(Taiwan, ROC) --- Pada tanggal 26 Januari 2024, Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang mengumumkan bahwa jumlah pekerja asing di Jepang telah mencapai angka sekitar 2,05 juta orang per Oktober 2023.
Angka di atas juga melewati ambang 2 juta untuk pertama kalinya, menyoroti ketergantungan Jepang yang semakin meningkat pada pekerja asing guna mengatasi kekurangan tenaga kerja setempat.
Lembaga riset Jepang juga menunjukkan bahwa pada tahun 2023, jumlah perusahaan yang tutup karena kekurangan tenaga kerja mencapai rekor tertinggi.
Media asing "Bloomberg News" mewartakan bahwa Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang mengungkapkan, jumlah pekerja asing di Negara Sakura mencapai 2,05 juta orang pada bulan Oktober 2023, atau dengan kata lain meningkat 12,4% dari tahun sebelumnya, dan mengalami pertumbuhan yang lebih pesat dari tahun-tahun sebelumnya.
Namun, jika dibandingkan dengan masa sebelum pandemi COVID-19, angka di atas menunjukkan pertumbuhan yang sedikit melambat.
Dengan terus menurunnya angka kelahiran, serta masalah penuaan masyarakat dan krisis pekerja lokal yang terus memburuk, membuat Negeri Sakura semakin bergantung pada tenaga kerja asing.

圖/太保
Populasi pekerja Jepang mencapai puncaknya pada tahun 1995 dan sejak itu terus mengalami penurunan.
Lembaga riset tenaga kerja Jepang, Recruit Works Institute, menunjukkan bahwa pada tahun 2040, Jepang mungkin akan menghadapi kekurangan tenaga kerja sebanyak 11 juta orang.
Usaha kecil dan menengah di Jepang merupakan salah satu kelompok yang paling terkena imbas dari krisis tenaga kerja.
Sebuah laporan dari Teikoku Databank, menunjukkan bahwa pada tahun 2023, ada 260 perusahaan di Jepang yang terpaksa tutup karena kekurangan tenaga kerja. Angka ini hampir dua kali lipat lebih banyak dari tahun sebelumnya, dan menciptakan rekor tertinggi baru.
Dari perusahaan yang tutup, 75% di antaranya adalah perusahaan kecil dengan jumlah karyawan kurang dari 10 orang. Industri konstruksi tercatat sebagai sektor dengan jumlah kebangkrutan terbanyak, yakni mencapai 91 kasus.

圖片來源:Shutterstock
Laporan Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang juga menunjukkan bahwa usaha kecil mungkin akan lebih bergantung pada pekerja migran asing. Dari 319.000 perusahaan yang mempekerjakan pekerja asing, 60% di antaranya adalah perusahaan kecil dengan jumlah karyawan kurang dari 30 orang.
Di antara berbagai industri, manufaktur adalah sektor yang mempekerjakan jumlah pekerja migran asing terbanyak, diikuti oleh sektor jasa dan ritel.
Jumlah pekerja asing di sektor konstruksi meningkat 24% dari tahun 2022, menjadikannya sektor dengan pertumbuhan terbesar di semua industri.
Hal ini juga sejalan dengan laporan berikutnya yang diterbitkan Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang, yang menempatkan industri konstruksi sebagai sektor kedua dengan kekurangan tenaga kerja terbesar, setelah perawatan kesehatan.
Photo by Josh Olalde on Unsplash
Hingga akhir tahun 2023, pekerja migran asing di Jepang masih didominasi oleh warga Vietnam. 51% pasar pekerja migran di Jepang berasal dari Vietnam, yang bekerja dengan menggunakan visa "Magang Teknis".
Jumlah pekerja migran dari negara-negara Asia Tenggara lainnya, seperti Indonesia, Myanmar, dan Nepal juga mengalami peningkatan, terutama dalam kategori pekerja non-teknis.
Hal ini menunjukkan bahwa Jepang masih menjadi tempat yang menarik bagi warga yang berasal dari negara-negara berkembang, meskipun nilai tukar mata uang Jepang, yakni Yen, terus melemah.
Di lain pihak, beberapa pekerja migran di Jepang pernah melaporkan bahwa mereka tidak menerima gaji atau mengalami beberapa bentuk perlakuan buruk. Pemerintah Jepang telah menyatakan akan merevisi peraturan ketenagakerjaan dengan harapan sistem yang lebih baik dapat menarik minat lebih banyak tenaga kerja asing.