(Taiwan, ROC) --- Kasus dugaan keracunan makanan di Restoran Vegetarian Polam Kopitiam, yang mengakibatkan dua orang meninggal, menjadi perhatian serius warga Taiwan.
Pada pertemuan darurat dengan para ahli kemarin, Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan (MOHW) menilai kemungkinan bahaya dari racun "asam bongkrek" menjadi semakin nyata.
Kepala Kantor Informasi Kesehatan MOHW, yang juga adalah dokter senior di Rumah Sakit Universitas Nasional Taiwan, Dokter Lee Chien-chang (李建璋), mengungkapkan bahwa racun asam bongkrek ini lebih mematikan dibandingkan dengan toksin dari bakteri Bacillus cereus. Ia juga memberikan saran tentang bagaimana menghindari pemanasan berulang-ulang terhadap makanan seperti nasi dan mi.

Dokter Lee mengatakan, semakin banyak laporan kasus serius dan kematian, semakin kuat dugaan bahwa asam bongkrek adalah penyebabnya.
Menurutnya, baik asam bongkrek maupun toksin dari Bacillus cereus adalah racun yang menyerang mitokondria.
Mitokondria adalah organel kecil dan berbentuk kacang yang terdapat dalam sebagian besar sel eukariotik (sel dengan inti yang terdefinisi dengan baik). Mitokondria sering dijuluki sebagai "pembangkit listrik sel" karena peran utamanya dalam produksi energi.
Kerusakan mendadak pada mitokondria ini bisa menyebabkan kegagalan organ secara luas, sehingga sulit membedakan gejala kedua jenis racun ini. Keduanya dapat menyebabkan koma, gagal ginjal, gagal hati, syok, dan tidak disertai demam.
"Racun asam bongkrek jauh lebih berbahaya sehingga ketika jumlah kasus serius dan kematian bertambah, asam bongkrek menjadi penyebab utama yang patut dicurigai," terang Dokter Lee.
Dokter Lee Chien-chang menyatakan bahkan jumlah racun asam bongkrek yang sangat kecil, 1,5 miligram, dapat berakibat fatal.
Periode inkubasi kasus keracunan bisa berkisar antara 0,3 hingga 16 jam, dengan 30% hingga 100% kasus mengakibatkan kematian dengan cepat.
Keracunan ini dilaporkan pernah terjadi di Tiongkok, dan selalu berkaitan dengan makanan fermentasi. Insiden keracunan asam bongkrek sendiri belum pernah terjadi di Taiwan, Jepang, atau Korea Selatan.
Kasus pertama di Tiongkok dilaporkan berasal dari proses fermentasi tepung jagung yang terkontaminasi oleh keluarga di daerah pedesaan.
Sejak tahun 2018, telah terjadi 3 kasus keracunan asam bongkrek di Tiongkok yang berkaitan dengan jamur hitam, dan 5 kasus yang berkaitan dengan kwetiau basah.

Kesulitan yang dihadapi adalah kwetiau basah yang terkontaminasi (rusak) tidak menunjukkan perubahan bau, warna, atau tekstur selama proses memasak dan konsumsi. Tidak seperti makanan yang membusuk lainnya, yang bisa langsung diketahui saat dikonsumsi, sehingga sulit untuk mendeteksi kontaminasi lebih awal.
Selain itu, Dokter Lee juga menyoroti bahwa bakteri Burkholderia gladioli adalah jenis bakteri yang umum dan tersebar luas, dapat ditemukan di tanah, jagung, kedelai, serta jamur hitam kering dan semi-kering.
Kontaminasi selama proses pengolahan di rumah sulit dikendalikan. Perlu diperhatikan bahwa semua kasus keracunan asam bongkrek yang dilaporkan di Tiongkok berasal dari produk fermentasi gandum buatan sendiri (rumahan). Produk fermentasi gandum yang diproduksi secara industri belum ditemukan menyebabkan keracunan.
Ini mengindikasikan bahwa proses buatan rumah lebih rentan terhadap kontaminasi. Namun, biasanya pedagang di Taiwan tidak akan membuat kwetiau sendiri. Jika terjadi kontaminasi di pabrik, maka kontrol harus dimulai dari sumbernya dan dilakukan penarikan produk secara luas.

圖/中時新聞網
Dokter Lee menekankan bahwa diagnosis keracunan asam bongkrek hanya dapat dikonfirmasi melalui hasil positif dari kultur bakteri pada pasien atau melalui identifikasi protein, yang memastikan keberadaan asam bongkrek.
Untuk penanganannya, walaupun penggunaan antibiotik seperti Trimethoprim-sulfamethoxazole, ceftazidime, carbapenems, fluoroquinolones, dan minocyline dapat membunuh bakteri, tetapi faktor paling mematikan adalah kadar toksinnya, bukan bakterinya.
Karena itu, pembunuhan bakteri saja tidak cukup efektif. Meskipun dialisis (cuci darah) bisa menjadi metode untuk mengeliminasi toksin, tetapi hal tersebut terbukti tidak efektif, karena hanya diperlukan 1,5 mg asam bongkrek untuk menyebabkan kematian.
Saat ini, pendekatan terbaik adalah memberikan dukungan organ dan menunggu pemulihan secara alami.
Dokter Lee juga menambahkan, di tengah situasi yang berkembang saat ini, yang paling penting adalah bagaimana kita bisa membantu masyarakat untuk mencegah dan menghindari risiko. Dia menyarankan untuk sementara waktu agar berhati-hati serta menghindari konsumsi beras dan mi yang bukan dimasak segar atau "dipanaskan berulang-ulang".