(Taiwan, ROC) --- Isu perihal pembukaan pekerja migran India memicu perdebatan sengit. Pada hari Minggu kemarin (3/12), kelompok yang menentang penambahan pekerja migran menyampaikan tuntutan mereka.
Mereka berpendapat bahwa seharusnya ada langkah-langkah terkait yang dilakukan terlebih dahulu sebelum membahas tentang pembukaan perekrutan.
Menanggapi hal ini, Kementerian Ketenagakerjaan (MOL) menyatakan bahwa kedua pihak belum menandatangani perjanjian relevan, dan detail jumlah serta sektor industri yang terlibat masih perlu dibahas lebih lanjut.
Mengenai masalah pekerja migran yang hilang kontak (kaburan), MOL menyatakan akan terus bekerja sama dengan lintas kementerian untuk melakukan perbaikan.

Sumber Foto: TVBS News
Ucapan demi ucapan, penuh kemarahan hampir dilontarkan dalam aksi protes menentang pembukaan perizinan PMA asal India.
Taiwan dan India diberitakan akan menandatangani nota kesepahaman kerja sama, dengan harapan pekerja migran India dapat mengatasi masalah kekurangan tenaga kerja, yang mana ternyata memicu banyak suara penentangan.
Kelompok masyarakat yang menentang menjadi sangat marah karena tidak memiliki saluran untuk menyampaikan pendapat mereka.
Awalnya, kelompok yang menentang tersebut mengungkapkan pendapat mereka di platform publik pada pertengahan November lalu. Namun sayangnya platform tersebut ditutup menjelang pemilihan presiden tahun 2024 mendatang.
Lebih lanjut, mereka pun kemudian menyatakan pendapat mereka kepada pihak MOL, tetapi malah dianggap sebagai "perang kognitif". Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk turun ke jalan pada Minggu kemarin (3/12), untuk menyuarakan tuntutan mereka.
Sumber Foto: TVBS News
Saat ditemui pada Minggu kemarin, Ketua Koordinator menyampaikan, "Moratorium total pada penambahan negara sumber pekerja migran. Pemerintah mengatakan telah mengevaluasi selama tiga tahun, tetapi hingga saat ini laporan evaluasi belum diterbitkan. Saya berharap pemerintah memberikan penjelasan."
Kepala Manajemen Tenaga Kerja Lintas Negara, Biro Pengembangan Tenaga Kerja, Su Yu-kuo (蘇裕國) mengatakan, "Perihal pekerja migran India, saat ini belum menandatangani perjanjian, rinciannya masih menunggu konfirmasi."
Selain itu, saat ini ada sekitar 85.000 pekerja migran di Taiwan dengan status hilang kontak (kaburan), yang berarti bahwa 1 dari setiap 8,8 pekerja migran ada 1 yang berstatus hilang kontak.
Di antaranya, tingkat kaburan pekerja migran Vietnam bahkan mencapai 20%. MOL menyatakan bahwa situasi PMA kaburan saat ini telah menurun dan akan terus berupaya bekerja sama antar lintas kementerian untuk memperbaikinya.