(Taiwan, ROC) - Ada batas jenis pekerjaan dan kuota lowongan kerja dalam sistem perekrutan pekerja migran (PMA) di Taiwan, dan PMA hanya bisa direkrut saat perekrutan dalam negeri tidak mencukupi, maka masyarakat tidak usah khawatir bahwa diizinkannya perekrutan pekerja migran India akan merebut lowongan kerja warga lokal.
Demikian diungkapkan Tsai Meng-liang (蔡孟良), Direktur-jenderal Badan Pengembangan Tenaga Kerja (WDA) Kementerian Ketenagakerjaan (MOL) pada hari Senin, perihal ditandatanganinya Nota Kesepahaman (MoU) tentang kerja sama perburuhan antara Taiwan dan India, yang belakangan telah membangkitkan kekhawatiran bahwa impor PMA dari India akan memengaruhi lapangan kerja domestik.
Menurut Tsai, akibat dampak dari populasi yang menua dan angka kelahiran yang rendah, populasi usia kerja dan angkatan kerja akar rumput telah menyusut tajam; kekurangan pekerja di bidang manufaktur, konstruksi, pertanian dan industri lainnya terus berlanjut, sementara kebutuhan akan perawatan bagi penyandang disabilitas di rumah juga semakin meningkat.
Saat ini, lanjut Tsai, Taiwan hanya merekrut PMA dari empat negara yaitu Vietnam, Indonesia, Filipina, dan Thailand, relatif sedikit dibandingkan dengan negara tetangga seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura, yang masing-masing memiliki lebih dari 10 negara sumber.
Untuk mengurangi risiko sumber yang terlalu berpusat, Taiwan harus secara aktif mencari pekerja migran dari negara lain. Tsai mengatakan, "Misalnya, bidang manufaktur, konstruksi dan pertanian, perawatan keluarga dan disabilitas, permintaan semuanya akan meningkat. Kebutuhan akan pekerja migran akan menjadi masalah serius di masa depan."
Untuk tahap awal, kata Tsai, pekerja direncanakan akan direkrut dari India Timur Laut, di mana sebagian besar masyarakat di sini beragama Kristen, berbicara bahasa Inggris, memiliki kebiasaan makan dan penampilan yang mirip dengan Asia Timur, maka diperkirakan akan lebih mudah beradaptasi dalam kehidupan di Taiwan.