(Taiwan, ROC) --- "Kafein dalam kopi terlalu tinggi, lebih baik minum teh!" demikian perkataan yang sering kita dengar di masyarakat.
Dokter kandungan dan kebidanan di Taiwan, Tsai Feng-bo (蔡鋒博), mengingatkan bahwa banyak orang berpikir bahwa teh mengandung kafein lebih rendah, lalu memilih untuk beralih dari kopi ke teh. Dia menekankan ibu hamil yang mengonsumsi lebih dari 150 miligram kafein per hari, maka harus waspada terhadap risiko kelahiran bayi prematur.

圖/健康2.0
Manfaat Antioksidan Kopi Banyak, Anak-anak dan Wanita Hamil Sebaiknya Tidak Minum
Tsai Feng-bo menyatakan, dewasa ini, banyak media kesehatan sering memuji manfaat antioksidan dari kopi. Dan tidak sedikit dari media bersangkutan menyertakan beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa kopi dapat menurunkan risiko kanker hati, serta melindungi kardiovaskular, atau mengurangi insiden penyakit Parkinson.
Namun, selain tidak cocok untuk anak-anak, ada satu kelompok lagi yang tidak disarankan untuk minum kopi, yaitu ibu hamil. Hal ini karena kafein yang dikonsumsi oleh ibu hamil akan diserap melalui plasenta dan dapat menyebabkan keguguran, kematian janin, kelahiran prematur, pertumbuhan janin yang tidak tepat, dan berat badan bayi yang rendah.
Pada tahun 2003, Organisasi Kesehatan Dunia dan Uni Eropa sempat merekomendasikan agar asupan kafein harian bagi ibu hamil kurang dari 300 miligram.
Negara-negara maju seperti Eropa menganggap bahwa asupan kafein bagi ibu hamil harus lebih hati-hati. Banyak negara melakukan penelitian terhadap hal ini. Salah satunya Studi Kohort Ibu dan Anak Nasional Norwegia, yang meneliti hampir 60.000 wanita hamil sehat, menunjukkan bahwa asupan kafein harian mereka berkisar dari 0 hingga 254 miligram.
Dalam laporan tahun 2013 menyatakan bahwa kafein memiliki keterkaitan erat dengan berat bayi lahir yang rendah, dengan setiap penambahan 100 miligram kafein berkorelasi dengan penurunan berat badan bayi yang baru lahir sekitar 21-28 gram. Dan asupan lebih dari 200 miligram, akan meningkatkan risiko pertumbuhan janin yang buruk sebesar 1,27 hingga 1,62 kali.

圖/聯合報
Menurut survei di Inggris, ditemukan bahwa asupan kafein sehari-hari yang hanya berkisar 100 miligram pun bisa berpengaruh pada wanita hamil. Survei ini melibatkan 2.635 wanita hamil sehat di usia kehamilan 8-12 minggu.
Survei di atas juga secara lengkap mengikuti perawatan prenatal dan memiliki catatan medis rinci tentang proses persalinan para partisipan.
Selama kehamilan, mereka menjalani empat kali penilaian asupan kafein oleh petugas perawatan. Rata-rata asupan kafein sebelum kehamilan adalah 238 miligram, yang berkurang menjadi 139-153 miligram setelah hamil.
Hasilnya menunjukkan bahwa wanita hamil yang mengonsumsi 100-199 miligram kafein per hari memiliki risiko 1,2 kali lebih besar mengalami pertumbuhan janin terbatas, dibandingkan dengan mereka yang tidak mengonsumsi kafein.
Risiko meningkat menjadi 1,4 hingga 1,5 kali lebih tinggi jika asupan kafein lebih dari 200 miligram.
Kafein akan mengurangi berat badan bayi baru lahir sebanyak 60-70 gram, dan semakin banyak kafein yang dikonsumsi, maka semakin besar penurunan berat badan. Risiko ini ada pada semua tahap kehamilan.
Yang menarik, sumber kafein bagi wanita hamil dalam survei CARE Study di Inggris ini adalah teh sebanyak 62%, dan kopi hanya 14%. Peneliti menemukan bahwa banyak wanita hamil yang biasanya minum kopi akhirnya beralih ke teh, mengira kandungan kafein dalam teh lebih rendah dan tidak berdampak.

圖/今周刊
Tsai Feng-bo menyatakan bahwa penelitian di Jepang juga menemukan hal serupa. Dalam "Osaka Maternal and Child Health Study", yang menginvestigasi risiko kelahiran prematur akibat kafein dengan melibatkan 858 ibu dan bayi, ditemukan bahwa kisaran asupan kafein ibu hamil adalah 176-371 miligram.
Sumber utama kafein mereka adalah teh Jepang dan teh Tiongkok, yang mencakup 73,5%, sementara kopi hanya 14%.
Tsai Feng-bo adalah seorang dokter spesialis fertilitas buatan di Taiwan, yang utamanya merawat ibu hamil yang menjalani reproduksi buatan atau bayi tabung. Dia selalu sangat menyarankan para ibu hamil untuk menghindari mengonsumsi kopi saat menjalani prosedur reproduksi buatan, karena penelitian internasional menunjukkan bahwa asupan kafein lebih dari 150 miligram dapat meningkatkan risiko keguguran.
Kafein di sebagian besar kopi yang dijual di toko serba ada atau restoran cepat saji biasanya melebihi 150 miligram per cangkir, sehingga disarankan untuk tidak mengonsumsinya.
Sekarang, tidak hanya kopi yang harus dihindari, tetapi juga konsumsi teh perlu diperhatikan.