(Taiwan, ROC) --- Taiwan dan India telah menandatangani perjanjian Memorandum of Understanding (MOU) kerja sama di bidang ketenagakerjaan.
Perdana Menteri Chen Chien-jen (陳建仁) menyampaikan, dikarenakan kekurangan tenaga kerja di sektor perindustrian, maka Taiwan perlu menambah sumber negara asal pekerja migran untuk mempertahankan daya saing Taiwan.
Selain itu, pekerja migran dari India sangat dipercaya oleh berbagai negara, dan ia berharap agar masyarakat tidak memberikan stigmatisasi tertentu.
Kementerian Ketenagakerjaan (MOL) di lain pihak juga memberikan penjelasan mereka.
Baru-baru ini, MOL mengumumkan bahwa Taiwan dan India telah menandatangani Memorandum of Understanding (MOU) kerja sama ketenagakerjaan.
Kedua belah pihak akan melanjutkan proses pertukaran dokumen dan secepatnya mengadakan pertemuan tingkat kerja untuk membahas detail perihal sektor industri dan jumlah yang akan dibuka, serta wilayah asal pekerja migran, kualifikasi pekerjaan, dan metode perekrutan.

Perdana Menteri Chen Chien-jen (陳建仁). 圖/三立新聞
Juru bicara Yuan Eksekutif, Lin Tze-luen (林子倫), menyampaikan, karena penurunan laju kelahiran domestik, serta sektor perindustrian di Taiwan yang mengalami krisis tenaga kerja, maka diperlukan penambahan lebih banyak sumber negara asal untuk pekerja migran.
Penandatanganan MOU kali ini dengan India tentu dapat menambahkan satu sumber tenaga kerja berkualitas bagi Taiwan, serta akan memberikan lebih banyak pilihan, dan dapat terus menjaga daya saing Taiwan.
Melihat situasi internasional saat ini, pekerja migran dari India sangat dipercaya oleh berbagai negara, misal Jerman, Italia dan Timur Tengah yang telah berpengalaman merekrut pekerja India. Sedangkan Jepang dan Korea Selatan juga telah menandatangani MOU dan sedang dalam tahap negosiasi.

圖/中時新聞網
Perdana Menteri menyampaikan, sangat disayangkan bahwa sebagian media dan beberapa orang dengan sengaja menstigmatisasi pekerja migran dari India yang notabene dapat diandalkan oleh dunia.
Hal ini tentu tidak adil bagi rakyat India dan dapat menyebabkan kesalahpahaman global terhadap Taiwan.
Berdasarkan pengalamannya, ada sekitar 1000 peneliti post-doktoral di Academia Sinica, sekitar 200 di antaranya adalah orang India, dan banyak juga yang sudah berada di industri startup.
Perdana Menteri berharap orang-orang dengan pandangan tersebut menghentikan tindakan mereka dan meminta MOL untuk terus mengklarifikasi informasi yang salah.