(Taiwan, ROC) --- Baru-baru ini terjadi tragedi kekerasan anak kecil yang berujung kematian. Seorang pengasuh (kewarganegaraan Taiwan) diketahui telah menyiksa seorang bayi lelaki berusia 1 tahun hingga meninggal dalam waktu hanya tiga bulan.
Tindakan menyiksa tersebut meliputi mencabut kuku, hanya memberinya satu cangkir sisa makanan atau makanan yang hangus (gosong), serta sesekali memukulinya, mengikat tangannya ke belakang, memaksa sang bayi untuk tidur dengan cara berdiri.
Bocah lelaki tersebut akhirnya meninggal karena mengalami malnutrisi, dengan banyak bekas luka di sekujur tubuhnya. Setelah berita ini terungkap ke publik, tindakan tidak berperikemanusiaan tersebut akhirnya menarik perhatian mayoritas warga Taiwan.
Saat ini, Kantor Kejaksaan Distrik Taipei sedang menyelidiki kasus tersebut, sang pelaku dikenakan tuduhan kekerasan pada anak yang berujung pada kematian.

圖/CNA
Awal Mula Mengapa Sang Anak Bisa Berada di Tangan Pengasuh
Ayah dari sang bayi diketahui menghilang dan ibunya masih berada dalam tahanan penjara. Karena kondisi keluarga yang tidak memungkinkan, membuat perawatan sang bayi dilimpahkan kepada dinas sosial.
Dinas sosial kemudian meminta bantuan dari pihak Yayasan Child Welfare League Foundation (CWLF) untuk mengasuh sang bayi yang berinisial Kai Kai (nama samaran).
Kai Kai lalu dirawat oleh seorang pengasuh bermarga Liu dan saudarinya di dalam rumah Liu. Liu sendiri memiliki sertifikat resmi sebagai seorang pengasuh anak-anak.
Perlu diketahui, di Taiwan, untuk menjadi seorang pengasuh resmi harus melalui ujian dan menerima sertifikasi sah.
Dan semenjak bulan September 2023, Kai Kai resmi diasuh oleh Liu.
Menurut pemberitaan yang ada, sebelum masuk ke dalam jeruji besi, ibunda Kai Kai sebenarnya sudah menemukan seorang pengasuh pribadi. Selang beberapa waktu, pengasuh tersebut ingin mengangkat Kai Kai sebagai anak secara resmi, tetapi ditolak oleh lembaga terkait karena alasan pernah bercerai, sehingga tidak memenuhi persyaratan adopsi.
Dan karena tidak mampu membayar biaya pengasuh berikutnya, ibunda Kai Kai akhirnya meminta bantuan Dinas Sosial.
Pada tanggal 24 Desember 2023 dini hari, polisi menerima laporan bahwa seorang anak laki-laki di Taipei mengalami banyak luka tidak normal di seluruh tubuhnya dan telah berhenti bernapas sebelum tiba di rumah sakit.
Meskipun upaya penyelamatan gencar dilakukan oleh staf medis, tetapi nyawa anak itu tidak bisa ditolong. Lebih mengerikannya lagi, hasil otopsi menemukan bahwa anak itu tidak hanya mengalami malnutrisi, tetapi juga mengalami kerusakan pada tengkorak dan tulang ekornya, serta beberapa gigi patah, kuku-kuku dicabut, dan organ genitalnya terbakar.

Beberapa luka yang ditemukan pada jenazah Kai Kai. 圖/自由時報
Penahanan Oleh Pihak Berwenang
Mengingat keparahan luka yang dialamai Kai Kai, Pengadilan Distrik Taipei menahan Liu pada tanggal 9 Januari 2024.
Selang satu bulan kemudian, yakni Februari, saudari perempuan Liu juga dipanggil untuk memberikan keterangan.
Kedua bersaudari itu membantah semua tuduhan dan mengklaim bahwa luka pada tubuh Kai Kai adalah hasil dari terbentur dan jatuh.
