(Taiwan, ROC) -- Pandemi COVID-19 masih berlanjut, sementara varian baru JN.1 dengan cepat menyebar ke seluruh dunia sehingga menimbulkan kekhawatiran di berbagai negara.
Dalam wawancara sebelum menghadiri acara Direktorat Jenderal Asuransi Kesehatan Nasional pagi ini (19/12), Menteri Kesehatan Hsueh Jui-yuan (薛瑞元) mengatakan, JN.1 adalah keturunan dari BA.2.86, dengan tingkat keparahan yang tidak lebih tinggi. Virus ini tidak memiliki perbedaan khusus dibandingkan dengan varian lain. Kementerian Kesehatan akan terus memantau perkembangan selanjutnya dan akan menyesuaikan kebijakan pengendalian pandemi terkait secepatnya.
Juru Bicara Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Menular (CDC) Taiwan, Lo Yi-chun (羅一鈞) mengatakan, kasus JN.1 pertama kali terdeteksi di Taiwan pada 20 Oktober dari individu yang datang dari Jepang, sedangkan kasus lokal pertama terdeteksi pada 30 Oktober. Hingga saat ini, kasus yang terdeteksi masih sangat sedikit. Dalam laporan pandemi mingguan yang berlaku saat ini, varian JN.1 dimasukkan ke dalam statistik bersama dengan BA.2.86. Proporsi kasus lokal yang terinfeksi oleh JN.1 kurang dari 5%, dan proporsi kasus yang berasal dari luar negeri kurang dari 20%. Varian ini masih belum menjadi varian dominan, sementara Varian EG.5 dari XBB masih menjadi varian utama di Taiwan.
Lo Yi-chun mengungkapkan, saat ini cuaca menjadi lebih dingin sehingga aktivitas virus menjadi lebih kuat dan penyebarannya juga lebih cepat. Oleh karena itu, jumlah pasien yang mengalami infeksi saluran pernapasan di dalam negeri pasti akan meningkat. Ia juga mengimbau masyarakat untuk segera mendapatkan vaksin XBB, serta vaksin influenza dan pneumokokus, guna meningkatkan daya tahan tubuh.