History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Pembatasan Ketat Demam Babi Afrika Memengaruhi Wisatawan? Kementerian Pertanian: Salah Interpretasi

  • 19 December, 2023
  • 曾秀情
Pembatasan Ketat Demam Babi Afrika Memengaruhi Wisatawan? Kementerian Pertanian: Salah Interpretasi
Bandara International perketat pencegahan epidemi Asfivirus.

(Taiwan, ROC) -- Untuk mencegah demam babi Afrika, Taiwan mengimplementasikan pemeriksaan yang ketat di perbatasan. Jika Anda berasal dari negara-negara berisiko tinggi, barang bawaan tangan (hand carry) Anda akan 100% diperiksa. Jika ditemukan membawa daging yang dilarang, untuk pertama kali akan didenda NT$ 200.000. Jika melakukan pelanggaran lagi untuk yang kedua kali, maka denda yang dikenakan sebesar NT$ 1 juta. Beberapa orang mempertanyakan, dengan demikian akan membuat para turis enggan berkunjung ke Taiwan dan memperlambat industri pariwisata lokal.

Kementerian Pertanian menggelar konferensi pers pada hari ini (19/12) dan mengumumkan program “Melindungi Babi Taiwan, Kita telah Berhasil,” memperlihatkan hasil upaya Presiden Tsai Ing-wen (蔡英文) untuk mengembangkan industri peternakan saat dia menjabat. Mulai dari perencanaan dan secara sukses berhasil memberantas penyakit hewan untuk mempromosikan peningkatan peternakan babi serta sertifikasi rumah jagal HACCP, agar produk-produk ternak Taiwan dapat diekspor ke berbagai negara.

Penjabat Menteri Pertanian, Chen Junne-jih (陳駿季) menyampaikan, bahwa kontrol perbatasan telah menyebabkan jumlah turis berkurang merupakan sebuah kesalahan interpretasi berdasarkan informasi yang tidak lengkap. Lagipula, ada berbagai indikator pengamatan untuk jumlah turis yang datang ke Taiwan, tapi untuk mencegah penyakit demam babi Afrika kontrol perbatasan mengadopsi konsep resiko.

Chen Junne-jih mengatakan, “jika Anda datang dari area beresiko tinggi, kami 100% akan memeriksa koper kabin, efisiensi inspeksi juga akan meningkat dengan sangat cepat. Maka, kami sangat percaya bahwa pemeriksaan seperti itu dibutuhkan. Karena, bagaimanapun juga, selama ada sepotong daging yang masuk ke negara kami, dan sialnya masuk ke peternakan babi kita, maka tingkat penyebarannya akan sangat cepat, di mana bisa mengancam industri babi kita dengan nilai keluaran 170 juta.”

Chen Junne-jih menunjukkan bahwa Institut Penelitian Kesehatan Hewan (NVRI) dari Kementerian Pertanian pada tanggal 16 lalu untuk pertama kalinya mendeteksi 2 genotipe berbeda dari virus demam babi Afrika dalam produk daging babi yang dibawa oleh wisatawan asal Tiongkok. Salah satunya adalah virus tradisional genotipe demam babi Afrika yang telah hadir dan populer di Tiongkok sejak 2018. Satunya lagi merupakan virus rekombinan genetik baru, yang tidak hanya menyebar lebih cepat, tetapi juga memiliki tingkat kesakitan yang lebih tinggi. Wabah yang serius disebabkan oleh virus baru ini dilaporkan telah ada di Daratan Tiongkok. Jika menyebar ke negara-negara tetangga Asia lainnya, maka hal itu dapat menyebabkan gelombang demam babi Afrika lainnya.

Chen Junne-jih juga mengatakan, bahwa dalam proses pemeriksaan demam babi Afrika di masa lalu, sekitar 80% berasal dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan 20% produk yang dihentikan positif mengidap virus demam babi Afrika, menunjukkan bahwa RRT merupakan negara yang paling beresiko tinggi. Ia juga meminta orang-orang yang melakukan usaha di luar negeri ataupun pelajar yang kembali ke Taiwan dalam rangka perayaan Tahun Baru harus memperhatikan secara khusus dan jangan pernah membawa produk daging babi kembali ke Taiwan.

