(Taiwan, ROC) Ketika Presiden Indonesia tengah berkunjung ke Filipina, bertemu dengan Presiden Filipina Marcos Jr beberapa hari yang lalu. Warga Filipina Mary Jane Veloso, 14 tahun yang lalu dijatuhi hukuman mati karena membawa narkoba masuk ke Indonesia, orang tua mengajukan surat permohonan pengampunan
Mary Jane Veloso ditangkap di Indonesia pada tahun 2010 karena membawa koper berisi heroin. Veloso bersaksi bahwa dia direkrut untuk bekerja sebagai pekerja rumah tangga di Indonesia dan tidak mengetahui bahwa narkoba disembunyikan di dalam koper yang diberikan kepadanya oleh perekrut.
Kasus Mary Jane Veloso menarik perhatian umum, beranggapan dia adalah korban perdagangan manusia.
Awalnya dijadwalkan akan dieksekusi pada tahun 2015, kemudian hukuman eksekusinya ditangguhkan. Sementara pertemuan Presiden Indonesia Joko Widodo melakukan pembicaraan bilateral dengan Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr berlangsung pada tanggal 9-11 Januari 2024.
Keluarga Mary Jane Veloso, ayah(Cesar), ibu (Celia) dan 2 putranya ( Mark Danielle Candelaria dan Mark Darren Candelaria) berada di sekitar Istana Kepresidenan Filipina, bermaksud memberikan surat permohonan berharap agar Presiden Filipina bisa membantu dan menegakkan keadilan bagi putrinya, karena putrinya hanya seorang korban perdagangan manusia.

Presiden dari Migrante International, Joanna Concepcion menyampaikan Mary Jane Veloso adaalah seorang pekerja di luar negeri, salah satu kakaknya juga bekerja di Timur Tengah sebagai asisten rumah tangga. “Pihaknya bersikeras bahwa ia adalah korban perdagangan manusia, semestinya diampunin dan segera dibebaskan agar dapat berkumpul kembali dengan keluarganya.”
Joanna Concepcion mengatakan, “dia tidak melakukan pelanggaran dan dikurung di penjara di Indonesia, sangat tidak adil baginya sebagai korban perdagangan manusia.
Dia menunjukkan bahwa Indonesia sebentar lagi akan mengadakan pemilu, sebentar lagi Jokowi akan selesai menjabat. “Pihaknya mengetahui bahwa hukuman terhadap kasus penyelundupan narkoba di Indonesia sangat berat, namun sangat mengkhawatirkan kedepan siapa yang menjadi presiden Indonesia berikutnya dan bagaimana pandangannya terhadap kasus Mary Jane.”
Wakil Menteri Luar Negeri Filipina Maria Theresa Lazaro mengeluarkan pernyataan bahwa pemerintah Filipina akan terus melakukan yang terbaik untuk membantu Mary Jane Veloso dan keluarganya. "Presiden Marcos Jr. berharap perkembangan kasus Ms. Veloso bisa mendapat pengampunan pada waktunya."
