(Taiwan, ROC) --- Baru-baru ini, seorang tutor di sebuah bimbingan belajar di Taiwan membagikan pencapaian luar biasa dari sepasang saudara kandung di salah satu Sekolah Dasar.
Melalui laman pribadinya di Facebook, sang tutor memperlihatkan jadwal kegiatan mereka yang padat selama satu minggu penuh. Dalam sehari, sepasang saudara kandung tersebut hanya tidur selama 6,5 jam, sementara sisanya diisi dengan aktivitas belajar, mengikuti les tambahan, dan berlatih piano.
Postingan ini ternyata menjadi viral dan diberitakan oleh banyak media arus utama di Taiwan. Banyak netizen yang berkomentar seperti, "Ini lebih mirip film horor, ya?!"
Guru bimbingan belajar tersebut mengungkapkan di Facebook bahwa kedua saudara itu dikenal sebagai murid yang menonjol di sekolah.

圖/放言
Tidak hanya berprestasi akademis yang cemerlang dan sering kali meraih posisi teratas dalam berbagai kompetisi ilmiah, tetapi kedua saudara kandung tersebut juga aktif berpartisipasi dalam lomba-lomba mewakili kelas mereka.
Prestasi mereka dalam seni juga tidak kalah menonjol. Mereka berdua telah memulai pembelajaran piano sejak berusia 4 tahun dan terus mengasah kemampuan hingga sekarang.
Bahkan, sering kali namanya tercatat dalam daftar pemenang di kompetisi bergengsi, dan juga sempat belajar violin selama 2 tahun.
Pada tahun ini, kedua bersaudara itu bahkan mendapat kesempatan untuk tampil di Konserthaus, Wina, Austria.
Ibu dari kedua bersaudara itu menyatakan, "Musik adalah hadiah yang kami (orang tua) berikan kepada mereka untuk seumur hidup. Di masa depan, jika mereka berangkat ke luar negeri, musik mungkin bisa menjadi jalur karier alternatif bagi mereka. Omong-omong, kami tidak pernah secara khusus menginginkan mereka untuk mengikuti kelas musik tertentu, karena kami melihat dedikasi dan ketabahan mereka melalui perjalanan mereka belajar piano."

圖/TVBS news
Ibu kandung dari sepasang bersaudara tersebut juga membagikan jadwal keseharian dari kedua anaknya. Dari Senin hingga Minggu mereka bangun pukul 05:50 pagi, kemudian hingga pukul 07:10, mereka akan menulis tugas (menyelesaikan tugas Bahasa Inggris, Matematika, dan Bahasa Mandarin), berangkat ke sekolah pukul 07:30, pulang sekolah pukul 16:00 kemudian menggunakan waktu 35 menit di dalam mobil untuk menyelesaikan tugas PR.
Dari pukul 16:40 hingga 19:00 mereka berada di kelas bimbingan belajar, lalu menghabiskan makan malam dalam waktu 15 menit di dalam mobil.
Pukul 19:20 menyelesaikan tugas sekolah di dalam kelas bimbingan, dan dari pukul 20:30 hingga 23:00 berlatih piano, setelah itu menghabiskan setengah jam untuk membaca naskah bahasa Inggris.
Saat akhir pekan tiba, waktu sekolah dan jam les diganti dengan kelas menulis dan pelajaran renang. Selain itu mereka tetap harus mengulang pelajaran sekolah, berlatih piano, dan membaca bahasa Inggris.
Jadwal padat ini bahkan membuat guru mereka terkejut, "Setelah melihat jadwal di atas, apakah para orang tua merasakan hal yang sama seperti saya, yakni tercengang? Ini mungkin jadwal terpadat yang pernah saya lihat!"
Namun, dia menekankan bahwa menurut ibu mereka, kedua bersaudara itu sangat menikmati aktivitas yang ada.
Image by Pexels from Pixabay
Begitu postingan itu dibagikan, banyak netizen terkejut, mereka beramai-ramai berkomentar, "Ini seperti film horror. Jika anak-anak ini tumbuh menjadi kaum elit, mungkin mereka akan mempertimbangkan dengan sangat matang keputusan untuk tidak memiliki anak."
"Yang Saya hanya ingin tanyakan, apakah ibu mereka sendiri sebegitu rajin ketika masih anak-anak. Selain merasa kasihan, saya tidak memiliki kesan lain. Sangat menyedihkan melihatnya, semoga mereka selalu dilindungi." tulis salah seorang netizen.
"Anak-anak~ ini semua demi nama baik ibu kalian ya? Semoga di tahun baru ini, mereka bisa duduk dan makan dengan baik," timpal netizen lainnya.

Komentar netizen melihat jadwal padat dari sepasang saudara kandung yang baru menginjak usia SD. 圖/中視新聞
Bahkan dokter spesialis ginjal di Taiwan, Wang Chieh-li (王介立), menyatakan bahwa ia lebih memilih untuk percaya bahwa jadwal tersebut berlebihan. Ia tidak percaya ada anak yang bisa terus menerus tidur kurang dari 6 jam setiap hari tanpa mengumpulkan "utang tidur" atau mengalami kelelahan total (burnout).
Jika memang ada, itu hanya bisa karena keunikan genetik yang membuat mereka tidak memerlukan jumlah tidur standar.
Yang penting adalah, prestasi hidup hanya bisa dibandingkan dengan diri sendiri. Wang Chieh-li yakin bahwa anak-anak yang cukup tidur selama 8 jam pasti akan lebih berhasil dibandingkan mereka yang hanya tidur 6 jam, setidaknya dari segi pengharapan.