(Taiwan, ROC) --- Selebgram asal Taiwan, Chen Neng-chuan (陳能釧) baru-baru ini membuat heboh dunia maya di Taiwan, dengan mengklaim dirinya telah mengalami kekerasan dan penyanderaan saat melakukan siaran LIVE di area yang diduga pernah menjadi markas sindikat penipuan di Sihanoukville, Kamboja.
Otoritas Kamboja menyatakan seluruh kasus ini adalah rekayasa yang dibuat olehnya sendiri. Aparat berwenang juga telah menangkap Chen Neng-chuan dan temannya yang juga adalah seorang selebgram dengan nama Lu Tsu-hsien (魯祖顯)
Meskipun Chen Neng-chuan dan Lu Tsu-hsien telah berlutut meminta maaf dan memohon pemerintah Kamboja memberikan mereka kesempatan kedua, tetapi otoritas Kamboja bersikeras untuk mengadili kedua orang tersebut, dan baru akan mendeportasi setelah mereka menjalani hukuman.
Kepolisian Kamboja sebelumnya menuduh Chen Neng-chuan telah merusak reputasi Kamboja dengan sengaja memproduksi video palsu sejak dirinya tiba di bandara Kamboja. Hal ini tentu saja memicu kesalahpahaman di kalangan pengguna internet tentang Kamboja.

圖/中央社
Pada tanggal 15 Februari 2024, pemerintah Kamboja menggelar konferensi pers besar-besaran. Pertemuan media tersebut dipimpin secara pribadi oleh Gubernur Sihanoukville, Kuoch Chamroeun, dan ditemani oleh 20 polisi. Diberitakan ada lebih dari sepuluh media Kamboja hadir.
Dalam pertemuan pers tersebut, Chen Neng-chuan dan Lu Tsu-hsien diborgol, sebagian besar waktu menunduk dan tidak melihat ke kamera dengan ekspresi suram.
Menurut laporan media Cambodia China Times, Gubernur Kuoch Chamroeun memperlihatkan skenario yang telah direncanakan oleh Chen Neng-chuan dan Lu Tsu-hsien.
Mereka berdua telah merencanakan untuk membuat video konten di Kamboja sejak Januari. Mereka awalnya pergi ke Phnom Penh tetapi tidak berhasil, lalu datang ke Sihanoukville, dan berencana untuk melanjutkan ke Siem Reap setelahnya.

圖/ETTODAY
Chen Neng-chuan dan Lu Tsu-hsien berlutut di depan Kuoch Chamroeun selama konferensi pers berlangsung, dan polisi segera membantu mereka berdiri.
Mereka kemudian meminta maaf kepada pemerintah Kamboja dan Sihanoukville, menegaskan bahwa Kamboja tidak seburuk yang digambarkan orang.
Dalam pertemuan pers tersebut, Chen Neng-chuan mengklaim bahwa keamanan di Kamboja dan Sihanoukville sangat baik dan tempat itu sangat indah, tidak ada kegiatan penipuan, penculikan, atau perdagangan narkoba seperti yang diberitakan media dan internet.
Dia sangat menyesali kejadian ini dan berharap pemerintah Kamboja bisa memberinya kesempatan sekali lagi.
Dia ingin menyampaikan bahwa Kamboja dan Sihanoukville tidak seburuk yang "dirumorkan" orang, tidak ada kasus penipuan, perdagangan narkoba, atau penculikan. Sebenarnya, Kamboja dan Sihanoukville adalah tempat yang indah dan cocok untuk pariwisata.
"Seluruh video adalah rekayasa saya, saya sangat menyesal," demikian pengakuan Chen Neng-chuan.
Lu Tsu-hsien kemudian menyatakan harapannya agar pemerintah Kamboja dapat memberikan mereka kesempatan kedua. Awalnya mereka berencana untuk merekam pemandangan, kehidupan, dan kebudayaan Kamboja untuk dibagikan dengan semua orang di hari-hari terakhir mereka, tetapi akhirnya tidak mendapatkan kesempatan tersebut.
Lu Tsu-hsien sekali lagi memohon pemerintah Kamboja untuk memberikan kesempatan berikutnya, agar mereka dapat menggunakan pengaruh mereka untuk memberitahu semua orang bahwa Kamboja sebenarnya adalah "negara dengan keamanan yang sangat baik", tidak seperti yang ditulis oleh media internasional.
圖/民視新聞
Gubernur Kuoch Chamroeun secara terbuka menyatakan bahwa Chen Neng-chuan dan Lu Tsu-hsien telah membuat kesalahan serius. Hal ini tidak cukup dihukum hanya dengan teguran verbal. Jika mereka dimaafkan, maka akan ada orang lain yang terus merusak citra Kamboja.
Menurut hukum Kamboja, kedua orang tersebut harus bertanggung jawab atas tindakan mereka dan akan diadili. Setelah menjalani hukuman, mereka baru kemudian akan dideportasi.
Polisi Kamboja akan mengadili dan memproses mereka dengan tuduhan "menghasut diskriminasi", "memberikan laporan palsu", dan "mengganggu pelaksanaan fungsi publik secara ilegal".
Tindakan kedua orang tersebut sangat memalukan. Banyak netizen Taiwan berkumpul di laman Facebook Cambodia China Times mengutuk keras perbuatan mereka.
"Apakah akan ada hukuman mati? Saya sangat menantikannya. Kementerian Luar Negeri Taiwan dan Presiden Taiwan, tidak bisa membantu. Jika ada satu, maka akan ada yang kedua, harus dihukum berat. Setiap negara tidak ingin difitnah, memalukan orang Taiwan," tulis salah seorang netizen.
"Jjika mereka berani membuat rumor, maka biarkan mereka merasakan pengalaman yang lebih lama di sana. Bisakah mereka ditahan seumur hidup? Lebih dihukum berat, daripada dikirim kembali ke Taiwan," tambah netizen berikutnya.