(Taiwan, ROC) --- Tidak menikah, tidak memiliki anak, kepada siapa warisan akan diberikan nantinya?
Jika tidak menikah dan tidak memiliki anak, maka menurut hukum perdata di Taiwan, urutan penerima hak waris adalah orang tua, saudara kandung, dan kakek nenek.
Namun, jika kerabat ini juga tidak ada lagi, maka warisan sangat mungkin seluruhnya menjadi milik negara.
Tahun lalu, ada 55 kasus warisan tanpa ahli waris, dengan jumlah mencapai lebih dari NT$458 juta. Dimana ada satu kasus terbesar yang harta warisannya hampir mencapai NT$300 juta dan disita.
Salah satu kasus nyata yang dicatat oleh Direktorat Jenderal Perpajakan Nasional adalah kisah seorang keponakan yang ingin mewarisi warisan dari bibinya, tetapi karena tidak memiliki hak waris, maka semua harta warisan milik bibinya disita negara.
Pengacara Yeh Shu-hung (葉恕宏) mengatakan, "Dalam situasi ini, begitu warisan terjadi, tidak ada cara untuk memperbaiki situasi tersebut. Disarankan untuk menggunakan wasiat tertulis sendiri, menentukan bahwa warisan akan diberikan kepada keponakan yang telah lama merawatnya. Meskipun secara hukum dia bukan ahli waris yang sah, tetapi masih bisa mengikuti ketentuan hibah warisan, untuk memberikan bagian dari bibinya kepada dia."
圖/翻攝自unsplash
Sekjen Asosiasi Perencanaan Aset Pribadi, Wu Rong-ren (吳鎔任) mengatakan, "Berdasarkan ketentuan hukum sipil, selain pasangan (suami atau istri), urutan pertama adalah keturunan sedarah lurus ke bawah (anak), kedua adalah orang tua, ketiga adalah saudara kandung, dan keempat adalah kakek nenek. Karena dia tidak memiliki pasangan atau anak, dalam kondisi normal jika orang tuanya sudah tidak ada, maka ahli waris tersebut akan diwariskan oleh saudara kandungnya. Tentu saja, berdasarkan praktik di lapangan, banyak orang lajang berpikir setelah mereka meninggal, tidak masalah untuk mewariskan aset mereka kepada saudara kandungnya. Namun, harus dipertimbangkan apakah pada saat itu saudara kandungnya masih ada atau tidak (hidup). Jika saudara kandungnya sudah tidak ada lagi, kebanyakan klien akan berpikir, untuk mewariskan kepada anak-anak dari saudara kandungnya (keponakan). Namun, menurut hukum sipil yang ada, hanya saudara kandunglah yang dapat mewarisi."
Dalam praktik hukum, pengacara di Taiwan juga telah menangani kasus seperti pasangan sesama jenis.
Pengacara Yeh Shu-hung mengatakan, "Pasangan sesama jenis ini, orang tuanya sudah meninggal dan mereka juga tidak memiliki anak. Karena pada waktu itu pernikahan sesama jenis belum dilegalisasi di Taiwan, dan dia ingin meninggalkan hartanya kepada pasangan sesama jenisnya."
Berdasarkan data statistik yang diterbitkan oleh National Treasury Administration (NTA) Kementerian Keuangan, tahun lalu ada 55 kasus warisan tanpa ahli waris dengan jumlah mencapai NT$458,31 juta, dengan jumlah terbesar dalam satu kasus adalah NT$288 juta, keduanya menciptakan rekor baru.

圖/ingimage
Pengacara Liu Wei-ting (劉韋廷) mengatakan, "Ada beberapa orang yang karena kurang memahami hukum, mereka mungkin sama sekali tidak tahu bagaimana cara membuat surat wasiat. Mereka mungkin mendatangi pengacara, dan harus saya katakan, tidak semua pengacara adalah spesialis dalam membuat wasiat. Ini bukan seperti yang dibayangkan, di mana kita mengajukan gugatan di pengadilan untuk mengonfirmasi keabsahan sebuah wasiat. Hal ini kemudian tidak jarang akan menimbulkan kerancuan dan banyak gugatan. Dan tidak sedikit yang mungkin merasa telah menghabiskan banyak uang dan waktu, hanya untuk membuat wasiat yang tidak efektif dan bahkan menyebabkan perang warisan."
Bagi mereka yang lajang, jika suatu hari nanti tidak ada ahli waris yang masih hidup, maka masalah warisan bisa diatasi dengan memberikan "hadiah" saat masih hidup atau dengan menyiapkan surat wasiat terlebih dahulu.
Di Taiwan, ada lima jenis wasiat, termasuk wasiat yang ditulis sendiri, wasiat yang disahkan notaris, wasiat yang disegel, wasiat yang ditulis perantara, dan wasiat lisan.

圖/經濟日報
Uang merupakan materi yang tidak dapat dibawa mati. Oleh karena itu, para ahli berpendapat bahwa yang terpenting bagi orang lajang adalah merawat diri sendiri selagi masih hidup.
Wu Rong-ren melanjutkan, "Karena dia adalah seseorang yang lajang, di hari tua mungkin dia tidak memiliki pasangan atau anak, dan mungkin tidak ada saudara atau keponakan yang bisa membantu merawat. Tentu saja, saat ini Financial Supervisory Commission (FSC) mendorong penggunaan program perwalian lansia untuk perawatan lanjut usia, seperti Program Perawatan Lanjut Usia 2.0. Menurut saya, ini adalah cara yang sangat baik, karena ketika kita menua, kemampuan kita untuk mengelola kekayaan menjadi lebih lemah, sehingga kekayaan tersebut mudah menghadapi berbagai risiko."
Meskipun pepatah mengatakan, "Lahir tak membawa apa-apa, mati tak membawa apa-apa", tetapi bagi individu lajang yang ingin memastikan masa depan orang-orang terkasih di luar hukum yang ada, maka perencanaan adalah kuncinya. Hal ini dapat membantu menghindari perselisihan dan memastikan kelancaran transisi setelah kepergian Anda.