(Taiwan, ROC) – Kantor Perwakilan Taiwan di Swiss dan Kedutaan besar Amerika Serikat di Swiss pada Rabu (13/3) bersama-sama menggelar seminar “Kerangka Kerja Sama dan Pelatihan Global”. Perwakilan Taiwan untuk Uni Eropa, Roy Chun Lee (李淳) dalam pidatonya menekankan bahwa Republik Rakyat Tiongkok (RRT) telah menggunakan alat-alat ekonomi dan perdagangan sebagai senjata. Oleh karena itu, risiko politik harus dipertimbangkan dalam kegiatan bisnis. Menghadapi ancaman geopolitik, dirinya mengajak mitra demokratis untuk bersatu dan bersama-sama melawan ancaman ekonomi otoriter.
Kementerian Luar Negeri (MOFA) Taiwan pada Kamis (14/3) malam melalui pers riilis menyatakan bahwa Kantor Perwakilan Taiwan di Swiss dan Kedutaan besar Amerika Serikat di Swiss telah mengadakan seminar “Kerangka Kerja Sama dan Pelatihan Global / GCTF” dengan tajuk “Resiliensi Ekonomi dan Reorganisasi Rantai Pasokan” pada Rabu (13/3) di Bern, Swiss. Seminar tersebut mengundang para penggagas kebijakan dan perwakiilan industri dari Taiwan, Amerika Serikat (AS), dan Swiss untuk membahas bagaimana memastikan keamanan rantai pasokan dan meningkatkan resiliensi ekonomi.
MOFA menjelaskan, seminar tersebut dibuka bersama oleh Kepala Kantor Perwakilan Taiwan di Swiss David W. F. Huang (黃偉峰) dan Duta Besar AS untuk Swiss, Scott C. Miller, yang terbagi menjadi dua sesi, yaitu “Geopolitik, Ancaman Ekonomi, dan Penguatan Rantai Pasokan” dan “Produksi Offshore, Aliansi Offshore, dan Reisilensi Ekonomi”, serta mengundang Perwakilan Taiwan untuk Uni Eropa Roy Chun Lee (李淳) guna memberikan pidato khusus.
David W. F. Huang (黃偉峰) dalam pidato pembukaannya menyatakan bahwa dalam menghadapi tantangan-tantangan serius seperti krisis geopolitik, perubahan iklim, inflasi, dan pandemi, negara-negara dengan prinsip yang serupa harus bersatu untuk meningkatkan keamanan rantai pasokan dan ketahanan demokrasi, serta mempertahankan tatanan internasional yang berbasis pada aturan. Dirinya juga menekankan pentingnya kerja sama untuk mencapai masa depan yang saling menguntungkan.
Roy Chun Lee (李淳) dalam pidato khususnya menyoroti pihak Negeri Panda yang terus menggunakan alat ekonomi dan perdagangan sebagai senjata, serta Taiwan, Jepang, Australia dan Lithuania semuanya menghadapi ancaman tersebut. Dirinya menekankan pentingnya untuk mempertimbangkan risiko politik dalam bisnis, terutama dalam menghadapi ancaman geopolitik. Dirinya juga menyerukan agar negara-negara dengan prinsip yang serupa berkoordinasi satu sama lain guna mencapai keseimbangan antara efisiensi dan keamanan, serta untuk bersatu dalam menghadapi ancaman ekonomi dari negara-negara otoriter.
MOFA menyampaikan, GCTF didirikan pada bulan Juni 2015 sebagai hasil kerja sama antara Taiwan dan Amerika Serikat. Saat ini, GCTF telah menjadi platform penting bagi negara-negara dengan prinsip yang serupa untuk berbagi pengalaman dan sebuah platform penting untuk membantu peningkatan kapasitas. GCTF sejak tahun 2021, telah memperluas cakupannya dengan mengadakan acara di luar negeri melalui sistem keanggotaan, memperdalam kerja sama dan pertukaran dengan Taiwan dan negara-negara dengan prinsip yang serupa, serta komunitas lokal.