“Nenek bilang saya mencuri uangnya, memakai bajunya, pernah sekali dia melaporkan ke polisi”, “Nenek bisa memukul saya, saya bersabar, akan tetapi saya tidak suka, saya juga takut saya tidak bisa menahan diri dan balas memukul nenek.” “Kakek malam hari tidak tidur, rewel dan membuat keributan sampai tetangga juga terganggu.” “Kakek sudah pikun, sering marah-marah, berucap kata-kata kotor, semua dimarahi orang-orang di jalan, suster bahkan dokter juga dimarahi.” Beberapa uneg-uneg yang disampaikan oleh para perawat rumah tangga yang merawat orang demensia.
Diantara perawat ada yang sama sekali tidak mengenal penyakit demensia; ada yang tahu bahwa pekerjaannya adalah merawat orang tua akan tetapi tidak tahu bagaimana cara menghadapinya? Ada yang tahu cara menghadapinya akan tetapi meragukan karena kendala bahasa sehingga tidak mampu berkomunikasi dengan baik.
Ketua Pengurus One Forty Annie Huang (黃妤婷) menyampaikan, dari pengalaman beberapa tahun didapati, pekerja migran yang bertugas merawat orang jompo, salah satu kendala adalah penderita demensia, dilihat dari kondisi sekarang, penderita demensia yang diasuh pekerja migran semakin banyak, akan tetapi belum ada kelas pelatihan untuk perawatan demensia di Taiwan.
Tahun ini One-Forty melakukan survei dan wawancara di lapangan terkait dengan perawatan pekerja migran untuk penderita demensia, alhasil mendapati bahwa perawat demensia memiliki 3 hal utama yang menjadi tantangan bersama. Pertama, pemahaman terkait penyakit demensia yang masih kurang, bahkan tidak tahu apa yang dimaksud dengan penyakit demensia, meskipun telah mencari tahu di internet akan tetapi sulit untuk dipahami dengan baik.
Kedua, meskipun tahu apa yang dimaksud dengan demensia, akan tetapi tidak tahu bagaimana cara menghadapinya, padahal bertugas sebagai perawat semestinya harus mengetahui jelas dahulu baru dapat menanggapi dengan baik, pekerjaan perawatan bergantung sepenuhnya pada kemampuan bahasa, karena kurangnya bahasa menjadi kendala dalam melakukan tugas perawatan.
Ketiga, tekanan mental cukup tinggi, pola hidup penderita demensia yang tidak teratur, ditambah lagi sebagian pekerja migran rumah tangga juga harus mengerjakan pekerjaan rumah dalam waktu cukup panjang, karena mereka datang dari jauh, sering merasa kesepian, meskipun di sini memiliki teman-teman sekampung halaman, akan tetapi sulit memahami kesulitan pekerjaan masing-masing.