Namun, setelah penyelidikan oleh jaksa dan polisi, Liu bersama saudarinya dicurigai memiliki keterlibatan langsung dengan kematian Kai Kai. Mereka didakwa dengan tuduhan "Penganiayaan Anak yang Menyebabkan Kematian" dan ditahan setelah surat perintah penahanan disetujui.
Kasus ini masih dalam proses investigasi di Kejaksaan Negeri Taipei.

圖/聯合報
Warga Taiwan Berang
Kasus penyiksaan yang dilakukan oleh dua saudari tersebut akhirnya viral di Taiwan, dan memicu kemarahan publik.
Setelah menyita ponsel kedua saudari tersebut, tim penyidik menemukan bahwa pada suatu kesempatan, karena alasan Kai Kai tidak nurut, salah satu dari mereka menekan kepala Kai Kai ke kakinya hingga membentuk huruf "U", lalu mengikatnya dengan kain, dan memasukkannya ke dalam ember.
Kai Kai berjuang keras dan bersusah payah, dan akhirnya ia beserta ember pun terbalik.
Kejadian itu malah ditertawakan oleh kedua saudari tersebut dengan kata-kata "Dia terbalik. Ketika dia merangkak keluar dari ember, saya memasukkannya kembali".
Temuan di dalam ponsel tersebut sontak saja membuat publik kian geram.
Perihal alat kelamin Kai Kai yang mengalami kondisi terbakar hingga gosong, Liu membantah seluruh tuduhan dan mengatakan bahwa Kai Kai sendirilah yang membakar alat kelaminnya.
Ia juga mengatakan bahwa kuku Kai Kai yang tercabut, akibat gigitan Kai Kai sendiri.
Namun, keluarga dan kerabat Kai Kai tidak percaya dengan pernyataan Liu. Mereka mengungkapkan bahwa sejak di bawah asuhan Liu, Kai Kai sering mengalami penyiksaan. Ia dipukuli, ditendang, diikat di kursi, dan bahkan dipaksa tidur berdiri.
Parahnya, saat Kai Kai tidak bernapas, Liu tidak segera membawanya ke rumah sakit, melainkan menelepon saudarinya untuk membantu menghilangkan bukti. Hal ini jelas-jelas menunjukkan bahwa Liu tidak memedulikan keselamatan bayi malang tersebut.
Seorang perawat asing yang dipekerjakan oleh mertua Liu menyampaikan bahwa Liu tidak hanya meminta Kai Kai untuk berdiri sebagai hukuman, tetapi juga mendorong Kai Kai ke tembok, dan memblender "sisa makanan" untuk diberikan kepada Kai Kai.
Meskipun tidak tahan melihat kekejaman tersebut, tetapi sang perawat asing merasa tidak berdaya karena posisinya sebagai "orang luar". Ia tidak berani berbicara sampai ayah Liu yang dirawatnya meninggal pada Januari tahun ini, dan hubungan kontrak kerjanya di rumah mertua Liu berakhir.
Sang perawat asing bersangkutan kemudian membeberkan video kekerasan yang diam-diam direkamnya, yang mana ini menjadi bukti kuat untuk membenarkan penahanan oleh pihak berwajib.

Pengasuh Liu (kiri) yang kini dituduh telah menyiksa Kai Kai hingga meninggal dunia. 圖/ETtoday
Alasan Mengapa Liu Tega Menyiksa Kai Kai Hingga Tewas
Menurut pemberitaan media TaiSounds, dalam pemeriksaan oleh jaksa, Liu mengatakan bahwa biasanya para orang tua yang menitipkan bayi mereka akan berusaha "merayu" dan "menyenangkan" hatinya, agar anak mereka dirawat dengan baik.