(Taiwan, ROC) -- Untuk mencegah demam babi Afrika, Taiwan mengimplementasikan pemeriksaan yang ketat di perbatasan. Jika Anda berasal dari negara-negara berisiko tinggi, barang bawaan tangan (hand carry) Anda akan 100% diperiksa. Jika ditemukan membawa daging yang dilarang, untuk pertama kali akan didenda NT$ 200.000. Jika melakukan pelanggaran lagi untuk yang kedua kali, maka denda yang dikenakan sebesar NT$ 1 juta. Beberapa orang mempertanyakan, dengan demikian akan membuat para turis enggan berkunjung ke Taiwan dan memperlambat industri pariwisata lokal.

Kementerian Pertanian menggelar konferensi pers pada hari ini (19/12) dan mengumumkan program “Melindungi Babi Taiwan, Kita telah Berhasil,” memperlihatkan hasil upaya Presiden Tsai Ing-wen (蔡英文) untuk mengembangkan industri peternakan saat dia menjabat. Mulai dari perencanaan dan secara sukses berhasil memberantas penyakit hewan untuk mempromosikan peningkatan peternakan babi serta sertifikasi rumah jagal HACCP, agar produk-produk ternak Taiwan dapat diekspor ke berbagai negara.

Penjabat Menteri Pertanian, Chen Junne-jih (陳駿季) menyampaikan, bahwa kontrol perbatasan telah menyebabkan jumlah turis berkurang merupakan sebuah kesalahan interpretasi berdasarkan informasi yang tidak lengkap. Lagipula, ada berbagai indikator pengamatan untuk jumlah turis yang datang ke Taiwan, tapi untuk mencegah penyakit demam babi Afrika kontrol perbatasan mengadopsi konsep resiko.

Chen Junne-jih mengatakan, “jika Anda datang dari area beresiko tinggi, kami 100% akan memeriksa koper kabin, efisiensi inspeksi juga akan meningkat dengan sangat cepat. Maka, kami sangat percaya bahwa pemeriksaan seperti itu dibutuhkan. Karena, bagaimanapun juga, selama ada sepotong daging yang masuk ke negara kami, dan sialnya masuk ke peternakan babi kita, maka tingkat penyebarannya akan sangat cepat, di mana bisa mengancam industri babi kita dengan nilai keluaran 170 juta.”

Chen Junne-jih menunjukkan bahwa Institut Penelitian Kesehatan Hewan (NVRI) dari Kementerian Pertanian pada tanggal 16 lalu untuk pertama kalinya mendeteksi 2 genotipe berbeda dari virus demam babi Afrika dalam produk daging babi yang dibawa oleh wisatawan asal Tiongkok. Salah satunya adalah virus tradisional genotipe demam babi Afrika yang telah hadir dan populer di Tiongkok sejak 2018. Satunya lagi merupakan virus rekombinan genetik baru, yang tidak hanya menyebar lebih cepat, tetapi juga memiliki tingkat kesakitan yang lebih tinggi. Wabah yang serius disebabkan oleh virus baru ini dilaporkan telah ada di Daratan Tiongkok. Jika menyebar ke negara-negara tetangga Asia lainnya, maka hal itu dapat menyebabkan gelombang demam babi Afrika lainnya.

Chen Junne-jih juga mengatakan, bahwa dalam proses pemeriksaan demam babi Afrika di masa lalu, sekitar 80% berasal dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan 20% produk yang dihentikan positif mengidap virus demam babi Afrika, menunjukkan bahwa RRT merupakan negara yang paling beresiko tinggi. Ia juga meminta orang-orang yang melakukan usaha di luar negeri ataupun pelajar yang kembali ke Taiwan dalam rangka perayaan Tahun Baru harus memperhatikan secara khusus dan jangan pernah membawa produk daging babi kembali ke Taiwan.

Komentar

Terbarumore