History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Kasus Pertama Asam Bongkrek di Taiwan, Wakil Menteri MOHW: Tingkat Kejadian Rendah dan Jangan Panik

  • 29 March, 2024
  • 陳柏萇
Kasus Pertama Asam Bongkrek di Taiwan, Wakil Menteri MOHW: Tingkat Kejadian Rendah dan Jangan Panik
Kasus Pertama Asam Bongkrek di Taiwan, Wakil Menteri MOHW: Tingkat Kejadian Rendah dan Jangan Panik

(Taiwan, ROC) --- Sebuah insiden keracunan makanan diduga terjadi di restoran vegetarian "Polam Kopitiam", Kota Taipei.

Pada Jumat pagi ini (29/3), Ditjen Pengendalian Penyakit (CDC) mengumumkan statistik terbaru perihal korban yang meninggal dunia dan korban yang dirawat.

Hingga Jumat pagi, total ada 18 kasus, di mana 2 orang meninggal dunia, 5 orang dirawat di unit perawatan intensif, 1 orang dirawat di ruang umum, dan 10 orang dengan gejala ringan telah pulang untuk beristirahat.

Dua kasus kematian tersebut adalah pria berusia 39 tahun dan 66 tahun. Dari 18 kasus tersebut, 16 kasus dinyatakan memiliki keterkaitan dengan konsumsi "kwetiau", sementara 2 kasus lainnya berkaitan dengan konsumsi "pho (mi tepung beras)".

CDC menyatakan, untuk merespons insiden keracunan makanan kali ini, maka pihak terkait akan mengumumkan pembaruan data terbaru setiap hari pada pukul 10:00 pagi dan 5:30 sore.

Ditemukannya "asam bongkrek" dalam tubuh korban keracunan makanan "Polam Kopitiam", menimbulkan kekhawatiran bahwa bakteri tersebut mungkin telah dibawa ke Taiwan melalui makanan impor, dan dicemaskan bisa masuk ke dalam ekosistem tumbuhan di Taiwan.

Menanggapi hal di atas, Wakil Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan (MOHW) Wang Pi-Sheng (王必勝) mengatakan bahwa kasus ini masih terbatas pada "Polam Kopitiam" dan belum menyebar lebih luas.

Ia juga menekankan bahwa bakteri ini bukanlah bakteri yang sangat kuat, dan tingkat kejadiannya di negara lain juga sangat rendah, sehingga publik tidak perlu terlalu khawatir.

Pemerintah pusat akan mengundang para ahli terkait untuk mendiskusikan langkah-langkah selanjutnya.

Insiden "Polam Kopitiam" mengungkap temuan "asam bongkrek" dalam tubuh korban, sebuah toksin yang diproduksi oleh bakteri Burkholderia gladioli.

Para ahli menilai bahwa bakteri ini masuk ke Taiwan melalui makanan impor dan perlu segera dilacak sumbernya untuk mencegah masuknya bakteri ke ekosistem tumbuh-tumbuhan di Taiwan.

Dalam wawancaranya, Wakil MOHW, Wang Pi-Sheng, mengatakan bahwa masuknya Burkholderia gladioli ke ekosistem Taiwan memang bukan tidak mungkin, tetapi bakteri ini telah ada di dunia sejak lama.

Ini juga merupakan bakteri tanah, dan sifatnya rapuh, bukan bakteri yang kuat. Oleh karena itu, meskipun ada kasus di beberapa negara, tetapi tingkat kejadiannya sangat rendah, sehingga masyarakat tidak perlu terlalu khawatir.

Wang Pi-sheng mengatakan, "Karena meskipun ada kasus di Asia Tenggara dan di Tiongkok, tapi sebenarnya probabilitas terjadinya cukup rendah, jadi sebenarnya semua orang tidak perlu terlalu panik. Namun, dengan strategi yang sesuai, seperti yang saya katakan tadi, kita mungkin perlu berkonsultasi dengan para ahli toksin, ahli pertanian, dan ahli makanan untuk membahas bagaimana mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang."

Seorang dokter berpendapat bahwa Burkholderia gladioli mungkin sudah masuk ke Taiwan sebelumnya, menyebabkan kasus kematian sporadis yang tidak terdeteksi, dan menyarankan agar rumah sakit di masa depan harus menyertakan pemeriksaan "asam bongkrek".

Menanggapi hal di atas, Wang Pi-Sheng mengatakan, bahwa "asam bongkrek" akan menjadi barang standar yang disimpan di rumah sakit, sehingga jika rumah sakit menemukan kasus yang mencurigakan, mereka bisa langsung melakukan pengujian.

Selain itu, beberapa ahli menyarankan untuk melakukan inspeksi rutin terhadap "asam bongkrek" pada jagung, biji-bijian, dan produk tepung berisiko tinggi, yang mirip dengan inspeksi aflatoxin.

Wang Pi-Sheng menyatakan bahwa sampel dari pasien yang dirawat di rumah sakit dan bahan makanan masih dalam pemeriksaan, juga tengah dilakukan budidaya bakteri lingkungan. Sehingga perlu dilakukan diskusi selanjutnya untuk mengonfirmasi fakta yang ada.

Saat ini, evaluasi kasus masih terfokus pada "Polam Kopitiam" dan tidak ada indikasi penyebaran lebih lanjut.

Pengelolaan di masa mendatang akan melibatkan banyak masalah profesional, dan MOHW akan mengundang para ahli untuk diskusi, serta akan mempertimbangkan cara pengelolaan dari negara-negara lain seperti Singapura.

Komentar

Terbarumore