(Taiwan, ROC) - Asosiasi Hotline LGBT+ Taiwan pada 18 Januari mengumumkan "Laporan Kondisi Hidup Kelompok Transgender di Taiwan." Hasilnya menunjukkan, pemahaman masyarakat terhadap kaum transgender masih kurang. Sistem serta ruang kehidupan sehari-hari yang dibagi berdasarkan gender juga menyebabkan tekanan jangka panjang pada kesehatan mental dan fisik transgender. Mereka juga biasanya memiliki pengalaman kurang mengenakkan saat mencari pekerjaan maupun di tempat kerja, serta kesulitan mendapatkan layanan kesehatan, yang pada akhirnya memengaruhi hak kesehatan mereka.
Survei daring "Kondisi Hidup Kelompok Transgender di Taiwan" mencakup tiga aspek utama, termasuk kehidupan sehari-hari, pengalaman di tempat kerja, dan pengalaman dalam pelayanan kesehatan. Hasilnya menunjukkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, ruang dan sistem gender yang kaku secara signifikan memengaruhi transgender. Setengah dari responden mengungkapkan kekhawatiran mereka tentang kemungkinan ditanya-tanya atau diperhatikan, terutama saat mengunjungi tempat-tempat umum, seperti pemandian air panas, kolam renang, dan toilet umum.
Selain itu, 40% dari responden menyampaikan, mereka sering merasa cemas ketika orang asing menggunakan sebutan gender sesuai dengan jenis kelamin awal mereka. Selain itu, banyak yang merasa terganggu saat harus menunjukkan kartu identitas dalam situasi umum, seperti kunjungan ke kantor pemerintah, melakukan transaksi di bank, memberikan suara, mengambil barang di minimarket, atau saat ada pemeriksaan polisi.
Bahkan, beberapa responden mengatakan, mereka tidak pernah mengambil masker medis saat pemerintah mengeluarkan kebijakan penjualan masker berbasis identitas selama pandemi COVID-19 untuk menghindari menunjukkan identifikasi mereka.
Survei juga menunjukkan, transgender umumnya memiliki pengalaman kurang menyenangkan terkait gender mereka saat bekerja atau mencari pekerjaan. Meskipun 58% dari mereka merasa bahwa lingkungan kerja menerima kelompok transgender, sekitar setengah dari responden merasa sulit untuk menjelaskan identitas transgender mereka kepada atasan atau rekan kerja. Selain itu, 17% dari responden mengungkapkan bahwa mereka pernah ditolak dalam proses mencari pekerjaan karena identitas transgender mereka, dan 13% pernah mengalami perlakuan diskriminatif dari atasan atau rekan kerja karena identitas transgender mereka.
Terkait dengan pengalaman dalam pelayanan kesehatan, meskipun hampir 60% dari responden setuju bahwa petugas kesehatan bersikap bersahabat terhadap identitas transgender mereka, masih ada sebagian yang mengalami kesulitan karena faktor gender, seperti dipanggil dengan sebutan gender aslinya, dipertanyakan identitasnya, atau bahkan merasa diperlakukan secara tidak biasa selama proses berobat.
Selain itu, survei juga menemukan bahwa dukungan dari keluarga dan teman sangat penting bagi transgender. Dukungan positif dari keluarga dan teman dapat mengurangi kecemasan dan tekanan transgender dalam menghadapi berbagai situasi, serta meningkatkan ketahanan mental dan kemampuan adaptasi mereka.
Asosiasi Hotline LGBT+ Taiwan mengusulkan lima rekomendasi, termasuk meningkatkan pendidikan kesetaraan gender, menambahkan ruang-ruang ramah gender, menciptakan lingkungan kerja yang ramah transgender, dan mendirikan pelayanan kesehatan yang ramah transgender. Pemerintah juga harus menurunkan hambatan hukum bagi transgender untuk mengubah jenis kelaminnya.

(foto: Canva)