiwan, You Ya-ting (游雅婷), mengingatkan bahwa jika masyarakat makan di luar, mereka dapat memeriksa apakah meja, area saus, dan lantai restoran bersih. Selain itu, apakah makanan beku benar-benar disimpan di dalam kulkas, serta apakah makanan memiliki bau yang aneh atau ada perubahan pada penampilannya.
Untuk kwetiau dan bihun yang belum dimasak, disarankan untuk menghabiskannya keesokan harinya, dan jamur kering tidak sebaiknya direndam pada suhu ruangan. Rendam hanya dalam jumlah yang dapat dikonsumsi, dan jangan sampai ditinggalkan hingga keesokan harinya.
"Mirror Media" menemukan bahwa keracunan asam bongkrek adalah kasus pertama di Taiwan, tetapi telah ada banyak kasus serupa di luar negeri.
Restoran Polam Kopitiam yang kali ini mengalami keracunan makanan, didirikan oleh Li Fang-xuan (黎仿軒), yang awalnya mengelola agen perjalanan.
Karena pandemi merebak, Li Fang-xuan akhirnya terlilit utang yang membuatnya kemudian beralih ke sektor kuliner. Selama ini, menu kwetiau goreng vegetarian menjadi andalannya, yang ternyata bisa meningkatkan kinerja bisnis secara signifikan.
Dalam waktu kurang dari 2 tahun, Li Fang-xuan berhasil mengekspansi usahanya menjadi 5 cabang.
Ahli mendesak pemerintah untuk segera menemukan sumber toksin dan mengontrolnya agar tidak menyebar ke dalam rantai ekologi di Taiwan. Unit kesehatan pusat dan daerah juga harus meningkatkan pengawasan, mengendalikan dan memeriksa industri makanan secara menyeluruh untuk mencegah terulangnya tragedi serupa.