(Taiwan, ROC) --- Tak jarang setelah perayaan Tahun Baru Imlek, berat badan akan bertambah dan sulit untuk dikurangi, bahkan kondisi refluks asam lambung (GERD) menjadi lebih parah.
Seorang dokter di Taiwan mengingatkan, hal ini bisa jadi karena pengaruh dari sindrom apnea tidur, di mana kualitas tidur yang buruk juga bisa menjadi penyebab berat badan terus bertambah.
Dalam kondisi yang paling buruk, hal ini dapat menciptakan siklus yang merusak, di mana kesehatan pasien secara keseluruhan bisa terancam dalam jangka panjang.
Menurut data dari Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan (MOHW), tingkat obesitas dan kelebihan berat badan pada orang dewasa di Taiwan, semenjak tahun 2016 hingga 2019 berkisar 47.9%. Angka ini kemudian meningkat menjadi 50.3% pada periode tahun 2017 hingga 2020.
Lebih dari 80% dari populasi berusia di atas 30 tahun memiliki kadar lemak tubuh yang tinggi. Rata-rata, setelah perayaan Imlek, berat badan masyarakat bertambah sekitar 2 kg, menandakan masalah obesitas yang semakin meningkat.

示意圖/取自免費圖庫Pixabay
Dokter Tsai Ming-shao (蔡明劭), Kepala Departemen THT, bagian klinik mulut dan tenggorokan di Chiayi Chang Gung Memorial Hospital, mengungkapkan bahwa kurangnya kualitas tidur juga dapat menyebabkan kenaikan berat badan.
Hal ini karena tidur yang buruk dapat mengganggu fungsi normal sistem endokrin, terutama mengurangi produksi leptin yang berperan dalam mengontrol nafsu makan, sehingga meningkatkan keinginan terhadap makanan manis dan makanan cepat saji berkalori tinggi. Ini selanjutnya bisa berujung pada asupan kalori yang berlebihan dan menyebabkan obesitas.
Selain berpotensi menumpuk lemak di sekitar leher dan lidah yang membuat saluran napas lebih mudah menyempit dan terblokir, kegemukan juga bisa menyebabkan sindrom apnea saat tidur.
Kondisi ini tidak hanya menghasilkan dengkuran keras tetapi juga dapat menyebabkan gejala seperti sakit kepala dan kelelahan, yang jika dibiarkan berlarut-larut dapat berdampak negatif pada kesehatan secara keseluruhan.
Akibat sindrom apnea tidur, penderita sering kali mengalami kesulitan untuk mendapatkan tidur yang berkualitas di malam hari, yang berujung pada penurunan aktivitas fisik dan metabolisme dasar di siang hari.
Kegemukan yang memburuk akibat kualitas tidur yang rendah, sebaliknya, juga akan semakin memperparah kualitas tidur itu sendiri.

圖/壹蘋新聞網
Lebih lanjut, kegemukan dapat meningkatkan risiko refluks asam lambung. Menurut Dokter Tsai Ming-shao, terdapat dua jenis refluks asam, yaitu refluks asam faringolaring, yaitu gangguan asam lambung yang mencapai faring dan laring, membuat penderita sering batuk, serta merasakan sensasi benda asing di tenggorokan, dan kesulitan bernapas.
Sedangkan refluks gastroesofageal membuat penderita merasa sensasi terbakar yang sangat tidak nyaman. Diketahui bahwa sekitar 45% pasien dengan sindrom apnea tidur juga mengalami refluks asam faringolaring, menunjukkan hubungan yang erat antara dua kondisi tersebut.
Karena orang yang kelebihan berat badan memiliki lemak viseral yang meningkatkan tekanan dalam perut dan memadatkan ruang pernapasan di dada. Saat tidur, penyumbatan saluran napas dapat menyebabkan usaha bernapas yang keras, serta menciptakan tekanan negatif yang menarik asam lambung ke dalam tenggorokan. Ini dapat mengakibatkan batuk, serta sensasi adanya benda asing di tenggorokan, dan kemungkinan tersedak.
Dia menyarankan bahwa mayoritas pasien dengan sindrom apnea tidur mengalami masalah kegemukan. Dalam menurunkan berat badan, 70% nya sangat tergantung pada pola makan yang sehat, dan 30% pada aktivitas fisik. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga pola makan yang seimbang dan berat badan ideal sehari-hari.