(Taiwan, ROC) --- Sektor kapal pesiar internasional yang pernah terdampak parah akibat pandemi COVID-19, kini secara bertahap pulih. Jumlah kapal pesiar yang berlabuh di Taiwan tahun lalu telah kembali ke taraf 50% dari jumlah sebelum pandemi. Dengan datangnya tahun Naga, Kementerian Perhubungan (MOTC) akan lebih proaktif membentuk tim nasional, bahkan bekerja sama dengan negara-negara tetangga untuk membentuk tim Asia. MOTC terus berupaya menarik minat operator kapal pesiar global untuk membuka rute jelajah pulau di Benua Asia.
Pada tahun 2019, kedatangan kapal pesiar internasional di Taiwan mencapai puncaknya, dengan rekor 671 kali berlabuh dan 1,05 juta perjalanan. Seiring dengan membaiknya kondisi pandemi COVID-19, jumlah kapal pesiar internasional yang berlabuh di Taiwan tahun lalu mencapai 327 kali, dengan 546.800 perjalanan.
Kapal pesiar "World One" memperkenalkan model perjalanan yang menghubungkan dua pelabuhan induk, yakni Kaohsiung hingga Hong Kong, membawa banyak wisatawan internasional dari Hong Kong, yang juga membuat jumlah perjalanan wisatawan asing melonjak mencapai 140.000. Angka ini kembali ke taraf 90% dari jumlah sebelum era pandemi COVID-19.
Oleh karena itu, tahun ini selain "World One", kapal pesiar "Glory" dari MSC Cruises juga meluncurkan rute ganda yang menghubungkan Keelung-Okinawa. Semenjak bulan Januari hingga Maret, pelayaran perdana kapal pesiar di atas berhasil menarik lebih dari 2.000 wisatawan Jepang ke Taiwan.
Selain itu, tahun ini beberapa kapal pesiar dunia juga akan berkunjung ke Taiwan untuk pertama kalinya, sebut saja Crystal Cruises dan Victoria Cruises. Diprediksi tahun ini akan ada 477 kapal pesiar yang akan berlabuh di Taiwan, dengan jumlah perjalanan diperkirakan kembali ke angka 868.000, di mana jumlah wisatawan asing diharapkan dapat kembali ke angka sebelum era pandemi, yaitu 160.000.
Untuk mencapai masa kejayaan seperti era sebelum pandemi, maka MOTC meminta Biro Pelabuhan Maritim, Ditjen Pariwisata, dan Perusahaan Pelabuhan Taiwan untuk terus memperkuat pemasaran internasional, serta meningkatkan fasilitas perjalanan pelabuhan secara keseluruhan, dan meningkatkan insentif untuk kapal pesiar yang berlabuh di Taiwan.
Langkah ini diharapkan dapat menarik lebih banyak kapal pesiar untuk berlabuh di Taiwan.
Biro Pelabuhan Maritim juga akan memperkuat berbagai upaya untuk meningkatkan prestasi yang ada, misal dengan mengundang pemerintah daerah, komunitas pariwisata, dan agen perjalanan untuk membentuk tim nasional industri kapal pesiar. Di samping itu, juga akan menggelar kerja sama dengan Jepang, Korea Selatan, dan Filipina, serta unit pengembangan industri kapal pesiar internasional lainnya untuk membentuk tim Asia.
Direktur Biro Pelabuhan Maritim, Ya Xie-long (葉協隆), mengatakan, "Taiwan sebenarnya adalah pusat dari keseluruhan rantai pulau di Asia, ke utara dapat terhubung ke Jepang dan Korea Selatan, ke selatan dapat terhubung ke Filipina, Singapura, dan Malaysia. Sebenarnya, negara-negara Eropa dan Amerika sangat tertarik dengan perjalanan ke pulau-pulau ini, karena rute kapal pesiar yang ada saat ini sebenarnya tidak memberi kesempatan kepada para pelancong kapal pesiar untuk benar-benar mengunjungi tempat tersembunyi. Jadi, kami menggunakan pendekatan tim nasional untuk menarik minat operator kapal pesiar untuk membuka rute perjalanan dengan tujuan pulau-pulau di Asia. Dengan demikian diharapkan dapat membuka pasar baru yang lebih luas!"
Faktanya, dalam pertemuan "Asia Archipelago Cruise Alliance (AACA)" yang baru saja diadakan oleh Biro Pelabuhan Maritim, telah berhasil menarik perwakilan dari tujuh operator kapal pesiar internasional utama, termasuk Royal Caribbean International, Princess Cruises, Holland America Line, World One, Sun Flower, Coral Princess, dan Scenic Cruises, yang diharapkan dapat memberikan dorongan baru bagi pasar pariwisata kapal pesiar di Taiwan.