(Taiwan, ROC) -- Kandidat yang diunggulkan dari partai berkuasa Partai Progresif Demokratik (DPP) untuk calon presiden Lai Ching-te, calon wakil presiden Hsiao Bi-khim hari ini (9/1) mengelar press konferensi internasional, hubungan antar selat Taiwan menjadi fokus perhatian media asing. Lai Ching-te ketika menjawab pertanyaan menyampaikan, apabila dia terpilih menjadi presiden, Tiongkok mungkin harus meninjau kembali kebijakannya terhadap Taiwan, oleh karena itu terpilihnya dia nanti akan membantu tata letak baru bagi kawasan Indo Pasifik, agar dengan tata letak baru dapat mengembangkan perdamaian kawasan dan menstabilkan status quo selat Taiwan.
Pers konferensi yang dihadiri 217 orang dari 128 media berasal dari 28 negara, di antaranya media dari Amerika Serikat dan Jepang yang datang paling banyak, masing-masing mendatangkan 50 orang dari sekitar 20 media.
Pemilihan umum untuk presiden dan wakil presiden di Taiwan hanya tinggal 4 hari lagi, masing-masing kamp partai berupaya keras untuk mencari dukungan suara dari masyarakat, kandidat pasangan calon presiden dan wakil presiden dari DPP mengelar pers konferensi internasional pra pemilu mengundang media asing seperti dari Jepang, Amerika Serikat, Korea, Swedia, Denmark, Prancis, Italia, Australia, Irlandia, Ceko, Luksemberg, Turki, Brasil, Qatar, Uni Emirat Arab dan lainnya.
Lai Ching-te dalam pidato berbahasa Inggris menyampaikan pemilu kali ini tidak saja untuk memilih pemimpin negara dan memutuskan arahan yang akan diambil negara, melainkan juga untuk memenuhi janji Taiwan akan demokrasi pada dunia. Lai Ching-te berharap media dari masing-masing negara dapat melihat vitalitas dari demokrasi Taiwan serta tekad dari masyarakat Taiwan terhadap demokrasi, bersikeras untuk berada di garis terdepan dalam menjaga dan memperkokoh kestabilan perdamaian selat Taiwan.
Lai Ching-te juga menegaskan bahwa ia memiliki cita-cita bagi perdamaian tetapi tidak berilusi, ia akan terus mempertahankan situasi antar selat Taiwan sekarang ini, menyatukan masyarakat dengan berlandaskan kerangka Republik Tiongkok, bersedia membuka pintu pertukaran dan kerja sama dengan pemerintah Beijing berdasarkan asas timbal balik dan semartabat dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kedua belah selat Taiwan.
Lai Ching-te juga mengemukakan, pengembangan perdamaian merupakan tanggung jawab bersama dari kedua belah pihak antar selat Taiwan, dialog pertukaran dapat membantu meminimalkan risiko, setelah ia terpilih, Taiwan tidak akan merubah keinginannya untuk bekerja sama dengan antar selat dengan berlandaskan perdamaian, kesejahteraan bersama dan perdamaian serta sikap bersahabat, juga mengharapkan Tiongkok dapat memaklumi trend perubahan tata letak internasional, kembali kepada jalur internasional, bersama-sama berperan penting dalam menstabilkan perdamaian Indo Pasifik.