Namun, karena Kai Kai tersebut ditinggal oleh ayahnya dan ibunya dipenjara, tidak ada keluarga yang datang untuk memohon padanya. Hal ini kemudian membuat Liu merasa marah dan ingin memukul, saat ia melihat Kai Kai.
Liu bahkan berkata, "Jika bukan karena Dr. Sun Yat-sen (mata uang NT$) gaji bulanan sebesar NT$30.000, saya tidak akan mau mengasuhnya."
Begitu kabar ini terkuak, publik di Taiwan merasa sangat tidak puas dan tidak sedikit dari mereka yang geram.
Bahkan salah satu presenter berita kenamaan Taiwan, Nicole Hsiao (蕭彤雯), menyatakan, "Orang seperti ini sama sekali tidak pantas menjadi pengasuh. Anak-anak yatim piatu yang tengah menunggu adopsi, apakah tidak layak menerima pengasuhan yang layak. Karena tidak ada orang tua yang peduli dengan mereka, maka tidak perlu diurus? Hal buruk apa yang kamu alami, sampai-sampai kamu tega lampiaskan ke anak kecil tersebut!"
Yayasan Sosial CWLF Dicecar Warganet Taiwan
Setelah kejadian ini terungkap, suami, anak, dan kerabat yang tinggal serumah dengan Liu menyatakan bahwa mereka tidak mengetahui penyiksaan Liu terhadap Kai Kai. Dan pernyataan ini tentu saja menimbulkan kecurigaan publik.
Dinas Sosial dan Yayasan CWLF yang merekomendasikan Liu sebagai pengasuh Kai Kai mengklaim bahwa dalam tiga kunjungan mereka di bulan September, Oktober, dan November 2023, tidak menemukan kejanggalan pada Kai Kai.
Klaim di atas kemudian ditentang oleh keluarga Kai Kai lainnya, yang menyatakan bahwa permintaan untuk bertemu dari nenek Kai Kai sering ditunda bahkan ditolak oleh Liu.
Masalah kelalaian dari Dinas Sosial dan Yayasan CWLF terus memicu kecaman khalayak luas. CWLF telah mengeluarkan pernyataan duka cita kepada korban dan anggota keluarga Kai Kai.
CWLF juga membantah tuduhan publik yang menyatakan bahwa mereka telah memalsukan jadwal kunjungan atau bahkan sama sekali tidak pernah mengunjungi Kai Kai.
Namun sayangnya, pernyataan CWLF di atas kembali tidak diterima oleh publik.
Komentar di media sosial menjadi ramai, menuntut penjelasan mengapa kasus akhir tahun lalu ini, baru terungkap sekarang, dan mengapa kunjungan bulanan tidak menemukan adanya kecurigaan tindakan penyiksaan.
Netizen mengecam CWLF yang dinilai telah gagal dalam melindungi anak-anak.
Yayasan CWLF menggelar pertemuan pers pada Selasa (12/3) menyampaikan permintaan maaf atas terjadinya insiden memilukan pada Kai Kai. 圖/三立新聞
Pada Selasa sore kemarin (12/3), Ketua Yayasan CWLF mengadakan konferensi pers untuk menanggapi kritik yang dilancarkan kepada mereka
Dia menyatakan bahwa CWLF tidak dapat menerima dan mempertanggungjawabkan kegagalan stafnya dan organisasi dalam mendeteksi tanda-tanda abnormal pada anak asuh, yang mengakibatkan tragedi ini terjadi.
CWLF menambahkan bahwa mereka akan meminta stafnya untuk bekerja sama dengan investigasi, serta segera membentuk tim khusus untuk memperkuat (mengawasi) proses pengasuhan anak, dan mengkaji ulang tindakan yang dapat diambil terhadap pengasuh yang tidak berperikemanusiaan.
Guna mencegah tragedi serupa terjadi di masa depan, CWLF berkomitmen untuk mempelajari tragedi ini, serta meningkatkan sistem dan prosedur untuk melindungi anak-anak.