(Taiwan, ROC) --- Insiden keracunan makanan hingga menewaskan 2 warga, terus menyebar dan menjadi headline di banyak media di Taiwan.
Hingga berita ini diluncurkan, telah tercatat total 10 kasus yang dilaporkan, di antaranya 2 meninggal dunia, sedangkan 2 lainnya dalam kondisi kritis.
Dari laporan rumah sakit dan keluhan masyarakat, diketahui 7 kasus keracunan makanan tersebut dikaitkan dengan konsumsi kwetiau goreng, dan 2 kasus lainnya karena mengonsumsi bihun.
Beberapa dokter di dalam negeri menduga kalau keracunan makanan kali ini berkaitan dengan "Asam Bongkrek".
Bahan makanan yang difermentasi atau beras (seperti bihun) yang tidak disimpan dengan benar, berpotensi menghasilkan "Asam Bongkrek" (Bongkrek Acid).
Selain itu, jamur Auricularia heimuer yang direndam dalam kondisi yang tidak higienis untuk waktu yang lama, juga berpotensi menghasilkan "Asam Bongkrek".

Jamur Auricularia heimuer. 圖/健康2.0
Seorang dokter menduga kalau penyebab utama keracunan mematikan ini adalah toksin "Asam Bongkrek", yang mana pernah melanda kawasan Tiongkok dan Indonesia.
Pusat Keamanan Makanan Hong Kong dalam sebuah artikel tahun 2019 pernah menyebutkan bahwa jamur Auricularia heimuer dan beberapa produk fermentasi kelapa atau jagung bisa terkontaminasi karena cara penyimpanan dan proses produksi yang tidak tepat.
Untuk mencegah munculnya "Asam Bongkrek", maka jamur Auricularia heimuer yang akan direndam semalaman harus dibersihkan secara menyeluruh, serta menggunakan peralatan yang higienis, dan disimpan di dalam lemari es.
Artikel edukasi kesehatan dari Biro Kesehatan Makau pernah menuliskan bahwa "Asam Bongkrek" telah terbukti ada dalam produk fermentasi biji-bijian yang membusuk.
Di samping itu, jika tidak ditangani dengan baik, "Asam Bongkrek" juga bisa muncul di produk-produk seperti jamur Auricularia heimuer, dan produk berbasis pati, seperti tang yuan yang terbuat dari beras ketan, kentang, dan pati ubi.

圖/TVBS
Namun, jika jamur Auricularia heimuer direndam dalam kondisi higienis yang baik dalam waktu singkat, maka kemungkinan munculnya "Asam Bongkrek" akan sangat rendah. Sebaliknya, jika disimpan dalam kondisi yang tidak tepat dalam waktu yang lama, maka akan memberikan kesempatan bagi patogen untuk berkembang biak secara massal.
Bakteri Burkholderia gladioli tumbuh optimal pada suhu 37C, dan pada suhu 26C sudah dapat menghasilkan toksin "Asam Bongkrek".
Toksin "Asam Bongkrek" memiliki sifat tahan terhadap panas, sehingga pemanasan pada suhu tinggi pun tidak dapat menghancurkan toksisitasnya.
Gejala umum keracunan "Asam Bongkrek" termasuk ketidaknyamanan pada perut, mual dan muntah, serta kembung. Dalam kasus yang serius, dapat menyebabkan pembesaran hati, fungsi hati abnormal, bahkan kematian.