(Taiwan, ROC) --- Seorang siswa SMP di Taiwan menggambar sebuah karya lukisan yang diberi judul "帝王條款 baca: Dìwáng tiáokuǎn". Secara harfiah, "帝王條款" dapat diartikan "Klausul Kekaisaran".
Karya lukisan ini berhasil memenangkan penghargaan teratas dalam kategori komik pada sebuah kompetisi seni siswa skala nasional. Tidak sampai di situ, karya ini juga berhasil memicu perdebatan para netizen Taiwan, dan terus dibahas oleh banyak pihak di berbagai platform media sosial.
Karya lukisan ini telah memicu ketidakpuasan dari kelompok hak pejalan kaki dan selebgram Taiwan, Cheap, yang mengecamnya sebagai "diskriminasi terang-terangan".
Gambar "帝王條款 baca: Dìwáng tiáokuǎn" yang memicu perdebatan panas di Taiwan
Lukisan ini adalah karya dari seorang siswa SMP di Taoyuan. Dalam lukisan bersangkutan tergambar seorang kaisar yang tengah berjalan di atas zebra cross. Kaisar tersebut terlihat tengah menyeberang jalan sembari membawa hewan kura-kura di sampingnya.
Gambar sang kaisar yang tengah bersanding dengan kura-kura dianggap sebagai metafora dari pejalan kaki yang menyeberang jalan dengan sangat lambat, tanpa memperhatikan/memedulikan keadaan di sekelilingnya.
Ekspresi sang kaisar yang tengah menutup mata terkesan angkuh, seakan-akan tidak mau tahu, merasa bahwa seluruh kendaraan harus berhenti dan memberinya kesempatan untuk menyeberang hingga tuntas.
Dalam gambar tersebut juga terlihat beberapa kendaraan yang berhenti dan membunyikan klaksonnya, tetapi sang kaisar tetap menutup mata berjalan di atas zebra cross bersama dengan kura-kura lambatnya.
Sang siswa menjelaskan bahwa inspirasi karyanya berasal dari pemberitaan yang menyebut Taiwan sebagai "neraka bagi pejalan kaki". Di samping itu, sang siswa juga termotivasi dari undang-undang yang dibuat pemerintah untuk melindungi hak pejalan kaki, lalu menuangkan imajinasinya melalui kuas gambarnya.
Sang siswa kemudian berpendapat bahwa dalam kehidupan bermasyarakat, setiap orang harus saling menghormati. Pengendara kendaraan bermotor harus menghargai pejalan kaki, dan juga sebaliknya. Pejalan kaki harus menyeberang jalan dengan sigap dan tidak seharusnya malah (sengaja) berjalan dengan sombong (lambat) seperti sang kaisar, di saat semua pengguna jalan lainnya tengah berhenti mempersilakannya menyeberang.
Karya yang berhasil memenangkan penghargaan ini ternyata menimbulkan kritik dari banyak orang. Selebgram Taiwan, Cheap, mengunggah sebuah postingan, "Pejalan kaki di Taiwan sudah cukup dirugikan, dan sekarang mereka masih harus diolok-olok seperti ini. Apakah sistem pendidikan kita bermasalah? Ini benar-benar menyedihkan."
Cheap berpendapat bahwa tidak semua pejalan kaki yang berlaku layaknya sang kaisar yang terkesan sengaja melambatkan langkahnya ketika menyeberang di zebra cross. Fenomena ini seakan-akan membesar-besarkan perilaku segelintir oknum yang tidak bertanggung jawab.

Selebgram Taiwan, Cheap, yang memiliki nama asli Zheng Cai-wei (鄭才暐)
Pandangan Warganet Taiwan juga cukup beragam, beberapa pihak merasa kalau gambar ini hanya sekedar "mempertegas" hak pejalan kaki.
Sementara yang lain mengatakan bahwa gambar tersebut sangat bagus dan hanya merupakan sebuah ide, sehingga tidak perlu dianggap terlampau serius, semua orang harus berpikir logis saat membuka diskusi tentangnya.
Karya sang siswa SMA tersebut berhasil memicu perdebatan yang beragam, ada yang mendukung, ada juga yang kemudian menentang.
Netizen yang mendukung, berpendapat bahwa tujuan dari karya tersebut adalah untuk mengharapkan sikap saling menghormati antara pejalan kaki dan pengemudi kendaraan. Mereka percaya bahwa setiap orang memiliki hak untuk berpikir mandiri, dan bebas menuangkan aspirasi dalam bentuk karya seni.
Menanggapi perdebatan panas yang ditimbulkan dari karya ini, pihak sekolah terpaksa memutuskan untuk menghapus ucapan selamat yang sebelumnya telah diberikan kepada siswa pemenang. Selain itu, pihak sekolah juga telah merilis permintaan maaf mereka.
Mereka menekankan bahwa tujuan siswa adalah untuk menyampaikan pentingnya saling menghormati antar pengguna jalan. Pihak sekolah menyatakan bahwa siswa tersebut merasa sangat tertekan karena mendapat banyak kritik dari luar. Siswa bersangkutan telah diberikan bantuan konseling psikologi yang relevan.
Kepala sekolah juga telah memberikan tanggapannya, berharap agar semua orang dapat memahami bahwa anak tersebut hanya ingin menyampaikan pentingnya sikap saling menghormati.
Di lain pihak, para ahli berpendapat, dalam konsep keselamatan lalu lintas itu sendiri, yang terpenting bukanlah apakah pejalan kaki adalah sosok 'kaisar' atau tidak, melainkan mekanisme dan integrasi dari sistem transportasi itu sendiri.
Kunci utamanya adalah bagaimana meningkatkan keselamatan bagi seluruh pengguna jalan, termasuk pengendara dan pejalan kaki.