(Taiwan, ROC) -- Pada Rabu hari ini (31/1), Presiden Tsai Ing-wen (蔡英文) menulis surat kepada Paus Fransiskus merespons “Peringatan Hari Perdamaian Dunia 2024”. Dalam suratnya, Kepala Negara menyatakan bahwa ia setuju terhadap penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan perdamaian dan kesejahteraan umat manusia. Taiwan juga sangat memahami seruan yang ada, yakni Hak Asasi Manusia (HAM) tidak boleh ditentukan oleh algoritma. Oleh karena itu, Taiwan akan terus memimpin pengembangan AI dengan berdasar pada prinsip “hati yang berorientasi pada humanisme dan otak yang berfokus pada teknologi”, serta memperdalam kerja sama dengan Tahta Suci untuk menerapkan tata kelola teknologi yang lebih baik.
Dalam suratnya yang ditujukan kepada Paus Fransiskus, Presiden Tsai menyampaikan kesepakatan terhadap penekanan Paus dalam Peringatan Hari Perdamaian Dunia 2024 tentang penggunaan AI untuk meningkatkan perdamaian dan kesejahteraan manusia. Beliau juga menyatakan bahwa dalam menghadapi perkembangan dan tantangan AI, Taiwan bersedia untuk bekerja sama dengan komunitas internasional dalam membangun masyarakat yang stabil.
Kepala Negara melanjutkan bahwa industri semikonduktor Taiwan berada di posisi terdepan dunia, yang mana hal ini serta-merta mendorong pengembangan teknologi canggih seperti AI. Di tengah gelombang AI yang melanda dunia, Taiwan akan terus berupaya menjadi mitra yang dapat diandalkan, efektif, dan aman bagi komunitas internasional.
Presiden Tsai menyatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, Taiwan telah berkomitmen untuk memperkuat sumber daya dan bakat yang dibutuhkan oleh seluruh penggiat sektor industri, dengan harapan mendorong kemajuan teknologi, peningkatan industri, dan transformasi digital. Ini juga bertujuan untuk mengatasi tantangan seperti kekurangan tenaga kerja, masyarakat yang menua, dan emisi nol karbon, sehingga memungkinkan Taiwan untuk terus memainkan peran kunci yang tak tergantikan dalam rantai pasokan global dan memberikan kontribusi konkret untuk kemakmuran dunia.
Presiden Tsai berpendapat, seperti yang sudah diperingatkan oleh Paus Fransiskus, bahwa dengan berkembangnya aplikasi kecerdasan buatan yang semakin meluas, membuat risiko moral seperti pelanggaran privasi, manipulasi data, dan pengawasan ilegal terus bermunculan. Hal ini tentu mendatangkan dampak serius pada kehidupan masyarakat demokrasi liberal.
Salah satu tantangan terberat yang dihadapi negara-negara demokratis seperti Taiwan adalah serangan informasi yang salah dan menyesatkan. Beliau menunjukkan sebagai anggota komunitas internasional yang bertanggung jawab, maka Taiwan telah berupaya untuk membangun mekanisme dalam mengidentifikasi informasi yang benar dan salah, serta meningkatkan kesadaran publik. Di samping itu, otoritas berwenang di Taiwan akan memperkuat solidaritas antar komunitas untuk melawan informasi yang salah dan menyesatkan secara efektif, serta berbagi pengalaman yang relevan dengan rekan-rekan internasional.
Dalam suratnya, Presiden Tsai juga menunjukkan bahwa untuk mengembangkan kebijakan kecerdasan buatan yang lebih komprehensif, Taiwan telah meluncurkan "Taiwan AI - Action Plan 2.0" sejak tahun 2023, yang menekankan pada etika dan peraturan hukum kecerdasan buatan, serta merumuskan hukum dasar terkait. Taiwan terus berharap untuk membangun lingkungan digital yang dapat dipercaya, melindungi hak-hak rakyat, yang mana sesuai dengan refleksi dan visi Paus Fransiskus tentang AI.
Presiden Tsai menyatakan, Taiwan sangat menyadari seruan Paus Fransiskus dalam pernyataannya bahwa HAM tidak boleh ditentukan oleh algoritma. Masa depan Taiwan akan dipimpin dengan “hati yang berorientasi pada humanisme dan otak yang berfokus pada teknologi”, terutama dalam sektor pengembangan kecerdasan buatan.
Taiwan akan berintegrasi dengan pihak-pihak yang memiliki prinsip serupa, dalam mengaplikasikan teknologi untuk meningkatkan kepercayaan sosial, melindungi demokrasi dan kebebasan, serta mengurangi dampak yang mungkin ditimbulkan oleh kecerdasan buatan. Taiwan juga berharap dapat memperdalam kerja sama dengan Tahta Suci di berbagai bidang, serta menerapkan tata kelola teknologi yang baik, menjaga stabilitas dan harmoni sosial, dan menciptakan masa depan yang damai untuk umat manusia.