(Taiwan, ROC) --- Menonton film merupakan aktivitas hiburan yang cukup populer. John Tung Foundation (JTF) mengungkapkan bahwa terapi film terbukti dapat meningkatkan komunikasi, mengatasi hambatan dalam hubungan intim, serta membantu kesadaran diri, ekspresi diri, dan mengurangi perasaan kesepian. Namun, terapi ini juga berpotensi memicu efek imitasi negatif yang perlu diwaspadai.
Direktur JTF, Ye Ya-hsing (葉雅馨), menjelaskan bahwa sebuah artikel yang diterbitkan pada Maret tahun ini di situs web Positive Psychology Belanda, merangkum penelitian terkait terapi film (Movie and Cinema Therapy). Terapi film tersebut juga melibatkan empat tahap utama.

Tahap pertama adalah "identifikasi," dimana seseorang merasa terhubung dengan karakter dalam di film karena perilaku dan tujuan bersama, serta menyadari emosi dan perasaan karakter tersebut.
Tahap kedua adalah "ekspresi," di mana seseorang mungkin belajar dari pengalaman karakter. Tahap ketiga adalah "kesadaran diri," menginternalisasi pengalaman karakter dan membangun koneksi melalui pengalaman serupa. Terakhir adalah "generalisasi", membiarkan film mencerminkan pengalaman pribadi, sehingga tidak lagi merasa kesepian.
Ye Ya-hsing menyatakan bahwa artikel ini sangat bermanfaat, baik untuk profesional maupun non-profesional, karena film memungkinkan penonton dari berbagai budaya, identitas, dan usia untuk merasakan resonansi serta persepsi yang beragam di antara orang-orang yang tumbuh di era yang berbeda.
Di samping itu, nonton film dapat memberikan efek “ditemani atau menemani” dan mampu mengalihkan perhatian seseorang. Ye Ya-hsing memberikan contoh bahwa film-film yang menegangkan dan mendebarkan dapat mengalihkan emosi negatif, sedangkan film romantis membuat orang merindukan cinta dan melupakan ketidakbahagiaan dalam kehidupan nyata, sementara film tentang kesulitan hidup membuat orang menyadari dan menghargai kebahagiaan yang sudah mereka miliki.
Selain mengurangi stres, film juga membantu meningkatkan interaksi sosial dan mengatasi hambatan dalam hubungan intim.
Dokter psikiatri anak dan remaja di Rumah Sakit Jiwa Taoyuan, Chen Chih-tsai (陳質采) menyampaikan, meskipun film tidak dibuat dengan tujuan terapeutik, tetapi ia percaya kalau kisah hidup dan pengalaman yang ditampilkan dalam film dapat menjadi cermin dan bahan refleksi serta memberikan perspektif baru, dan menciptakan apa yang disebut penyembuhan. Hal ini akan menjadi sumber penting untuk promosi kesehatan mental seseorang.
Namun, Chen Chih-tsai juga mengingatkan bahwa, serial TV dengan detail bunuh diri yang terlalu realistis dapat membuat remaja menirunya. Oleh karena itu, ketika remaja mengalami masalah mental atau psikologis, penting bagi orang tua atau guru untuk memahami film apa yang mereka tonton, memberikan ruang diskusi untuk memahami dampak dan pengaruh film pada anak-anak dan remaja, serta menerapkan langkah-langkah yang mendukung perubahan positif.