(Taiwan, ROC) -- Mantan Presiden Ma Ying-jeou (馬英九) dijadwalkan akan mengunjungi Tiongkok pada tanggal 1 April 2024 mendatang, termasuk agenda berkunjung ke Beijing. Mengenai kemungkinan pertemuan dengan Pemimpin Tiongkok Xi Jin-ping (習近平), Direktur Eksekutif Yayasan Ma Ying-jeou, Hsiao Hsu-tsen (蕭旭岑), menyatakan bahwa Ma Ying-jeou adalah tamu dan akan mengikuti segala pengaturan tuan rumah. Dengan adanya kunjungan ini, diharapkan ada kesempatan bertemu dengan teman lama, serta menyampaikan aspirasi rakyat Taiwan yang menginginkan perdamaian lintas selat dan menolak perang.
Pada tanggal 25 Maret 2024, Yayasan Ma Ying-jeou mengumumkan, atas undangan dari pihak Tiongkok, mantan Presiden Ma Ying-jeou akan memimpin delegasi berkunjung ke Guangdong, Shaanxi, dan Beijing. Tim Ma Ying-jeou akan mengunjungi situs sejarah dan budaya Tiongkok serta perusahaan setempat pada periode tanggal 1 – 11 April 2024. Di samping itu, Beliau juga akan menghadiri upacara di Mausoleum of the Yellow Emperor, serta mengunjungi Universitas Sun Yat-sen dan Universitas Peking untuk memfasilitasi pertukaran pemuda lintas selat.
Kunjungan Ma Ying-jeou ke kota-kota termasuk Beijing, menyusul pertemuan "Ma-Xi" yang diadakan di Singapura pada 7 November 2015 silam, menimbulkan pertanyaan apakah akan terjadi pertemuan dengan pemimpin Tiongkok Xi Jin-ping sekali lagi. Direktur Eksekutif Yayasan Ma Ying-jeou, Hsiao Hsu-tsen, dalam wawancara khusus dengan program radio pada Selasa pagi ini (26/3) mengatakan, Ma Ying-jeou telah meninggalkan jabatannya selama 8 tahun, saat ini tidak memiliki jabatan partai atau publik, hanya sebagai orang biasa, dan tentu saja berharap ada kesempatan untuk bertemu dengan teman lama.
Hsiao Hsu-tsen mengatakan, “Presiden Tsai juga akan segera meninggalkan jabatan, saat ini sudah memasuki fase persiapan untuk pengambilalihan Presiden William Lai (賴清德). Kami tentu berharap, jika kami memiliki kesempatan untuk pergi ke Beijing, setelah 9 tahun berpisah, saya rasa mantan Presiden Ma tentu ingin bertemu dengan teman lama. Tentu saja sebagai tamu, kami akan menghormati pengaturan dari pihak Tiongkok.”
Hsiao Hsu-tsen menyampaikan, jika “Pertemuan Ma-Xi kedua” menjadi kenyataan, maka Ma Ying-jeou akan menyampaikan keinginan rakyat Taiwan agar hubungan lintas selat dapat kembali ke era perdamaian dan kemakmuran. Selain itu, akan secara tegas menyatakan tidak pada perang, serta berharap agar kedua belah pihak tetap memiliki niat baik dan menghindari ujaran kebencian. Sekjen Partai Demokrat Progresif (DPP), Rosalia Wu (吳思瑤), hari ini menyatakan, meskipun fraksi DPP menghormati jadwal perjalanan Ma Ying-jeou ke Tiongkok, tetapi mereka juga tidak lupa mengingatkan agar Ma Ying-jeou sebisa mungkin menghindari kegiatan yang memiliki nuansa seruan “persatuan”.
Mereka juga berharap dalam semua agendanya, tidak peduli siapa yang ditemui dan seberapa tinggi tingkatannya, harus berdasarkan statusnya sebagai mantan Presiden Republik Tiongkok (Taiwan), menyampaikan pesan yang benar dan opini publik Taiwan. Ia juga berharap agar Ma Ying-jeou menggunakan waktu kunjungannya ke Tiongkok untuk menegaskan kembali kedaulatan Taiwan. Rosalia Wu juga meminta agar Ma Ying-jeou menyampaikan pesan opini publik Taiwan yang benar saat berada di Tiongkok, yaitu hubungan lintas selat harus mendengarkan pendapat dari 23 juta rakyat Taiwan, bukan hanya keputusan satu orang, dan tentu saja bukan Xi Jin-ping yang menentukan. Ia berharap agar Ma Ying-jeou menunjukkan kebijaksanaan politiknya.
Ketua Partai Rakyat Taiwan (TPP), Ko Wen-je (柯文哲) hari ini mengatakan, bahwa Ma Ying-jeou memiliki posisi tertentu yang tidak bisa diabaikan, sehingga berdasarkan prinsip kesetaraan dan kehormatan, dia tidak menolak ide Ma Ying-jeou untuk berkunjung ke Tiongkok. Selalu ada beberapa tugas yang harus diemban oleh seseorang.