(Taiwan, ROC) --- Konstipasi (susah atau jarang buang air besar), sudah menjadi penyakit peradaban modern saat ini.
Dokter bedah kolorektal di Taiwan, Jong Yun-ni (鍾雲霓) menunjukkan bahwa meskipun banyak pihak tahu bahwa serat dari buah dan sayuran dapat membantu buang air besar, tetapi beberapa orang masih bertanya-tanya mengapa mereka masih mengalami konstipasi meskipun "sering makan sayur".
Menurut Jong Yun-ni, Anda dapat "mengamati tinja" untuk mengetahui apakah perlu menambahkan sayuran atau buah. Jika sulit untuk mengonsumsi jumlah sayuran yang cukup, maka memilih sayuran berwarna gelap adalah cara terbaik untuk meningkatkan nilai gizi.
Melalui akun di laman Facebook, Jong Yun-ni menjelaskan bahwa frekuensi BAB normal adalah sekali setiap tiga hari atau tiga kali sehari, selama Anda bisa selesai dalam 5-7 menit setelah duduk di toilet, itu bukan dianggap konstipasi.

示意圖/Pixabay
Sebaliknya, jika Anda harus "menunggu" di toilet setiap hari dan setiap BAB membutuhkan waktu lebih dari 5-7 menit, dengan usaha hingga wajah memerah dan leher membesar baru bisa BAB, maka itu adalah tanda konstipasi.
"Saya sudah makan sayur, mengapa masih susah BAB?", ini adalah pertanyaan yang sering dilontarkan banyak manusia modern saat ini.
Jong Yun-ni menerangkan bahwa baik pria dengan berat badan seratus kilogram maupun wanita bertubuh kecil, tetap memerlukan jumlah serat yang hampir sama untuk merangsang usus.
Karena pengaruh hormon, wanita terkadang bahkan membutuhkan lebih banyak serat. Jika jumlah sayuran yang dikonsumsi tidak cukup, maka pilihlah sayuran dengan kandungan serat yang tinggi, seperti bayam dan daun ubi jalar, yang lebih baik daripada sayuran berwarna terang seperti sawi putih atau kubis.
Jong Yun-ni melanjutkan, serat tidak larut dalam air yang terdapat pada sayuran hijau membantu pembentukan kerangka feses yang lembut, sedangkan serat larut dalam air dari buah membantu melumasi dan memudahkan gerakan feses, sehingga perbandingan sayuran dan buah yang ideal adalah 2:1.
Dia menambahkan, ketika feses terlihat seperti kotoran kambing, yakni kering dan keras, bahkan menyebabkan luka dan fisura anal, maka itu biasanya disebabkan kekurangan serat larut air dari buah.
Sementara itu, jika tinja terlalu encer atau lembek, dan membutuhkan usaha penuh untuk dikeluarkan, maka umumnya disebabkan kekurangan serat dari sayuran.

示意圖/Pixabay
Banyak netizen yang kemudian merekomendasikan untuk mengonsumsi pisang, buah naga, jus kurma hitam dan yogurt untuk mengatasi konstipasi.
Jong Yun-ni melanjutkan, tiga makanan pertama (pisang, buah naga, jus kurma hitams ) seharusnya dikonsumsi secara rutin, bukan hanya ketika mengalami konstipasi. Sedangkan yogurt, jika menyebabkan diare setelah dikonsumsi, mungkin menunjukkan adanya intoleransi laktosa. Diare bisa memberikan dampak keras pada anus, menyebabkan rasa sakit setelah BAB, sehingga tidak disarankan untuk menggunakan metode radikal ini.
Selain itu, Jong Yun-ni mengingatkan bahwa menggunakan enema atau obat pencahar untuk situasi darurat dapat diterima, tetapi jika tergantung pada obat-obatan ini dalam jangka panjang bukanlah ide yang baik.
Bagi mereka yang benar-benar mengalami masalah buang air besar, dia menyarankan untuk pertama-tama mengonsumsi lebih banyak sayur dan buah. Jika itu tidak berhasil, pertimbangkan untuk menambahkan serat dalam bentuk bubuk ke dalam diet Anda. Atau, menggunakan obat pencahar ringan yang diresepkan dokter, dan menjadikan enema sebagai pilihan terakhir.