(Taiwan, ROC) -- Untuk menciptakan masyarakat sosial yang beragam dan inklusif serta lingkungan pariwisata yang ramah, ruang ibadah Muslim (musala) telah didirikan di berbagai tempat di seluruh Taiwan. Contohnya adalah di Pelabuhan Ikan Xiaguzi, New Taipei, di mana gudang peralatan penangkapan ikan yang baru secara resmi telah dibuka pada bulan April tahun lalu dan memiliki musala di dalamnya. Namun, beberapa ABK Indonesia menyampaikan, bahwa ruang musala tersebut ditutup setelah upacara pembukaan. Mereka ingin tahu, kapan mereka dapat menggunakan ruang Ibadah tersebut. Melihat bulan puasa Ramadhan segera tiba, mereka berharap agar musala tersebut dapat dibuka untuk umum sesegera mungkin.
Ghani, seorang ABK Indonesia yang telah berada di Taiwan selama 1 tahun dan 4 bulan mengutarakan, bahwa Pelabuhan Ikan Xiaguzi menggelar acara pembukaan gudang peralatan penangkapan ikan yang baru bulan April tahun lalu. Salah satu ruangan yang ada adalah musala dan para nelayan sangat senang melihatnya di kala itu dan ada orang yang meminta mereka untuk mengucapkan terima kasih kepada perwakilan pemerintah. Tak disangka, musala tersebut hanya dibuka selama sehari. Sejak kapal di mana ia bekerja berlabuh di dekat musala, dalam 10 bulan terakhir ada banyak orang yang bertanya kepadanya, “apakah musala tersebut dibuka? Mengapa tidak dibuka?” Dan ia pun hanya dapat menyampaikan, “musala tersebut terus ditutup, apa yang bisa saya perbuat?” Ia pun bertanya kepada anak majikannya, tapi jawabannya, adalah “tidak tahu.” Menurutnya, majikan memiliki kunci gudang di sebelah musala tersebut, tapi musala ini tidak ada kuncinya dan ia berharap agar musala tersebut dapat digunakan saat Ramadhan tiba.
Pengawas pekerja sosial dari Rerum Novarum Center, Li Zheng-xin (李正新) menyampaikan, bahwa selain Pelabuhan Ikan Xiaguzi, juga ada musala di Pelabuhan Ikan Houcuo dan Pelabuhan Ikan Daner (Fisherman Wharf Tamsui), yang keduanya dikelola oleh Asosiasi Nelayan Distrik Tamsui. Musala di kedua pelabuhan tersebut baru dan kini dirawat dan dikelola oleh para pekerja migran. Ia pun menyampaikan, bahwa keduanya tidak dikunci, hanya menggunakan pintu bergulir listrik untuk naik dan turun. Ia pun menyampaikan, bahwa para pekerja migran tersebut merawatnya dengan baik dan bersih karena tempat tersebut merupakan tempat di mana ada Tuhan dan keimanan, sehingga kecil kemungkinan untuk membuat kekacauan.
Berdasarkan pantauan Li Zheng-xin, nelayan Indonesia tidak hanya merupakan Muslim yang taat, tapi juga mau menjaga musala bersih dan merawat lingkungan sekitar. Hal ini sejatinya turut membantu mempercantik pemandangan. Beberapa pekerja migran juga menyampaikan, ketika jiwa mereka mendapatkan makanan, kebiasaan buruk minum-minum juga berkurang, sehingga kekacauan juga berkurang. Ia pun berharap unit yang relevan dapat membuka ruang ibadah secepatnya dan tidak berkompromi dengan keinginan yang baik.