(Taiwan, ROC) The Museum of Contemporary Art (MOCA), Taipei menyajikan pameran “Phantoms” karya seniman Indonesia, Timoteus Anggawan Kusno berlangsung mulai 24 Februari – 21 April 2024. Acara pembukaan pameran yang berlangsung pada hari Sabtu ini (24/2) digelar di Activity Hall lantai 1, MOCA Taipei, dipandu langsung oleh Timoteus Anggawan Kusno menerangkan beberapa karya dalam ruang studio di MOCA. Ia mengatakan, “ Saya sendiri tidak menjamin hari ini setelah menyaksikan video ini akan membuat Anda sekalian menjadi jelas atau malah semakin bingung, karena tujuan bukan untuk menjelaskan sesuatu tapi bagaimana saya berkarya, pengalaman saya ungkapkan dalam karya.”
Guna memberikan pemahaman lebih lanjut terkait masa transisi politik di Indonesia dan konteks budaya koloni yang bersejarah, maka pameran Phantoms pada hari Sabtu ini (24/2) menggelar Artist Talk, dengan narasumber diantaranya seniman Indonesia Timoteus Anggawan Kusno, Professor and Director of the Graduate Institute of Trans-disciplinary Arts (TNUA) Sing Song-yong, didampingi interpreter Senior Konsultan divisi Bahasa Internasional RTI, Tony Thamsir untuk membawa pengunjung bereksplorasi dan menjelajahi sejarah Indonesia yang belum selesai.

Artist Talk : Phantoms karya dari seniman Indonesia, Timoteus Anggawan Kusno (foto: RTI)
Pembuatan film yang mengombinasikan unsur puitis dan unik merekam tarian tradisional “Jathilan”, mengisahkan sebuah narasi visual yang terikat dengan sejarah, fiksi dan memori serta mengungkap kisah trauma yang sulit diungkap dan kenangan yang terkubur tentang masa lalu Indonesia bergejolak.
Karya-karya dalam “Phantoms” diproduksi Han Nefkens Foundation – Loop Barcelona pada tahun 2022, bekerja sama dengan Fundacio Joan Miro dan mendapat anugerah dalam “Video Production Award”. Pameran ini mendapat dukungan dari berbagai institusi dunia diantaranya MOCA Taipei, The Inside-Out Art Museum Beijing, ILHAM Gallery Kuala Lumpur, Centre d' Art Contemporain di Genève, dan Art Hub Copenhagen.

Artist Talk : Phantoms karya dari seniman Indonesia, Timoteus Anggawan Kusno (foto: RTI)
Dalam seri kali ini, Kusno berkolaborasi dengan komunitas penari Jathilan di Yogyakarta, menggunakan perlengkapan kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu, para penari secara perlahan-lahan kesurupan dalam ritual tarian, terlihat gerakan-gerakan tubuh dan suara yang bebas sembari berkomunikasi dengan roh leluhur. Tarian ini yang menandakan suatu relasi antara budaya masa lalu, peristiwa tertentu dan penari yakin mereka mewujudkan visi masa depan untuk sementara waktu.
Pembuatan film “Reversal” berlokasi di pabrik gula pada masa colonial Belanda,. Pertunjukan tarian di perkebunan tebu, pabrik gula yang terabaikan dan vila dari para elit Belanda yang dulunya menguasai industri gula pada masa lalu. Melalui karya ini, dampak jangka panjang dari sejarah perkembangan industri gula terhadap masyarakat dan kehidupan budaya lokal perlahan-lahan mulai terlihat dan dirasakan.
Film “Trera Incognita” di jalur kereta pada masa kolonial Belanda, pemandangan kereta terlihat mewakili kekuasaan dari koloni Belanda. Seniman yang ingin menggambarkan koloni Belanda, propaganda politik Jepang dan rezim totaliter dalam karya videonya. Ketika totalitarianisme terus berkembang dan kembali lagi ke negeri ini, maka luka dan trauma dari sejarah yang menindas , samar-samar menghantui kehidupan Indonesia masa kini.