(Taiwan, ROC) -- Institut Penelitian Ekonomi Taiwan (TIER) merilis "Laporan Investigasi Implementasi Kerja Jarak Jauh dan Hak-hak Buruh di Taiwan" pada 21 November. Laporan ini menemukan bahwa proporsi perusahaan yang mengizinkan karyawan mengajukan kerja jarak jauh meningkat dua kali lipat dibandingkan sebelum pandemi. Selain itu, semakin banyak perusahaan yang melihat kerja jarak jauh sebagai sebuah "fasilitas karyawan" yang kian penting, bahkan membantu menarik perhatian talenta-talenta utama.
TIER merilis "Laporan Investigasi Implementasi Kerja Jarak Jauh dan Hak-hak Buruh di Taiwan" setelah berhasil mengumpulkan lebih dari 2000 kuesioner dari pekerja dan lebih dari 500 perusahaan pada 21 November. Laporan tersebut menyimpulkan, jumlah perusahaan yang menerapkan kerja jarak jauh pada bulan Juli 2023 telah kembali ke tingkat sebelum pandemi. Meskipun demikian, proporsi perusahaan yang mengizinkan karyawan mengajukan kerja jarak jauh meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan periode sebelum pandemi.
Direktur Konfederasi Serikat Pekerja Taiwan (TCTU) Li Jia-yu (李佳育), juga menyatakan dukungannya. Menurutnya, generasi muda cenderung menyukai cara hidup yang lebih bebas dan beragam. Mereka menginginkan gaji yang stabil dan jam kerja yang fleksibel. Perkembangan ini pasti dianggap akan memengaruhi operasional dan kelangsungan perusahaan. Namun, perlindungan terkait seperti jam kerja, beban kerja, tekanan psikologis, lembur, penentuan kecelakaan kerja, bahkan hak offline dalam kerja jarak jauh, semuanya masih memerlukan dialog sosial dan penetapan pedoman oleh pemerintah.
Wakil Direktur Bank Tenaga Kerja IMC Chen Xiao-hua (陳曉華), juga menyoroti bahwa situasi kekurangan tenaga kerja dan kekurangan pekerjaan di Taiwan saat ini tidak menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang jelas. Selain memberikan kenaikan gaji, ia merekomendasikan agar perusahaan dapat menyediakan pola kerja yang lebih fleksibel atau mode kerja hibrida untuk menarik atau mempertahankan tenaga kerja berbakat.
